Oleh: Raihun Anhar, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Maulid telah kita peringati, namun jangan hanya berselawat kepadanya, melainkan memahami perjuangan Nabi Muhammad Saw. dalam menegakkan Islam. Ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita pahami ketika berbicara tentang perjuangan Rasulullah Saw.?
Apakah perjuangan beliau hanya tentang kesabaran menghadapi kaum Quraisy?
Apakah cukup dengan mengingat hijrah, perang, dan berbagai peristiwa dalam sejarah?
Atau justru ada sesuatu yang lebih besar yang perlu kita pelajari, seperti bagaimana Rasulullah Saw. mengubah manusia, membangun umat, mengatur masyarakat, dan meletakkan fondasi sebuah peradaban?
Pertanyaan ini penting agar kita tidak sekadar membaca sirah nabi sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai petunjuk untuk mewujudkan kehidupan yang terbaik. Sirah Nabawiyah bukan sekadar kisah tentang apa yang terjadi, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana sebuah perubahan itu ada dan bagaimana sebuah peradaban itu dibangun.
Rasulullah Saw. memulai perjuangannya di Mekah dengan satu perkara yang sangat mendasar, yaitu membentuk cara pandang manusia. Dakwah tauhid bukan hanya ajakan untuk meninggalkan berhala, tetapi juga seruan agar manusia mengakui bahwa hanya Allah Swt. yang menjadi pusat penghambaan dan orientasi kehidupan. Seruan ini memiliki konsekuensi yang besar. Ketika manusia hanya tunduk kepada Allah, maka manusia tidak seharusnya tunduk pada ideologi selain Islam, seperti Jahiliah di kaum Quraisy kala itu dan hari ini, yaitu sekularisme dan kapitalisme. Tahapan ini disebut marhalah at-tatsqīf (tahapan pembinaan dan pengkaderan).
Dakwah Rasulullah Saw. mendapatkan perlawanan hebat dari Quraisy. Itu karena Islam tidak sekadar datang membawa ritual baru, tetapi juga mengoreksi berbagai kerusakan dalam kehidupan masyarakat. Rasulullah Saw. berhadapan dengan struktur sosial yang telah mapan, kepentingan ekonomi, fanatisme kesukuan, dan berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan Islam. Tahapan ini disebut marhalah tafā'ul ma'a al-ummah (tahap interaksi dengan umat).
Namun Rasulullah Saw. tidak merespons tekanan tersebut dengan tindakan yang serampangan. Beliau membangun umat melalui pembinaan. Para sahabat dididik dengan Al-Qur'an, membentuk kepribadian Islam, dan ditanamkan kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada kepentingan duniawi.
Rasulullah Saw. menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir hanya dari slogan. Perubahan membutuhkan manusia yang memiliki keyakinan, ilmu, kepribadian, kesabaran, dan visi. Sebelum masyarakat berubah, manusia harus terlebih dahulu mengalami perubahan dalam cara berpikir dan cara hidupnya. Menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam), bangkitnya manusia tergantung dari pemikirannya, dan pemikiran membentuk pemahaman yang menghasilkan perbuatan atau perubahan.
Setelah bertahun-tahun berdakwah di Makkah belum membuahkan hasil, perjalanan Rasulullah Saw. memasuki fase baru, yakni pertemuan dengan penduduk Yatsrib dan terjadinya Bai'at Aqabah yang membuka jalan menuju hijrah. Rasulullah Saw. bersama para sahabat kemudian meninggalkan Makkah dan hijrah ke Madinah. Tahapan ini disebut marhalah istilām al-ḥukm / iqāmat ad-daulah (tahap penerimaan kekuasaan dan penegakan negara).
Hijrah tidak sekadar perpindahan tempat. Hijrah merupakan titik penting dalam perjalanan terbentuknya masyarakat Islam. Di Madinah, Rasulullah Saw. tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi mulai membangun kehidupan masyarakat yang lebih teratur.
Langkah-langkah Rasulullah Saw. di Madinah menunjukkan bahwa membangun umat membutuhkan fondasi negara yang kuat. Beliau membangun masjid sebagai pusat kehidupan umat, mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar, serta mengatur hubungan berbagai kelompok yang hidup di Madinah. Artinya, Rasulullah Saw. tidak membiarkan umat hidup tanpa arah. Persaudaraan dibangun, konflik dikelola, aturan dibuat, semua bertanggung jawab bersama menjaga kelangsungan peradaban baru itu.
Salah satu hal yang penting dalam konteks ini adalah Piagam Madinah. Dokumen tersebut menjadi bagian dari pengaturan hubungan antara berbagai kelompok yang hidup di Madinah. Masyarakat Madinah bukan masyarakat yang sepenuhnya homogen. Ada berbagai kelompok dengan latar belakang dan keyakinan yang berbeda. Karena itu, kehidupan bersama membutuhkan aturan, tanggung jawab, dan kesepakatan.
Dari sini kita mendapatkan pelajaran penting bahwa membangun masyarakat bukan hanya tentang memenangkan perdebatan, tetapi tentang kemampuan mengelola kehidupan bersama.
Rasulullah Saw. juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak sekadar pergantian pemimpin, melainkan adanya pergantian sistem juga. Ketika menjadi pemimpin masyarakat Madinah, beliau menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks, meliputi persoalan sosial, ekonomi, keamanan, konflik antarkelompok, hingga hubungan dengan masyarakat di luar Madinah. Beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan pribadi. Kekuasaan adalah sarana untuk mengurus masyarakat dan menjaga kemaslahatan.
