Subscribe Us

PENDIDIKAN HARUS MENJADI PRIORITAS


Oleh: Ummu Riri  
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Pasca bencana November 2025 lalu, di Aceh sedikitnya ada 4 jembatan yang rusak dan putus. Akibatnya, siswa dan guru menyeberangi sungai menggunakan jembatan dari tali. Keempat jembatan tersebut berada di beberapa lokasi: Kabupaten Gayo Lues, Aceh Barat, dan Aceh Utara. Di wilayah tersebut siswa terpaksa melewati sungai dengan menggunakan sisa-sisa jembatan gantung yang rusak parah untuk berangkat ke sekolah. (Kompas.com, 28 Juli 2026)

Masih di Pulau Sumatra, tepatnya di SDN 3 Kacapura, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Berbeda dengan kondisi sekolah di Aceh yang rusak pasca bencana, sekolah ini sudah berdiri kurang lebih 40 tahun. Namun, bangunannya sangat memprihatinkan: berdinding papan, beratap asbes tanpa plafon, listrik terbatas, tidak ada sinyal, dan akses menuju sekolah sulit. Sebanyak 22 siswa berangkat ke sekolah dengan membawa ketapel karena kerap kali bertemu hewan liar, seperti babi hutan, di tengah perjalanan. SDN 3 Kacapura hanya memiliki dua ruang kelas untuk enam jenjang. Oleh karena itu, pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu kelas I, II, dan III dalam satu ruangan, serta kelas IV, V, dan VI dalam satu ruangan.

Sekolah bukan tidak pernah mendapatkan bantuan. Sekolah pernah menerima bantuan berupa televisi pintar, laptop, meja, dan kursi. Namun, televisi tidak dapat digunakan secara maksimal karena listrik dari panel surya tidak selalu tersedia. Selain itu, tidak ada sinyal di sekolah. Justru bantuan yang sangat mereka butuhkan adalah bangunan sekolah yang layak agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan kondusif. Meski dengan segala keterbatasan, siswa dan guru tetap berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. (Kompas.com, 21 Agustus 2026)

Anak-anak di pelosok maupun di kota sama-sama anak bangsa yang akan menjadi pewaris negeri ini. Mereka sama-sama berhak mendapatkan pendidikan yang layak, nyaman, dan mencerahkan. Namun, ketimpangan antara kota dan pelosok selalu terjadi. Negara bukan tidak mampu, negara hanya tidak memprioritaskan pendidikan. Pendidikan merupakan hal mendasar dalam membangun sebuah peradaban. Dengan pendidikan terbentuk pribadi-pribadi yang berilmu dan berakhlak.

Sayangnya, dalam sistem kapitalisme pendidikan dijadikan komoditas ekonomi. Pendidikan dibangun untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi. Sekolah dan universitas beroperasi seperti perniagaan, terutama di institusi swasta dan perguruan tinggi. Kapitalisme menjadikan pendidikan berkualitas sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Pantas saja sekolah-sekolah di pelosok tidak diperhatikan meski kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Di Mana Peran Negara?

Banjir di Sumatra sudah hampir 1 tahun, tetapi pembangunan berjalan begitu lambat. Para pelajar entah sampai kapan harus kesulitan menjangkau sekolah. Di sisi lain, negara menggelar pesta kemerdekaan dengan anggaran yang tidak sedikit. Program MBG yang banyak menuai kritik dan memakan korban masih terus berjalan. Efisiensi dilakukan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, demi program-program baru. Akibatnya, pajak di mana-mana. Lagi-lagi rakyat yang menjadi korban.

SDN 3 Kacapura hanya satu dari sekian banyak sekolah di pelosok yang membutuhkan perhatian pemerintah pusat. Waktu 40 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melakukan perbaikan. Pemerintah sekali lagi gagal dalam meletakkan prioritas. Jika kendalanya ada pada bangunan yang tidak layak, lantas mengapa justru diberikan bantuan televisi pintar? Hal ini membuktikan bahwa dalam sistem kapitalisme pendidikan bukan menjadi prioritas.

Dalam sistem kapitalisme, pendidikan dijadikan jembatan untuk meraih kesuksesan. Namun, standar kesuksesan sistem ini adalah materi. Akibatnya, tujuan sekolah adalah mendapatkan selembar ijazah sebagai gerbang menuju kesuksesan tersebut. Maka dari itu, pemerintah lebih fokus pada pembangunan infrastruktur dibandingkan membangun sekolah-sekolah di pelosok.

Kapitalisme melahirkan generasi yang cenderung individualistis, konsumtif, dan materialistis. Pantas saja pendidikan tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting. Berpendidikan atau tidak, asalkan dapat menghasilkan materi akan dianggap sukses. Padahal, pendidikan bukan hanya sekadar akomodasi kesuksesan, melainkan pembentukan karakter dan pengembangan ilmu. Berbeda dengan Islam. Rasulullah saw. mencontohkan bahwa pendidikan sangat penting bagi peradaban. Tercatat dalam sejarah bahwa Islam dapat melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat.

Pendidikan Penting dalam Islam

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang tua. Orang yang berilmu juga mendapat posisi tinggi di sisi Allah Swt. Dengan ilmu seseorang dapat mempelajari tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta. Dengannya seseorang akan semakin dekat dengan Allah, Sang Maha Pencipta. Dengan ilmunya, ia dapat memberikan manfaat bagi umat dan alam semesta, seperti ilmu pertanian, astronomi, kedokteran, farmasi, teknik, dan lain sebagainya. Karena itu, pendidikan harus menjadi perhatian utama bagi para penguasa di pemerintahan Islam.

