Subscribe Us

KORUPSI MARAK, INTEGRITAS RUNTUH: APA YANG HARUS KITA AJARKAN KEPADA ANAK?



Oleh: Ummu Harun
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Sebagai sesama orang tua yang sedang berjuang mendidik generasi masa depan, kita tentu merasa miris melihat berita-berita yang beredar belakangan ini. Kasus yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan alarm keras bagi kita sebagai orang tua: bagaimana kelak kita mendidik anak-anak kita. Mari kita renungkan bersama, karena pendidikan antikorupsi yang sesungguhnya tidak dimulai di gedung pemerintahan, melainkan di rumah kita sendiri.

Angka yang menyakitkan integritas

Pada Juli 2026, Febrie Adriansyah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Fakta yang terungkap ke publik sungguh mencengangkan: penyidik menemukan brankas tersembunyi di sebuah rumah di Sentul, Bogor, yang berisi 74 kilogram emas batangan, valuta asing, dan uang tunai dengan total nilai mencapai Rp476 miliar, demikian seperti dilansir Antaranews, 10 Juli 2026.

Kasus ini berkembang ke tiga mega skandal besar yang merugikan keuangan negara dalam jumlah fantastis, yakni dugaan korupsi tata kelola batu bara, perkara PT Asabri, dan PT Krakatau Steel. Jika diakumulasikan, total kerugian negara dari perkara-perkara tersebut mencapai Rp34,6 triliun [Kompas, 13 Juli 2026].

Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah hak rakyat, fasilitas publik, dan masa depan jutaan anak bangsa yang terampas.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebagai orang tua, kita perlu bertanya: mengapa seseorang dengan jabatan tinggi, pendidikan mentereng, dan karier mapan masih tergoda menyalahgunakan amanah?

Jebakan "sistem penghargaan" dan media sosial

Dari perspektif neurosains, manusia memiliki sistem penghargaan (reward system) di otak yang sangat peka terhadap uang, status, dan kekuasaan. Di era media sosial saat ini, dorongan tersebut semakin diperkuat oleh budaya flexing atau pamer kekayaan yang membuat harta berubah dari sekadar alat menjadi tujuan hidup utama. Jika sejak kecil anak kita terus terpapar pandangan bahwa "sukses adalah pamer kemewahan", maka prefrontal cortex-nya—bagian otak yang mengontrol moral dan pengendalian diri—akan melemah saat berhadapan dengan godaan uang besar di masa depan.

Kesalahan definisi sukses di rumah

Sering kali tanpa sadar kita hanya mengukur prestasi anak dari nilai rapor yang bagus, sekolah favorit, atau pekerjaan bergengsi dengan gaji tinggi. Kita lupa mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa integritas hanyalah alat untuk mencari celah. Orang pintar yang tidak punya karakter akan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan membungkus kesalahannya dengan seribu alasan.

Karakter yang dibentuk dari hal-hal kecil

Kita perlu waspada ketika anak mulai menyontek demi nilai tinggi, berbohong agar tidak dimarahi, atau mengambil barang milik teman tanpa izin dengan alasan "hanya pinjam". Jangan sampai kita sebagai orang tua justru menormalisasi dengan berkata, "Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak". Di saat itulah sebenarnya pendidikan karakter sedang berlangsung. Anak sedang belajar: "Apakah sesuatu menjadi benar hanya karena tidak ada orang yang melihat?"

Membangun benteng dari akar

Islam menawarkan solusi holistik untuk mencabut akar korupsi melalui perubahan orientasi hidup dan penegakan hukum yang konsisten:

Menanamkan sifat muraqabah
Dalam pendidikan Islam, jawaban atas godaan korupsi adalah muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi, meskipun tidak ada satu pun manusia yang melihat. Kesadaran inilah yang harus kita tanamkan sejak dini. Anak perlu memahami bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak harta, tetapi dari bagaimana harta itu didapatkan dan untuk apa digunakan.

Belajar dari ketegasan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. memberikan teladan kuat mengenai bahaya "hadiah" yang datang karena jabatan. Beliau pernah menegur keras seorang petugas zakat bernama Ibnu al-Lutbiyyah yang menerima hadiah pribadi saat bertugas.

Ibnu al-Lutbiyyah berkata kepada Rasulullah Saw.: "Ini adalah hasil pungutan zakat untukmu [Rasulullah/Negara]; dan yang ini hadiah untuk saya." Mendengar laporan ini, Rasulullah Saw. menolak hadiah yang diperoleh saat seseorang sedang bertugas.

Nabi bersabda: "Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu melihat apakah hadiah itu akan datang kepadanya atau tidak?"

Hadis ini mengajarkan kita untuk mendidik anak agar tidak mengambil keuntungan pribadi dari fasilitas atau posisi yang mereka miliki.

Keteladanan generasi awal
Kita bisa mengambil ibrah dari Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang sangat berhati-hati terhadap apa pun yang masuk ke tubuhnya. Beliau memahami bahwa apa yang dimakan akan membentuk watak.

Islam menempatkan korupsi sebagai kemaksiatan besar. Selain sanksi akhirat, koruptor juga dapat dikenakan hukuman ta‘zÄ«r yang berat di dunia, termasuk penyitaan seluruh harta, publikasi nama pelaku agar malu secara sosial (tasyhir), hingga hukuman fisik yang memberikan efek jera luar biasa.

Mari mulai dari rumah

Sebagai orang tua, kita harus menjadi teladan nyata. Anak-anak kita adalah peniru ulung; mereka tidak hanya tumbuh dari nasihat yang kita ucapkan, tetapi dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Jangan ajarkan kejujuran jika kita sendiri masih memanipulasi keadaan demi keuntungan pribadi.

Sebagai sesama orang tua, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: "Apakah kita sudah mengajarinya tentang kepemilikan?" Kita mungkin sangat takut anak hidup miskin atau kalah bersaing, tetapi seharusnya ada ketakutan yang lebih besar: takut jika anak memiliki banyak harta namun kehilangan rasa takut kepada Allah.

Memberantas korupsi tidak hanya dengan memperbaiki sistem pengawasan dan transparansi. Kita juga butuh manusia-manusia yang memiliki integritas dan rasa malu. Mari kita mulai dari rumah, dari meja makan kita sendiri. Pastikan anak-anak kita tumbuh dengan pemahaman bahwa jabatan adalah amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kehormatan untuk dibanggakan.

Karena pada akhirnya, bangsa yang bersih tidak hanya membutuhkan pejabat yang takut kepada hukum, tetapi manusia yang takut kepada Allah sebelum ia takut kepada hukum. Dan pendidikan untuk melahirkan manusia seperti itu dimulai hari ini, di tangan kita, para orang tua.[]

Posting Komentar

0 Komentar