Karena itu, kita tidak boleh memisahkan politik dari agama. Imam Al-Gazali dalam kitab Iḥyā' 'Ulūmiddīn mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua saudara kembar yang memiliki fungsi yang saling melengkapi, yakni agama berfungsi sebagai fondasi dan negara berfungsi sebagai penjaga.
Rasulullah Saw. juga mengajarkan bahwa perjuangan membutuhkan strategi. Peristiwa Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peristiwa lainnya memperlihatkan pentingnya perencanaan, disiplin, musyawarah, dan evaluasi. Bahkan dalam situasi sulit, Rasulullah Saw. tidak bertindak tanpa perhitungan.
Begitu pula dalam diplomasi. Perjanjian Hudaibiyah memberikan pelajaran bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan melalui konfrontasi. Ada kondisi ketika dialog, negosiasi, dan perjanjian justru menjadi pilihan strategis. Seorang pemimpin harus mampu memahami mana prinsip yang harus dipertahankan dan mana persoalan teknis yang dapat dinegosiasikan demi kemaslahatan yang lebih besar.
Dari perjuangan Rasulullah Saw. ini, sebagai generasi muda yang memiliki peran agen perubahan, kita perlu meneladaninya dalam mengubah hidup yang zalim akibat penerapan ideologi kapitalisme. Kita harus memahami Islam dan menyampaikan Islam kepada penguasa dan masyarakat agar mau bersama menerapkannya dalam negara, sebagaimana Rasulullah Saw. dan para sahabat menyeru Quraisy dan penduduk selain Mekah, yaitu Madinah.
Oleh karena itu, meneladani Rasulullah Saw. tidak cukup dengan mengatakan bahwa kita mencintai beliau. Cinta kepada Rasulullah Saw. seharusnya melahirkan kesediaan untuk mempelajari perjuangan beliau, mengambil pelajaran darinya, dan mengikutinya.
Jika Rasulullah Saw. membangun peradaban dengan ilmu, maka kita juga harus serius membangun peradaban dengan ilmu. Mengapa? Karena Rasulullah Saw. adalah uswatun ḥasanah (teladan terbaik) dalam hal membangun sebuah peradaban.
Inilah yang harus dilakukan oleh muslim yang mengaku cinta Nabi Muhammad Saw.
Kita harus menjadi generasi yang mampu mengambil semangat dan mengikuti langkah perjuangan beliau Saw. dalam membangun sebuah peradaban yang diawali di Madinah. Membangun peradaban membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Dibutuhkan manusia yang berkualitas, persatuan, aturan yang jelas, dan terwujudnya kepemimpinan yang mengikuti metode kenabian seperti Khulafaur Rasyidin.
Karena itu, perjuangan Rasulullah Saw. bukan sekadar cerita tentang bagaimana sebuah kelompok menjadi kuat, tetapi bagaimana kita meneladani Rasul seperti para sahabat Nabi dahulu untuk menjaga Islam dan berpegang teguh padanya. Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Selain ayat di atas, Rasulullah Saw. pernah menyampaikan pesan kepada muslim untuk berpegang teguh pada Islam dan jangan melepaskannya. Hal ini menjadi pengingat bagi kita yang kini jauh dari Islam untuk kembali berpegang pada Islam. Rasulullah Saw. bersabda:
"Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafā'ur rāsyidīn al-mahdiyyīn (yang mendapatkan petunjuk). Gigitlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian." (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Perjuangan beliau adalah proses membentuk manusia dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah agar mendapatkan rahmat Allah Swt., sebagaimana itu menjadi tujuan diutusnya beliau Saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Seperti firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (Q.S. Al-Anbiya: 107)
Oleh karena itu, dengan meneladani Nabi Muhammad Saw. dan mengikuti cara Rasulullah Saw. berjuang, maka akan terwujud kehidupan yang penuh rahmat karena adanya iman dan takwa. Seperti firman Allah Swt.:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Q.S. Al-A‘raf: 96)
Pertanyaannya sekarang untuk muslim bukan apakah kita mengetahui sejarah perjuangan Rasulullah Saw., tetapi apa yang sudah kita lakukan setelah mempelajari perjuangan Rasulullah Saw.?
Sebab sirah tidak hanya membuat kita kagum kepada sosok Rasulullah Saw. saja. Namun, sirah seharusnya membuat kita bercermin pada masa kini.
Meneladani Rasulullah Saw. berarti berani memperbaiki hidup bermasyarakat, berani menghadirkan kemaslahatan dengan dakwah Islam, dan berani mengambil peran dalam kehidupan masyarakat seperti para sahabat.
Perjuangan Rasulullah Saw. telah menunjukkan kepada kita satu hal yang sangat jelas bahwa perubahan besar dimulai dari manusia yang dibina, umat yang dipersatukan, masyarakat yang ditata, dan Islam yang diperjuangkan secara konsisten.
Maka, jika hari ini kita benar-benar ingin meneladani perjuangan Rasulullah Saw., bukan bertanya “kapan kita akan melakukan perubahan besar itu?”, tetapi “sudahkah kita siap meneladani Rasulullah Saw. dalam mengubah kehidupan yang zalim ini menuju kehidupan yang penuh rahmat?”[]


0 Komentar