Oleh: Sundari Allawiyah, S.E.
(Guru dan Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Belakangan ini, fenomena bunuh diri di kalangan generasi muda kembali menjadi alarm keras. Seorang pria di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, ditemukan meninggal dunia pada hari Minggu (6/9/2026) dini hari setelah sebelumnya sempat mengunggah pesan perpisahan di media sosial miliknya. Kejadian serupa terjadi di Malang, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR berusia 19 tahun diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (10/09/2026) (kompas.id, 10/09/2026).
Hal yang lebih mengejutkan, layanan hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id antara 31 Juli 2025—31 Juli 2026, terdapat sebanyak 15.979 akses layanan. Sejumlah 3.036 di antaranya dilaporkan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Kelompok usia 21—30 tahun merupakan yang paling banyak menghubungi layanan tersebut. Hal ini menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.
Jika ditelisik, fenomena ini bukanlah hal yang baru, melainkan buah dari sistem sekuler kapitalistis yang melahirkan masyarakat individualis, seseorang yang mementingkan kebebasan diri sendiri. Akibatnya, seseorang berjuang sendiri tanpa ikatan akidah yang kukuh. Kesepian pun merajalela. Bahkan ada beberapa dari mereka yang memiliki harta, namun jiwanya kosong.
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi:
Pertama, krisis akidah di dalam keluarga. Sejak kecil mereka tidak mendapatkan bekal pendidikan agama di rumah. Akibatnya, mereka tumbuh tanpa keyakinan terhadap keberadaan Allah dan berputus asa terhadap rahmat dan pertolongan-Nya.
Kedua, pendidikan sekuler di sekolah. Kurikulum yang didapatkan di sekolah bukan berbasis Islam, melainkan kurikulum sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga mereka fokus mengejar prestasi yang bersifat materi dan mereka berpikir bagaimana mereka akan bekerja nantinya. Bahkan beban kurikulumnya memiliki muatan yang berat sehingga memberikan tekanan besar terhadap generasi. Di sisi lain, generasi tidak dididik untuk memiliki kemampuan bertahan (resilience) dalam menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan hidup.
Ketiga, pengaruh lingkungan yang liberal dan budaya toxic positivity serta flexing. Gaya hidup bebas sering membuat anak mengalami tekanan. Berbagai tuntutan dan gaya hidup yang tidak dapat terpenuhi, membuat sebagian generasi tidak mampu mengikuti standar yang sama sehingga muncul perilaku flexing. Misalnya, anak yang tidak memiliki iPhone tidak akan ditemani dan dirundung oleh temannya. Untuk mendapatkan HP tersebut mereka rela melakukan berbagai cara seperti pinjol, judol, dan lain-lain. Adapun generasi yang merasa kesepian karena tidak memiliki pacar, dan tidak ditemani temannya, sehingga frustrasi dan muncul niat bunuh diri.
Keempat, tekanan ini kemudian diperparah oleh kuatnya arus media sosial. Mereka melihat figur yang mereka ikuti mengakhiri hidupnya, sehingga mereka pun termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Tanpa melihat dampak yang ditimbulkan.
Begitulah potret yang dihadapi generasi sekarang dalam sistem sekularisme, yang mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi kehilangan pegangan hidup. Tanpa iman yang kukuh sebagai benteng, kesulitan terasa berat dan mereka diliputi keputusasaan.
Lalu, bagaimana Islam memberikan solusi agar generasi tidak terjerumus dalam keputusasaan?
Dalam Islam, bunuh diri adalah salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dan diazab di neraka. Allah Swt. tegas melarang perbuatan bunuh diri.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 29.
... وَلَا تَقْتُلُوٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)
Orang yang bunuh diri dianggap sebagai orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan menganggap Allah tidak ada untuk menolong dirinya. Inilah salah satu tindakan kufur sehingga konsekuensinya sangat berat.
Nabi saw. pernah menjelaskan hukum bunuh diri dalam Islam: "Siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu." (HR. Muttafaq 'alaih).
Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga, masyarakat, dan negara berdasarkan akidah. Jadi, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendiri dan merasa kesepian. Keluarga adalah tempat pertama kembali, masyarakat saling peduli dan mengingatkan, bukan saling menghakimi.
Khilafah memakai sistem Islam secara kafah, Khilafah juga menggunakan sistem pendidikan berbasis akidah serta sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan rakyat. Maka lahirlah individu yang kukuh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian.
Sudah saatnya kita menyadari, krisis kesehatan mental generasi muda bukan sekadar kurang healing, tetapi akibat dari sistem yang menjauhkan mereka dari Allah sebagai satu-satunya sumber ketenangan hakiki. Maka dari itu, bersegeralah kembali ke jalan Allah dengan menerapkan sistem Islam secara kafah.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi korban, melainkan sebagai muhasabah bersama agar tidak ada lagi generasi yang merasa kesepian hingga berputus asa dari rahmat Allah. Wallahu a'lam.[]


0 Komentar