Subscribe Us

GAZA MEMANGGIL, SAATNYA PERISAI UMAT DITEGAKKAN




Oleh: Hyrnanda Sila
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Hingga saat ini Palestina masih dirundung duka. Serangan demi serangan terus diluncurkan Israel untuk menghabisi warga Palestina. Tercatat sejak Oktober 2023, kurang lebih 73.000 warga Palestina meninggal dunia, terutama perempuan dan anak-anak. Belum lagi warga kehilangan rumah, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas lainnya. Penderitaan ini akan terus berlanjut sampai warga Palestina benar-benar diusir dari tanah mereka sendiri.

Dilansir detik.com (1/9/2026), Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aksa di Yerusalem Timur yang diduduki. Ia didampingi sejumlah rabi dan personel keamanan untuk menyerukan pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah Israel, Menteri Pertahanan Israel, Katz dan Ben-Gvir berencana memindahkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam tujuh tahun dengan dalih migrasi sukarela, sambil menunggu persetujuan Amerika Serikat. Warga Palestina yang ingin bermigrasi diminta memilih negara tujuan yang bersedia menerima mereka dengan iming-iming status hukum, dokumen, visa, biaya perjalanan, hingga tempat tinggal sementara. Program ini diperkirakan membutuhkan investasi awal 3,3 miliar dolar AS dan pembiayaan hingga 16,6 miliar dolar AS, bergantung pada dukungan internasional dan kesepakatan dengan negara tujuan. Ben-Gvir juga mengusulkan pembentukan kementerian migrasi untuk mengawasi pelaksanaannya (Metrotvnews.com, 4/9/2026).

Alih-alih membantu warga Palestina, Israel justru secara halus mengusir mereka dari tanahnya sendiri. Israel membuat narasi seolah-olah warga Palestina sukarela keluar dari negaranya, padahal Israel sendiri berupaya mengusir mereka.

Sementara itu, di Tepi Barat, pemukim Zionis berupaya menerobos dan membakar sebuah masjid serta mencoretkan slogan bernada rasis dan ancaman terhadap warga Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa Israel ingin segera mengusir warga Palestina agar dapat menguasai tanah Palestina.

Inilah konsekuensi logis dari sistem negara-bangsa (nation-state) dan absennya otoritas politik Islam yang menyatukan kekuatan kaum muslimin untuk mengusir penjajah Zionis. Palestina berjuang sendirian tanpa bantuan dari negeri-negeri muslim lainnya. Kalaupun dibantu, bantuan tersebut tidak akan mendahului PBB yang berkuasa penuh atas perdamaian dunia. Akibatnya, sebagian negeri muslim terkungkung oleh paham negara-bangsa yang hanya memedulikan negaranya sendiri. Padahal, solusi yang ditawarkan sistem tersebut sering kali tidak membuahkan hasil karena hukum internasional modern merupakan produk negara-negara imperialis Barat yang justru menormalisasi penjajahan melalui istilah-istilah halus, seperti migrasi sukarela.

Begitulah ketergantungan negeri-negeri muslim yang mengambil sistem kapitalis sekuler sebagai ideologi dalam kehidupan. Mereka bergantung pada persetujuan Amerika Serikat, sedangkan Amerika Serikat mendukung penuh Israel karena sejatinya Israel merupakan proyek kolonial yang disponsori kekuatan besar, bukan entitas berdaulat yang independen.

Dalam situasi seperti ini, umat membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai perisai umat, yaitu kekuatan yang benar-benar hadir melindungi masyarakat ketika hak dan keselamatan mereka terancam, seperti yang dirasakan Palestina hari ini.

Perisai bukan berarti mengobarkan kebencian atau menyerukan kekerasan kepada masyarakat sipil. Sebaliknya, perisai umat berarti hadir dengan kekuatan politik, diplomasi, ekonomi, kemanusiaan, dan hukum untuk menghentikan kezaliman serta melindungi orang-orang yang tertindas.

Oleh karena itu, penyelesaian persoalan ini tentu harus dengan kekuatan besar pula, tetapi tidak dengan mengambil sistem hari ini sebagai solusi, melainkan harus mengambil ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu kembali pada hukum Allah Taala.

Solusi mendasar atas persoalan Palestina adalah pembentukan kembali khilafah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi setiap jiwa dan setiap jengkal tanah kaum muslimin. Negeri-negeri kaum muslim tentu harus bersatu padu untuk kembali pada hukum Islam dan membebaskan tanah Palestina, seperti Umar bin Khattab yang membebaskan tanah Palestina, begitu pula Salahuddin Al-Ayyubi yang mempersatukan Mesir, Syam, dan Hijaz untuk membebaskan tanah Palestina dari pasukan Salib yang ingin merebut Baitulmakdis.

Islam juga mengajarkan pentingnya persatuan:

Wa'tasimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu
"Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS Ali Imran: 103)

Persatuan inilah yang harus dibangun sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw., yakni berjihad sebagai thariqah (metode) baku politik luar negeri negara Islam untuk membebaskan tanah yang dijajah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Pembebasan ini dilakukan oleh negara melalui tentara resmi khilafah.

Khilafah sebagai satu kekuatan mandiri akan memutus total ketergantungan ekonomi-politik dengan negara-negara yang mensponsori Zionis dan mengonsolidasikan sumber daya, termasuk kepemilikan umum seperti minyak dan gas di dunia Islam, sebagai basis kekuatan militer-ekonomi independen untuk mendukung pembebasan Palestina. Oleh karena itu, umat wajib mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan khilafah sesuai dengan metode perjuangan Rasulullah saw. Namun, semua itu akan terwujud jika kaum muslim menyadari pentingnya persatuan umat dalam bingkai daulah islamiah.

Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar