#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Kasus perundungan kembali mengancam generasi. Dilansir dari Tribunnews, siswa kelas 2 SD di Pemalang meninggal dunia setelah diduga dianiaya kakak kelasnya di sekolah. Kasus ini mendapat perhatian LPAI dan Plt. Bupati Pemalang. Sementara itu, data JPPI mencatat kasus kekerasan di satuan pendidikan meningkat dari 91 kasus pada 2020 menjadi 614 kasus pada 2025. Sekolah yang semestinya menjadi tempat aman justru masih dihantui kekerasan.
Berulangnya kasus perundungan menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar kenakalan anak, tetapi berkaitan dengan sistem pendidikan. Dalam sistem sekuler kapitalistis, pendidikan lebih diarahkan pada capaian akademik dan kebutuhan dunia kerja, sementara pembentukan kepribadian dan penjagaan perilaku belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, penanganan perundungan cenderung reaktif, bukan menyelesaikan akar masalah.
Kondisi ini tentu berbeda dengan Islam. Islam menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab negara untuk membentuk generasi berkepribadian Islam sekaligus melindungi mereka. Kurikulum berbasis akidah, peran keluarga dan masyarakat, serta aturan tegas terhadap kekerasan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Dengan sistem yang menyeluruh, perundungan tidak hanya ditangani setelah terjadi, tetapi dicegah sejak akarnya.[] Dwi Nur 'Aeni


0 Komentar