Subscribe Us

FENOMENA PERUNDUNGAN MAKIN MENINGKAT, ISLAM SOLUSI TEPAT



Oleh: Nayla 
(Pegiat Literasi)


Vivisualiterasi.com - Kasus perundungan kembali menyita perhatian. Kasus serupa terus terjadi dari tahun ke tahun dan belum ada penyelesaian. Usia pelaku yang beragam, tempat kejadian yang berbeda-beda, tetapi masih dengan pola yang sama, yakni melakukan kekerasan yang berefek pada psikis dan fisik korban bahkan sampai pada kematian.

Seperti beberapa kasus yang terjadi belakangan ini di Lumajang, seorang pelajar meninggal dunia setelah menjadi korban perundungan oleh temannya di ruang kelas saat jam pelajaran berlangsung. Di Pati, Jawa Tengah, siswa MTs kehilangan dua ruas jari akibat terjepit pagar saat diduga kabur dari perundungan. Terdapat pula siswa SD di Pontang, Serang, dianiaya teman hanya karena utang Rp1.000. Di Bandar Lampung seorang pelajar SMP nekat menyerang temannya sendiri hingga mengalami luka tusuk di bagian perut dan pinggang.

Skor Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mengungkapkan bahwa 24 persen murid di Indonesia mengaku mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Pemerintah dituntut untuk segera memitigasi hal ini agar satuan pendidikan menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Rinciannya, 15,2 persen dijadikan bahan lelucon, 11,6 persen korban rumor buruk, 7 persen perundungan siber, 5,6 persen dipukul atau didorong, dan 3,2 persen diancam (Kompas.id, 13/9/2026).

Berkembang Cepat di Sistem Kapitalis-Sekuler

Berbagai rentetan kasus perundungan ini menunjukkan negeri ini sedang dalam kategori darurat. Bukan hanya terjadi di dunia nyata, di dunia digital yang juga serba bebas, perundungan siber menjadi ancaman nyata. Namun sayang, kasus ini masih minim solusi. Penyebab pelaku melakukan tindakan perundungan karena generasi sekarang terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan oleh lingkungan terdekatnya yang pada akhirnya menganggap kekerasan adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. Mereka juga terbiasa menonton film/konten kekerasan di media sosial, pada akhirnya menjadikan tontonan sebagai tuntunan.

Namun, faktor penyebab utamanya adalah penerapan sistem kapitalis-sekuler. Inilah gambaran negara dengan sistem berasaskan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sistem ini telah berhasil menjauhkan generasi dari nilai-nilai Islam dan gagal mencetak akhlak mulia. Mereka disibukkan dengan mengejar kepuasan pribadi, akademik, harta, dan kesenangan duniawi lainnya.

Generasi hanya fokus pada mengejar eksistensi diri dengan melakukan apa pun yang dianggap memuaskan diri dan mencapai eksistensi tersebut, seperti dalam kasus perundungan ia akan merasa puas jika sudah melampiaskan emosi kepada korban. Inilah gambaran perilaku generasi dalam sistem kapitalis-sekuler yang jauh dari agama, melakukan suatu perbuatan dengan bebas tanpa batas.

Solusi Islam

Berbeda dengan sistem kapitalis-sekuler saat ini, pada sistem Islam, pembentukan generasi yang berakhlak mulia dimulai dari penanaman nilai-nilai Islam sejak dini agar memiliki kepribadian Islam. Mereka akan meyakini bahwasanya seluruh perbuatan mereka kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt., maka standar perbuatan sebelum dilakukan adalah apa yang Allah Swt. perintahkan dan larang, bukan atas hawa nafsu semata.

Pada sistem Islam, negara akan menerapkan sistem pendidikan dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam, melahirkan kepribadian generasi yang berpola pikir dan berperilaku islami, termasuk mengontrol media massa yang beredar di tengah masyarakat dengan membentuk informasi yang membangun ketakwaan.

Oleh karena itu, perlu peran keluarga dalam mengawasi, mendidik, dan mengontrol. Yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. di setiap kesempatan, dalam suka dan duka. Para orang tua mengajarkan kepada anak untuk beribadah melakukan amalan sunah dan amalan kebaikan lainnya. Dengan mengharapkan rida Allah Swt. untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Di sisi lain, masyarakat yang hadir akan peduli dengan remaja yang hidup di tengah-tengah mereka dengan amar makruf nahi mungkar, membentuk suasana yang saling menasihati dengan kebaikan dan menjauhi segala keburukan seperti tidak membiarkan anak-anak berada dalam pergaulan bebas.

Pendidikan dalam sistem Islam akan membentuk kepribadian sesuai akidah Islam. Generasi dididik dengan pola pikir dan perilaku yang islami sehingga terbentuk generasi mulia yang memahami jati dirinya sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Dalam pandangan Islam, seorang anak yang belum mukalaf (akil balig), mereka tidak terkena sanksi jika didapati melakukan kejahatan/kekerasan, melainkan orang tuanya yang akan dikenai takzir karena kelalaian mengontrol anaknya. Adapun jika sudah mukalaf maka akan dikenai sanksi berupa hukuman sesuai tingkat kejahatannya. Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar