Subscribe Us

KRISIS AIR TANGERANG DAN SOLUSI TUNTAS ISLAM



Oleh: Hanum Hanindita, S.Si
(Penulis Artikel Islami)


Vivisualiterasi.com - Kekeringan panjang selama lima bulan terakhir memicu krisis air bersih yang parah bagi ratusan warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Sumur-sumur utama mengering total sehingga warga terpaksa beralih menggunakan air Sungai Cimanceuri yang keruh, berbau, dan dipenuhi sampah untuk kebutuhan harian. Agar layak dikonsumsi dan diminum, mereka harus mendiamkan air kotor tersebut selama tiga hari hingga kotorannya mengendap sebelum dimasak, meski dampaknya kini mulai memicu penyakit kulit seperti gatal-gatal pada warga setempat (tangerangnews.com, 17-09-2026).

Dampak kemarau ekstrem ini juga terlihat jelas pada menyusutnya debit air sungai utama di Kota Tangerang secara drastis. Salah satunya terjadi di Sungai Cisadane, di mana tinggi air merosot hingga menyentuh angka 11,1 meter dari kondisi normal yang biasanya mencapai 12,40 meter (news.detik.com, 19-09-2026).

Kegagalan Pemerintah Mengatasi Masalah

Pemerintah telah melakukan pengiriman air. Namun, penyaluran di lapangan menggunakan sistem skala prioritas dan antrean armada tangki. Karena luasnya wilayah yang terdampak krisis air, beberapa pelosok desa seperti sebagian area di Desa Karang Tengah, Pagedangan, sempat mengalami keterlambatan kiriman air hingga terpaksa menggunakan air sungai untuk sementara waktu. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan dan pembagian bantuan air di lapangan masih sangat berantakan dan lambat.

Jika diperhatikan lebih dalam, lambatnya bantuan air bersih tidak sebatas karena musim kemarau yang panjang. Saat ini air seperti barang dagangan untuk mencari keuntungan. Sumber-sumber air banyak dikuasai oleh kawasan industri besar dan perumahan mewah yang memiliki modal. Keadaan berbeda dengan yang dialami rakyat kecil di pelosok. Saat kemarau tiba, merekalah yang paling pertama menderita karena tidak memiliki jaringan pipa air bersih dan hanya bisa mengandalkan sumur biasa yang mudah kering.

Kondisi lambatnya bantuan di lapangan juga diperparah oleh masalah internal pemerintah. Distribusi air bersih sering tersendat karena beberapa faktor teknis berikut:

Pertama, keterbatasan armada. Jumlah truk tangki air milik pemerintah sangat sedikit (terbatas). Tentu saja ini tidak sebanding dengan luasnya wilayah desa yang kekeringan.

Kedua, birokrasi yang lambat. Sistem pengiriman air harus antre berdasarkan laporan resmi. Jika pihak RT, RW, atau kelurahan lambat mendata dan melaporkan kondisi warganya, maka bantuan air pun akan datang terlambat.

Ketiga, manajemen yang lemah. Penyaluran air di lapangan sering kali kurang teratur sehingga ada wilayah yang sudah mendapat bantuan, sementara wilayah pelosok lain justru terabaikan berbulan-bulan.

Kesimpulannya, krisis air ini adalah gabungan dari dua masalah besar. Di satu sisi, sistem yang ada lebih mengutamakan kepentingan bisnis pemilik modal daripada rakyat kecil. Di sisi lain, pemerintah sendiri masih lambat dan kewalahan dalam mengelola bantuan darurat di lapangan. Pemerintah seperti baru bergerak saat masalah sudah parah, bukan mencegahnya sejak awal.

