#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Asap tebal kembali menyelimuti wilayah Kalimantan pada Agustus–September 2026. Tragedi ini berdampak pada kesehatan, aktivitas sekolah, hingga perjalanan warga. Naasnya, di balik kebakaran yang berulang ini tersembunyi pola yang tak pernah berubah. Bukan sekadar kebetulan atau cuaca panas, melainkan disinyalir ada sesuatu yang dirancang dan dibiarkan terus terjadi.
Tercium aroma bahwa proyek sistem kapitalisme sedang dijalankan dalam tragedi karhutla ini. Biasanya, pembakaran lahan dipilih sebagai alternatif paling murah dan cepat oleh para pemodal untuk membuka areal perkebunan maupun tambang.
Aroma "drama" kapitalisme kian menyengat ketika titik-titik wilayah yang terbakar disinyalir telah mengantongi izin HGU. Negara pun seakan lengah dalam pengawasan serta pemadaman. Tidak lama kemudian muncul "tumbal" sebagai tersangka pembakaran.
Kelemahan negara tersebut langsung ditutupi dengan menunjuk siapa yang akan menanggulangi bencana ini. Padahal, pertunjukan ini semakin menguatkan spekulasi bahwa negara merupakan operator birokrasi prooligarki.
Maka tak heran, beberapa hari setelah api padam, bibit sawit sudah tertanam di sana. Alam dan rakyat dijadikan alat demi keuntungan ekonomi semata di dalam roda kapitalisme.
Dalam Islam, alam adalah amanah Allah, bukan milik siapa pun untuk dirusak. "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya" (QS Al-A‘raf: 56). Pengelolaan harus menjaga keseimbangan dan kemaslahatan bersama, bukan keuntungan segelintir orang. Penguasa dan pelaku yang membiarkan kerusakan sama-sama memikul tanggung jawab.[] Gien Rizuka


0 Komentar