Pendidikan menjadi penting karena Rasulullah saw. ketika membangun Kota Madinah tidak hanya membangun sebuah daulah, tetapi juga membangun peradaban. Rasulullah saw. sebagai kepala negara menjadikan masjid bukan hanya untuk ibadah salat, melainkan juga sebagai tempat diadakannya halaqah-halaqah ilmu, tempat penyampaian khutbah, dan pembacaan Al-Qur’an. Rasulullah saw. juga membangun fasilitas di sisi utara Masjid Nabawi bernama Suffah yang dihuni oleh fakir miskin Muhajirin, Ansar, dan pendatang asing. Di Suffah penghuninya diajarkan membaca dan menulis Al-Qur’an. Selain itu, berdiri pula kuttab-kuttab di Madinah sebagai tempat anak-anak kecil belajar membaca dan menulis Al-Qur’an.

Pentingnya pendidikan juga dicontohkan oleh Rasulullah saw. ketika memberikan syarat tebusan kepada tawanan Perang Badar yang tidak mampu membayar, yaitu dengan mengajarkan anak-anak penduduk Madinah. Zaid bin Tsabit adalah salah satu anak yang diajarkan oleh mereka. Dalam Musnad Ahmad No. 2216, dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ نَاسٌ مِنْ الأَسَارَى يَوْمَ بَدْرٍ لَيْسَ لَهُمْ فِدَاءٌ ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءَهُمْ أَنْ يُعَلِّمُوا أَوْلادَ الأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ»

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: “Ada beberapa tawanan pada hari Perang Badar yang tidak memiliki tebusan, maka Rasulullah SAW menjadikan tebusan mereka adalah dengan mengajarkan anak-anak kaum Ansar menulis.”

Ibnu Saad menuturkan riwayat dari Amir yang berkata bahwa tebusan bagi orang-orang yang tertawan dalam Perang Badar adalah empat puluh uqiyah, yaitu setara dengan 1.600 dirham. Tindakan tersebut menjadi dalil bahwa kepala negara wajib memberikan fasilitas pendidikan secara gratis kepada rakyatnya. Hal ini disebabkan karena tawanan tersebut adalah tawanan perang atau ganimah yang termasuk ke dalam harta milik negara. Pendidikan bertujuan untuk mengajarkan rakyat apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan mereka sehingga mereka mampu memperoleh manfaat dan menghindari kemudaratan.

Jejak Sejarah Pendidikan Islam

Pada masa kepemimpinan Umar bin al-Khattab r.a. telah memerintahkan pemberian tunjangan kepada para guru sebesar 15 dirham setiap bulannya. Berbeda dengan saat ini, kondisi guru sangat memprihatinkan. Upah yang diterimanya sangat tidak sebanding dengan upaya yang telah diberikan. 

Begitu pula pada masa Abbasiyah, perhatian negara terhadap pendidikan semakin besar sejalan dengan meluasnya wilayah negara Islam. Perhatian khalifah pada masa Abbasiyah terhadap pendidikan, termasuk dari aspek pembiayaan, juga sangat besar.

Khalifah Harun ar-Rasyid ketika tiba di Kufah memerintahkan pemberian 2.000 dirham kepada setiap qari yang masyhur. Namun, karena kezuhudan terhadap dunia, tidak semua menerimanya. Mereka dengan rendah hati menolak uang tersebut. Karena itulah pada masa itu banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim yang masyhur. Ilmu mereka bahkan digunakan hingga saat ini, seperti Ibnu al-Haitham. Atas izin Allah, penemuannya tentang optik dapat kita manfaatkan dalam kamera, kacamata, mikroskop, dan lain sebagainya.

Pada masa Abbasiyah ilmu kedokteran juga berkembang pesat sejalan dengan perkembangan pelayanan kesehatan yang disediakan secara gratis. Salah satunya melalui pembangunan bimaristan (bima berarti sakit dan ristan adalah tempat atau rumah). Bimaristan berfungsi sebagai rumah sakit gratis lengkap dengan pelayanannya. Selain itu, bimaristan juga berfungsi sebagai sekolah kedokteran dan perpustakaan medis yang berisi lebih dari seratus jilid buku. Salah satu yang terkenal adalah Bimaristan ar-Rasyid.

Khatimah

Demikianlah sedikit gambaran politik pendidikan dalam Islam yang telah menjadi bagian integral dari pembangunan peradaban Islam sejak masa Rasulullah saw., masa Khulafaur Rasyidin, serta kekhalifahan setelahnya. Negara harus memberikan pendidikan gratis yang layak dan merata bagi rakyatnya, tanpa memandang agama, ras, suku, dan status ekonomi atau sosial. Tidak pula dibedakan antara pendidikan di kota atau pelosok. Semua berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama. Selain itu, tunjangan bagi guru-guru harus diberikan secara layak. Dengan demikian, lahirlah generasi-generasi yang menghasilkan karya-karya intelektual yang tinggi. Inilah buah dari ideologi Islam yang menjadi dasar bagi politik pendidikan negara.

Wallahu a‘lam bis-sawab[]

Posting Komentar

0 Komentar