Solusi Nyata Islam untuk Mengatasi Kekeringan

Islam memiliki cara pandang yang sangat jelas dan adil dalam melihat masalah air. Dalam hukum Islam, air adalah hak milik bersama seluruh rakyat (milkiyyah 'ammah). Air tidak boleh dikuasai oleh satu orang atau perusahaan swasta untuk mencari untung. Rasulullah saw. bersabda, "Kaum muslimin berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga perkara, yaitu: padang rumput, air, dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Hadis ini menjadi bukti bahwa sumber air yang besar seperti sungai, danau, dan mata air harus diatur langsung oleh negara. Negara wajib mengelola air tersebut dan membagikannya kepada rakyat secara gratis atau dengan harga yang sangat murah. Jika aturan ini dijalankan, tidak akan ada lagi istilah rakyat miskin kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk mengatasi masalah krisis air sampai tuntas, negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh akan melakukan dua mekanisme utama, yaitu melalui ibadah dan teknologi. Secara ibadah, Islam mengajarkan bahwa kekeringan terjadi karena ada hubungannya dengan dosa manusia. Karena itu, jika kemarau panjang tiba, pemimpin negara akan mengajak seluruh warga untuk sadar dan bertobat bersama-sama. Allah berjanji akan menurunkan hujan lebat bagi orang-orang yang mau meminta ampun. Allah Swt. berfirman:

"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu." (QS. Nuh: 10—11)

Selanjutnya, pemimpin akan mengajak rakyat salat meminta hujan (istisqa) bersama-sama di lapangan, mencontoh apa yang dulu sering dilakukan oleh Rasulullah saw. Hal ini pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Jazirah Arab dilanda kemarau sangat parah sampai tanahnya berubah hitam seperti abu. Khalifah Umar langsung mengajak rakyatnya bertobat dan salat istisqa bersama, hingga akhirnya Allah menurunkan hujan yang lebat.

Namun, Islam tidak hanya mengajarkan kita berdoa, tetapi juga mewajibkan negara melakukan aksi nyata lewat teknologi dan pembangunan. Dalam Islam, air adalah milik bersama seluruh rakyat. Jadi, air tidak boleh dikuasai atau dijual mahal oleh perusahaan swasta demi mencari untung. Negara wajib memastikan rakyatnya tidak kesulitan mengakses air bersih, dengan membangun bendungan besar, memasang pipa air langsung ke rumah warga, dan membuat pusat penyaringan air.

Sejarah membuktikan betapa canggihnya teknologi pengairan di masa kekhalifahan Islam dahulu. Contohnya, pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah, ada proyek saluran air raksasa bernama Ain Zubaidah. Proyek ini membelah bukit dan membuat terowongan bawah tanah sepanjang puluhan kilometer agar air bersih bisa mengalir secara gratis untuk warga Makkah. Selain itu, di Cordoba (Spanyol) masa Kekhalifahan Umayyah, para ilmuwan muslim membuat kincir air raksasa dan jaringan pipa keramik langsung ke rumah-rumah warga. Dengan sinergi antara doa yang tulus dan teknologi canggih yang dibiayai gratis oleh kas negara (Baitulmal), masalah krisis air bisa selesai dengan cepat, tuntas, dan rakyat bisa hidup dengan tenang.

Khatimah

Krisis air bersih di Tangerang bukanlah sekadar bencana alam, melainkan bukti nyata kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan masalah. Di bawah sistem saat ini, air yang merupakan hajat hidup orang banyak justru dikuasai korporasi demi keuntungan, sementara rakyat kecil dipaksa mengemis untuk mendapatkan hak paling mendasar mereka. Islam memberikan solusi fundamental dengan menegaskan bahwa air adalah milik bersama yang wajib dikelola langsung oleh negara dan didistribusikan merata secara gratis atau murah kepada seluruh rakyat. Oleh karena itu, masalah kekeringan ini hanya bisa selesai secara tuntas jika pemerintah menghentikan kapitalisasi air dan mulai membangun infrastruktur pengairan yang adil serta merata di dalam penerapan sistem Islam secara menyeluruh.

Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar