Subscribe Us

SUNYI DI TENGAH RIUH: SEKULARISME GAGAL MENJAGA KEWARASAN GENERASI


Oleh: Syafitri Asmawati, S.Pd. 
(Pegiat Literasi)


Vivisualiterasi.com - Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mencoba melompat dari gedung fakultas pada 11 September 2026. Diduga karena masalah asmara. Syukurnya ia selamat, tetapi kabar ini menambah daftar panjang tragedi yang tidak boleh dianggap sepele.

Kasus bunuh diri di kalangan pelajar kini bukan lagi soal perundungan semata, melainkan soal kepribadian yang rapuh dan kesepian yang akut. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren mengerikan: 1.332 kasus pada 2023, naik menjadi 1.403 pada 2024, melonjak lagi menjadi 1.503 pada 2025. Sepanjang 1 Januari hingga 9 September 2026 saja sudah tercatat 1.078 kasus, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus per bulan. Puncaknya pada Agustus 2026 dengan 148 kasus dalam sebulan.

Angka resmi ini kemungkinan besar hanya puncak gunung es. Layanan hotline pencegahan bunuh diri Kemenkes, Healing 119, mencatat ledakan pengakses hingga 500—600 orang per shift. Mirisnya, pengakses termuda berusia 8 tahun. Keluhan terbanyak yang masuk bukanlah soal ekonomi, melainkan satu kata: kesepian.

Fenomena ini bukan khas Indonesia saja. WHO mencatat bunuh diri sebagai penyebab kematian keempat tertinggi pada usia 15—29 tahun secara global. Artinya kita sedang menghadapi krisis generasi lintas negara yang menganut sistem hidup yang sama: sekuler-kapitalis. Ketika anak usia 8 tahun sudah menghubungi hotline bunuh diri, kita harus bertanya: sistem apa yang telah meracuni pikiran sejernih itu hingga ingin mengakhiri hidup sebelum sempat memahami arti hidup?

Akar Masalah: Tuhan Dipisahkan, Manusia Diadu

Data di atas bukan sekadar statistik kesehatan, ini adalah alarm kegagalan sistem. Persoalannya berakar pada sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam sistem ini, seseorang boleh percaya Tuhan, tetapi tidak diberi pemahaman Islam yang utuh untuk menyelesaikan masalah. Tuhan hanya dihadirkan di masjid saat salat, tetapi tidak dihadirkan saat gagal ujian, saat diputus pacar, atau saat merasa tidak berguna. Akidah menjadi aksesori, bukan penuntun. Akibatnya, saat tekanan datang, ia kehilangan arah dan tidak tahu harus bersandar ke mana.

Pendidikan agama di sekolah sekuler hanya mengajarkan tata cara wudu dan hafalan doa, bukan aqliyah berpikir yang menjadikan Allah sebagai pusat penyelesaian masalah. Akibatnya lahir generasi yang beragama secara ritual tetapi ateis secara pemikiran. Saat pacarnya meninggalkannya, ia tidak ingat konsep kada dan kadar. Saat nilainya jeblok, ia tidak ingat bahwa rezeki sudah dijamin Allah. Yang ia ingat hanya standar dunia: aku gagal, aku tidak berharga, lebih baik mati.

Di saat yang sama, kapitalisme membentuk masyarakat yang individualistis dan kompetitif. Sejak bangku sekolah, anak dididik untuk mengejar kesuksesan pribadi: nilai tertinggi, kampus favorit, pekerjaan bergaji besar. Standar kemuliaan diukur dari materi, bukan ketakwaan. Siapa yang tertinggal, dianggap gagal.

Lahirlah paradoks menyedihkan: generasi yang paling terkoneksi secara digital, justru paling terputus secara emosional. Ramai di grup WhatsApp, tetapi sunyi tak punya teman curhat. Hidup serba berkecukupan, tetapi jiwa merana. Kesepian tumbuh subur bahkan di tengah keramaian kota.

Media sosial memperparah luka ini. Algoritma kapitalisme digital sengaja menciptakan budaya flexing dan perbandingan sosial. Setiap hari remaja disuguhi teman yang lolos SNBP, yang healing ke luar negeri, yang punya pacar tampan. Padahal itu semua kurasi palsu. Namun bagi jiwa yang rapuh, itu menjadi vonis: orang lain bahagia, aku sendiri menderita. Maka kesepian berubah menjadi kebencian pada diri sendiri.

Melalui sistem pendidikan sekuler, negara mencetak individu berpandangan hidup rapuh. Melalui sistem ekonomi kapitalis, negara mencetak pola hidup yang asosial. Negara bukan hanya panen individu yang rapuh, tetapi turut memproduksinya.

Gagalnya Solusi Tambal Sulam

Penyelesaian negara hari ini tidak menyentuh akar. Hotline, konseling psikolog, dan seminar kesehatan mental itu penting, tetapi hanya memadamkan api, bukan mematikan sumber apinya.

Hotline 119 hanya menjawab saat krisis sudah di puncak. Psikolog hanya tersedia bagi yang mampu membayar Rp300—500 ribu per sesi. Sementara akar masalahnya, yaitu kurikulum sekuler yang mencabut akidah dan sistem ekonomi yang menciptakan kesenjangan, justru terus dipelihara negara. Ini seperti memberi perban pada kanker stadium empat. Selama negara masih memisahkan agama dari kurikulum dan membiarkan kapitalisme merajalela, hotline sebanyak apa pun akan terus berdering.

Secara fitrah manusia memang lemah karena ia hamba. Namun kelemahan ini bukan vonis untuk menyerah. Manusia bisa menjadi kuat jika pemahamannya benar terhadap kehidupan. Sebab manusia akan berperilaku sesuai pemahamannya.

Selama pemahaman itu sekuler, ia akan menganggap ujian sebagai kebuntuan. Selama standar hidupnya adalah materi kapitalistis, kegagalan sedikit akan terasa seperti kiamat.

Islam: Sistem yang Menjaga Akal dan Jiwa

Islam diturunkan bukan sekadar ritual, melainkan sebagai sistem kehidupan yang menjaga kewarasan.

Pertama, akidah sebagai jangkar. Islam menanamkan keyakinan bahwa hidup adalah ujian (QS Al-Baqarah: 155). Setiap kesulitan ada hikmah dan pahala. Seorang muslim yang memahami ini tidak akan memilih bunuh diri, karena ia tahu Allah tidak membebani di luar kemampuan (QS Al-Baqarah: 286). Ujian bukan akhir, melainkan jalan menuju kemuliaan.

Kedua, ikatan jamaah yang menguatkan. Islam membangun ikatan kuat antara keluarga dan masyarakat atas dasar ukhuwah. Rasulullah bersabda, "Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka seperti satu tubuh." (HR Muslim). Tidak boleh ada yang menanggung beban sendirian. Negara Khilafah sebagai raa'in wajib memastikan tidak ada rakyat yang terasing.

Dalam masyarakat Islam, ada mekanisme ta'awun yang hidup: tetangga wajib menjenguk yang sakit, masjid menjadi pusat penyelesaian masalah warga, negara memiliki qadi hisbah yang berkeliling memastikan tidak ada yang telantar. Tidak ada istilah healing sendirian ke kafe mahal. Kesedihan dibagi, beban dipikul bersama. Inilah support system terbaik yang tidak bisa digantikan oleh 1.000 psikolog.

Ketiga, standar kemuliaan yang menenangkan. Islam mengukur keberhasilan bukan dari IPK atau gaji, melainkan dari ketakwaan (QS Al-Hujurat: 13). Dengan standar ini, masyarakat berlomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan. Tekanan kompetisi yang mematikan pun sirna.

Keempat, jaminan negara yang menenteramkan. Melalui sistem pendidikan Islam, negara membentuk kepribadian Islam yang tangguh. Melalui sistem ekonomi Islam, negara menjamin kebutuhan pokok setiap individu sehingga tidak ada yang bunuh diri karena himpitan ekonomi.

Inilah ironi negeri yang mayoritas muslim tetapi menerapkan sistem sekuler: masjid penuh saat Jumat, tetapi hotline bunuh diri penuh setiap hari. Kita punya Allah, tetapi tidak diberi sistem yang menghubungkan kita dengan-Nya dalam setiap masalah.

Kesepian di tengah keramaian adalah bukti sahih bahwa sekularisme telah gagal menjadi rumah bagi jiwa manusia. Generasi kita tidak butuh sekadar hotline yang menjawab telepon, mereka butuh sistem yang menjawab tujuan hidup mereka. Dan jawaban itu hanya ada pada Islam kafah.

Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar