Oleh: Irohima
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Jika ada gelar untuk manusia yang kehilangan nurani, maka Zionis Israel pemenangnya. Sejarah akan mencatatnya dengan tinta darah betapa wajah kekejaman yang tak lagi bisa disebut manusia terpahat jelas. Sudah ribuan anak-anak Palestina yang seharusnya berlarian di lapangan, tertawa, bermain, dan bermimpi indah kini justru terjaga oleh rasa takut, lapar, dan luka yang tak terlihat. Mereka dipaksa menatap masa depan mereka yang dikubur hidup-hidup. Mereka tak pernah memilih lahir di tengah peperangan, mereka juga tidak memegang senjata dan tidak pernah menandatangani perjanjian, namun mereka justru menjadi korban. Mereka kini tak hanya terpenjara di reruntuhan bangunan dan kamp pengungsian, tetapi juga terkurung di penjara Israel yang dingin dan kelam.
Berdasarkan laporan Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy, terdapat sekitar 370 anak Palestina yang saat ini ditahan di penjara-penjara Israel. Sebagian besar dari mereka berada di Penjara Megiddo dan Ofer. Anak-anak ini merupakan bagian dari lebih dari 9.400 tahanan Palestina yang ditahan Zionis hingga awal Agustus. Lebih miris lagi, mereka ditahan tanpa dakwaan atau persidangan, juga berdasarkan bukti yang tidak pernah diungkap kepada publik. Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana Zionis memperlakukan para warga Palestina yang ditahan.
Menyikapi kondisi para tahanan yang sangat buruk, sejumlah organisasi hak asasi manusia Palestina dan internasional lainnya berulang kali melemparkan tuduhan bahwa otoritas Israel menempatkan tahanan, termasuk anak di bawah umur, dalam kondisi keras serta tidak memberikan akses layak terhadap makanan dan layanan medis [Kompas.com, 28/08/2026].
Sejak tahun 1967, kasus penangkapan dan penahanan anak-anak Palestina telah melampaui angka 50.000. Penangkapan anak di bawah umur adalah bagian dari kebijakan sistematis Zionis Israel untuk menghancurkan masa depan anak-anak Palestina. Menangkap dan memenjarakan juga bagian dari strategi mereka untuk menekan dan mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina. Tak heran jika dikatakan bahwa penahanan anak-anak Palestina adalah pola berulang dalam operasi penangkapan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dan bukan sekadar kasus-kasus yang terisolasi.
Dalam peperangan, hal yang paling menyakitkan bukanlah kota yang runtuh, namun kehidupan anak-anak yang dirampas dan masa depan yang hilang. Zionis Israel sejak dulu telah menunjukkan wajah aslinya sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan, karena hampir di setiap konflik mereka menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, tanpa belas kasihan. Di sinilah kita bisa melihat karakter pengecut dan biadab mereka, karena perang yang menyasar anak-anak bukanlah perang, tetapi pengkhianatan terhadap peradaban.
Sejatinya perang yang melibatkan anak-anak di bawah umur, apalagi sampai menangkap dan memenjarakan anak-anak, adalah hal yang tak hanya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, namun juga dengan syariat Islam. Namun sayangnya, hati para penguasa negeri-negeri muslim tak satu pun yang tersentuh. Mereka lebih memilih menjadi bisu dan pura-pura tidak tahu. Jangankan membebaskan wilayah Palestina, membebaskan anak-anak dari penjara pun mereka tidak mampu.
Saat ini, kabar terkait Palestina semakin menyusut. Dengan propaganda kafir penjajah yang didukung oleh banyak media, umat seakan secara perlahan melupakan Palestina. Kini Palestina terlunta-lunta di tengah miliaran saudara seimannya. Maka dari itu, kita perlu terus berupaya menyadarkan umat dan para penguasa di negeri-negeri muslim bahwa kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan. Kejahatan itu harus dilawan dan diperangi dengan jihad fi sabilillah. Segala bentuk intimidasi dan ancaman Zionis Israel tidak boleh sedikit pun menyurutkan perjuangan kita untuk membebaskan Palestina.
Kunci pembebasan Palestina sejatinya terletak pada persatuan umat, jihad, tentara, dan Khilafah. Selama ini umat Islam dipecah-belah oleh sekat nasionalisme, sebuah sekat yang menyandera para pemimpin negeri muslim dengan berbagai kepentingan politik dan juga membunuh empati kita secara paksa agar tidak mengindahkan Palestina meski mereka saudara seakidah. Dengan dalih bukan satu wilayah negara, nasionalisme menjadi pagar pembatas yang didirikan kafir penjajah untuk menghalangi kita membebaskan Palestina. Hingga jangankan bantuan militer, bantuan kemanusiaan yang kita berikan kerap tidak mereka izinkan.
Persoalan Palestina membutuhkan persatuan umat untuk berjihad, karena jihad adalah satu-satunya solusi untuk mengusir penjajah dari bumi Palestina. Aktivitas jihad hanya akan bisa terwujud dengan adanya Khilafah, sebuah institusi yang menaungi seluruh umat muslim dan akan menjadi junnah (pelindung) dari segala bahaya serta membebaskan umat dari segala bentuk penjajahan dan penderitaan. Hanya Khilafah yang akan melakukan aksi nyata dengan mengirimkan tentara, bukan sekadar pernyataan bela sungkawa atau kecaman saja.
Perlu diketahui, meskipun kita terpaksa berada dalam situasi perang, etika tetap dijaga. Syariat Islam mengatur perlindungan terhadap anak-anak di saat perang, memuliakan, menjaga, dan memberi harapan masa depan. Dengan seperangkat aturan yang diterapkan selama perang, seperti larangan membunuh wanita, lansia, dan anak-anak serta larangan merusak fasilitas publik, cukup untuk membuktikan bahwa tujuan berperang dalam Islam hanyalah membela agama Allah Swt. dan membebaskan manusia dari penjajahan.
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas terkait tahanan atau tawanan perang yang wajib diperlakukan secara manusiawi, dihormati hak-hak dasarnya, dan dilarang keras untuk disiksa dan dibunuh. Salah satu kisah paling terkenal pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab adalah saat penaklukan Kekaisaran Persia. Panglima Besar Persia bernama Hormuzan menjadi tawanan perang dan dibawa ke Madinah untuk menghadap Umar bin Khattab. Ketika Hormuzan hendak diadili, dia merasa haus dan meminta air minum. Namun saat sudah diberikan, Hormuzan ragu untuk meminumnya hingga berkata: "Aku takut aku akan dibunuh saat aku meminum air ini."
Melihat Hormuzan ketakutan, Khalifah Umar kemudian memberikan jaminan keamanan yang terkenal: "Engkau tidak akan diapa-apakan sampai engkau meminum air ini."
Mendengar perkataan Khalifah Umar, Hormuzan langsung menumpahkan air minum tersebut. Berdasarkan hukum Islam, janji aman seorang pemimpin tidak boleh dilanggar. Karena Umar telah menjanjikan keamanan sebelum Hormuzan meminumnya, dan airnya sudah tumpah, Umar menepati janji untuk tidak mengeksekusinya. Perlakuan Khalifah Umar bin Khattab yang humanis dan adil mampu menyentuh hati panglima Persia yang kemudian dengan sukarela memeluk agama Islam.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb[]


0 Komentar