Oleh: Farhana
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Di era ketika informasi bergerak tanpa henti, berita buruk seolah tidak pernah memberi ruang untuk bernapas. Perang, bencana, kemiskinan, kriminalitas, konflik sosial, hingga berbagai bentuk kezaliman dapat muncul bergantian hanya dalam beberapa kali menggulir media sosial.
Satu berita belum selesai dipahami, berita lain sudah datang. Kondisi tersebut membuat banyak orang merasa lelah secara mental. Bukan hanya karena banyaknya informasi yang diterima, tetapi juga karena harus berhadapan dengan berbagai realitas kehidupan yang tidak selalu menyenangkan.
Di tengah situasi tersebut, konsep mindfulness semakin banyak dibicarakan. Belakangan, pembahasan mengenai mindfulness kembali ramai setelah video Maudy Ayunda viral.
Mindfulness umumnya dikaitkan dengan kemampuan untuk hadir pada momen saat ini, menyadari apa yang sedang dirasakan, dan tidak terus-menerus larut dalam hal-hal yang berada di luar kendali.
Namun, mindfulness sendiri memiliki standar dan definisi yang beragam. Sejumlah referensi memberikan penekanan yang berbeda, mulai dari kesadaran terhadap pengalaman yang sedang berlangsung hingga penerimaan terhadap pikiran dan perasaan tanpa menghakimi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa mindfulness tidak sesederhana anjuran untuk berhenti overthinking atau mengurangi konsumsi berita buruk. Ketika konsep ini dibawa ke tengah kehidupan yang dipenuhi bad news ini, muncul persoalan lain:
Apakah kesadaran hanya diarahkan untuk menjaga ketenangan diri, atau juga untuk memahami realitas yang sedang terjadi?
Bad News
Mengambil jeda dari berita buruk tentu bukan sesuatu yang keliru. Mengurangi doomscrolling, mematikan notifikasi, atau menjauh sementara dari media sosial dapat menjadi cara untuk memberikan ruang bagi pikiran agar tidak terus-menerus dibebani informasi.
Namun, jeda dengan berita tidak berarti realitas ikut berhenti. Berita tentang kezaliman dapat dilewati, tetapi kezaliman tidak otomatis berakhir hanya karena tidak lagi dilihat.
As a Muslim
Mindfulness dalam konteks kehidupan yang dipenuhi berita buruk tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya untuk shut down dari seluruh persoalan di sekitar.
Kesadaran justru perlu membawa seseorang untuk memahami bahwa berita yang dikonsumsi bukan sekadar informasi yang mengganggu ketenangan pribadi, melainkan gambaran dari realitas yang sedang berlangsung.
Karena itu, persoalannya tidak berhenti pada bagaimana seseorang menjaga peace of mind ketika berhadapan dengan berita buruk.
Ada pertanyaan yang lebih jauh mengenai apa yang menyebabkan berbagai persoalan tersebut terus muncul dan bagaimana seharusnya manusia menyikapinya.
Bad Reality
Dalam perspektif Islam, kesadaran tidak hanya diarahkan kepada kondisi internal manusia. Seorang muslim meyakini bahwa setiap waktu, tindakan, dan amal akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Allah Swt. berfirman:
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7—8)
Kesadaran tersebut membuat mindfulness dalam Islam memiliki dimensi yang lebih luas. Kesadaran bukan hanya mengenai apa yang sedang dirasakan, tetapi juga mengenai posisi manusia sebagai hamba Allah dan konsekuensi dari setiap perbuatannya.
Hal tersebut juga berkaitan dengan berbagai kerusakan yang terjadi dalam kehidupan. Allah Swt. berfirman:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia ..." (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kerusakan dan perbuatan manusia. Karena itu, ketika berbagai bad news memperlihatkan perang, ketidakadilan, kemiskinan, atau bentuk kerusakan lainnya, persoalan tidak cukup diselesaikan dengan mengatur respons emosional terhadap berita tersebut.
Dibutuhkan kesadaran untuk melihat persoalan secara lebih mendalam: apa yang menjadi penyebabnya, nilai apa yang sedang digunakan, dan aturan seperti apa yang mengarahkan kehidupan manusia.
Jika mindfulness hanya menghasilkan kemampuan untuk tetap tenang ketika berhadapan dengan realitas yang buruk, tetapi pada saat yang sama melahirkan sikap apatis terhadap kemungkaran, maka kesadaran tersebut belum membawa manusia pada tanggung jawabnya sebagai seorang muslim.
Islam tidak mengajarkan sikap acuh terhadap kemungkaran. Kesadaran terhadap realitas seharusnya mendorong manusia untuk mengambil peran dalam memperbaikinya.
Stay Aware
Islam memberikan arah agar kesadaran tersebut tidak berhenti sebagai refleksi pribadi. Salah satunya melalui amar makruf nahi mungkar.
Allah Swt. berfirman:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)
Amar makruf nahi mungkar menempatkan seorang muslim bukan sekadar sebagai pengamat terhadap berbagai persoalan kehidupan. Ada kewajiban untuk menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta menyampaikan kebenaran.
Di sinilah dakwah memiliki posisi penting. Dakwah tidak hanya berkaitan dengan ajakan untuk memperbaiki perilaku individu, tetapi juga menyampaikan Islam sebagai petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Kesadaran terhadap bad reality akhirnya perlu dikembalikan kepada pertanyaan yang lebih mendasar, "Aturan siapa yang seharusnya digunakan dalam mengatur kehidupan manusia?"
Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta manusia dan kehidupan. Allah yang menciptakan manusia tentu mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya. Karena itu, tata aturan kehidupan tidak semestinya hanya disusun berdasarkan keinginan dan kemampuan manusia, tetapi dikembalikan kepada aturan dari Sang Khaliq.
Islam dengan demikian tidak hanya hadir sebagai ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam ibadah personal. Islam juga memiliki tata aturan yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.
Maka, dakwah tidak berhenti pada seruan untuk menjadi pribadi yang lebih baik atau sekadar menjaga ketenangan di tengah dunia yang penuh persoalan. Dakwah membawa manusia untuk mengenal, memahami, dan kembali kepada aturan Allah Swt.
Mindfulness dalam perspektif Islam pada akhirnya bukan tentang menjadi unbothered terhadap dunia. Kesadaran justru membuat seorang muslim mampu melihat realitas, memahami adanya kemungkaran, menyadari tanggung jawabnya, dan mengambil peran untuk menyerukan ketaatan kepada Allah.[]


0 Komentar