Oleh: Awan Biru
(Kontributor Visualiterasi)
Vivisualiterasi.com - Mengapa ada pengemban dakwah yang begitu cepat gugur, sementara yang lain mampu bertahan bertahun-tahun, bahkan hingga akhir hayatnya?
Di mana letak perbedaannya?
Pertanyaan ini penting untuk kita renungkan karena keistiqamahan dalam dakwah bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang memulai, melainkan tentang seberapa kokoh alasan yang membuatnya terus bertahan ketika ujian datang.
Pada akhirnya, semua kembali kepada alasan awal seseorang berada di jalan dakwah.
Jika seseorang berada dalam lingkungan dakwah hanya karena ingin bertemu dengan orang-orang yang baik dan saleh, alasan itu masih lemah. Sebab, manusia tetaplah manusia. Sehebat dan sesaleh apa pun seseorang, ia tetap dapat khilaf dan melakukan kesalahan. Ketika suatu hari ia melihat orang yang dikaguminya melakukan kesalahan, kemudian kecewa karena tidak sesuai dengan harapannya, bisa jadi ia mulai goyah dan meninggalkan jalan dakwah.
Begitu pula jika alasannya hanya karena ingin belajar. Belajar memang merupakan amal yang mulia. Namun, jika tujuan itu berhenti pada pencapaian pribadi, ia pun dapat menjadi rapuh. Ketika seseorang merasa sudah lebih memahami ilmu, merasa lebih hebat daripada orang lain, atau kemudian terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, bisa saja ia memilih untuk pergi karena merasa tidak lagi membutuhkan lingkungan tersebut.
Bahkan, jika seseorang masuk ke dalam lingkungan dakwah karena ingin mendapatkan pasangan yang juga merupakan pengemban dakwah, alasan itu pun masih lemah. Sebab, ketika apa yang diinginkannya telah diperoleh, menikah dan mendapatkan pasangan yang menjadi targetnya, bisa saja semangat dakwahnya perlahan padam dan ia mulai meninggalkan perjuangan.
Lalu, apa alasan yang paling kuat?
Bukan karena manusia. Bukan karena pujian. Bukan pula karena ingin mendapatkan sesuatu. Melainkan karena Allah SWT.
Kita berada di jalan dakwah karena menyadari bahwa Allah memerintahkan kita untuk menyeru kepada kebaikan dan memperjuangkan kehidupan yang diridai-Nya. Dengan alasan seperti inilah hati memiliki tempat bergantung yang kokoh.
Ketika melihat manusia berbuat salah, kita tidak ikut runtuh karena perjuangan kita bukan untuk manusia.
Ketika mendapat pujian, kita tidak terlena karena yang kita cari bukan penilaian manusia.
Ketika mendapat celaan, kita tidak mudah mundur karena yang kita kejar bukan penghargaan manusia.
Ketika menghadapi perbedaan, ujian, kelelahan, bahkan kekecewaan, kita tetap berusaha bertahan karena tujuan kita jauh lebih tinggi, yaitu mengharap rida Allah SWT.
Inilah salah satu pelajaran besar dari generasi terbaik umat ini. Mereka tidak menggantungkan perjuangannya kepada sosok manusia. Hati mereka tertambat kepada Allah. Oleh karena itu, selama kebenaran harus diperjuangkan, mereka tetap melangkah. Selama kewajiban belum selesai, mereka tetap bertahan.
Maka, sebelum bertanya, "Mengapa aku harus terus berada di jalan dakwah?", tanyakanlah kepada diri sendiri:
"Untuk siapa sebenarnya aku berdakwah?"
Jika jawabannya adalah manusia, kita akan mudah kecewa.
Jika jawabannya adalah pujian, kita akan mudah berhenti ketika tidak dipuji.
Jika jawabannya adalah kepentingan pribadi, kita akan pergi ketika kepentingan itu telah tercapai.
Namun, jika jawabannya adalah karena Allah SWT, insyaallah langkah akan menjadi lebih kokoh. Bukan berarti kita tidak pernah lelah, kecewa, atau terluka. Akan tetapi, ketika semua itu datang, kita kembali mengingat tujuan awal: mencari rida Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari dakwah yang hanya menjadi tempat mencari kepentingan dunia. Semoga Allah menanamkan keikhlasan, menguatkan langkah, dan menjadikan kita orang-orang yang tetap istiqamah dalam kebaikan, bukan hanya ketika jalan itu mudah, tetapi juga ketika jalan itu penuh dengan ujian.
Sebab, dakwah bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, melainkan siapa yang tetap bertahan dengan ikhlas hingga Allah memanggilnya pulang. Wallahu a'lam bish-shawab.(Dft)


0 Komentar