Subscribe Us

NEW GAZA: SOLUSI HAKIKI ATAU KOMODITAS POLITIK DUNIA?



Oleh: Teti Ummu Alif 
(Penulis dan Pemerhati Masalah Umat)


Vivisualiterasi.com - Gaza masih berasap. Di antara reruntuhan yang belum sempat dibersihkan, di antara tenda-tenda pengungsian yang bocor setiap kali hujan, di antara antrean air dan roti yang menjadi pemandangan sehari-hari, tiba-tiba muncul gambar lain. Gambar itu bersih. Ada gedung kaca, ada marina, ada jalan lebar dengan lampu LED, ada tulisan kapital: NEW GAZA. Transisinya terlalu cepat. Terlalu mulus. Seakan-akan dunia sepakat bahwa setelah sekian lama menyiarkan kematian, sekarang waktunya menyiarkan brosur.

Kedengarannya memang masuk akal. Siapa yang tidak mau kota baru? Siapa yang menolak rumah, sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja? Narasi "rekonstruksi" selalu terdengar manusiawi. Apalagi jika dibungkus dengan bahasa teknologi, keberlanjutan, dan perdamaian lewat pembangunan. Namun, masalahnya bukan pada kata "baru". Masalahnya ada pada siapa yang bermimpi, siapa yang menggambar, dan siapa yang nantinya akan membayar dengan tanah, waktu, dan hak.

Kita seharusnya sadar. "New Gaza" tidak muncul begitu saja dari ruang kosong. Desainnya rapi, anggarannya besar, dan narasinya kompak. Itu adalah proyek politik. Proyek yang digerakkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dengan tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar membangun apartemen. Tujuannya adalah menghapus Palestina dari peta, pelan-pelan, dengan cara yang terlihat sah di mata hukum internasional dan enak dilihat di mata media.

Caranya sederhana. Pertama, hancurkan dulu: bom, blokade, kelaparan. Buat Gaza tidak layak huni. Kedua, tawarkan "solusi": kota baru, zona ekonomi, koridor dagang. Ketiga, geser penduduknya. Bukan dengan pengusiran terang-terangan yang memicu kecaman, tetapi dengan "relokasi sukarela" demi "masa depan". Keempat, setelah tanahnya kosong, namanya diganti. Sejarahnya ditulis ulang. Dan Palestina tinggal menjadi nama di buku pelajaran.

Itu bukan teori konspirasi. Itu pola. Pola itu sudah dipakai di banyak tempat. Dan Gaza adalah babak terbaru.

Contohnya sudah ada. Di Bosnia tahun 1990-an, setelah pembantaian Srebrenica, desa-desa Muslim diganti namanya, penduduknya dipindah, lalu dibangun "kota baru" untuk orang lain. Di Kashmir, pemukiman baru dibangun di atas tanah yang dikosongkan lewat undang-undang darurat. Di tanah-tanah adat di berbagai negara, krisis dibuat dulu, lalu datang "proyek pembangunan" dengan janji lapangan kerja. Polanya sama persis. Sekali lagi, Gaza hanya babak terbaru.

"New Gaza" adalah cara halus untuk mengatakan: kami tidak butuh kalian di sini, tetapi kami butuh tanahnya. Tanpa harus disebut penjajahan, tanpa harus disebut aneksasi. Cukup disebut pembangunan.

Di sinilah bahayanya berlipat. Karena di balik proyek itu ada satu paham yang tidak pernah berhenti sejak 1948: Zionisme. Paham yang menganggap satu kelompok punya hak ilahi atas tanah orang lain. Paham yang menganggap negara boleh berdiri di atas pengusiran, pembantaian, dan pemalsuan sejarah. Paham yang tidak mengenal batas.

Zionisme tidak hanya membahayakan Palestina. Itu baru permukaannya. Yang lebih berbahaya, Zionisme adalah cetak biru bagaimana sebuah negara bisa memakai kekerasan, lobi, dan narasi untuk menundukkan hukum. Bagaimana genosida bisa disebut pembelaan diri. Bagaimana pendudukan bisa disebut keamanan. Bagaimana pencurian tanah bisa disebut investasi.

Jika paham itu dibiarkan menang di Gaza, maka pesannya ke seluruh dunia jelas: siapa kuat, dia berhak. Siapa punya senjata dan media, dia berhak menulis ulang peta. Besok bukan hanya Palestina. Besok bisa siapa saja. Bisa minoritas di satu negara. Bisa negara kecil yang kaya sumber daya. Bisa komunitas yang tanahnya diincar untuk proyek "pembangunan". Zionisme mengajarkan bahwa kemanusiaan bisa dinegosiasikan, bahwa hukum bisa dibeli, bahwa sejarah bisa dihapus jika ada cukup uang dan dukungan diplomatik.

Makanya, diam terhadap Gaza bukan hanya soal solidaritas. Itu soal menjaga prinsip. Karena jika prinsip "tidak boleh merampas tanah orang" runtuh di Gaza, maka prinsip itu runtuh di mana-mana.

Logika komoditas bekerja persis seperti itu. Ia butuh krisis untuk menciptakan peluang. Ia butuh kehancuran untuk menjual pembangunan. Ia butuh narasi darurat agar semua orang terlalu lelah untuk bertanya siapa pemilik tanah ini sebenarnya. Ketika dunia sudah muak melihat jenazah anak-anak di layar, maka tawarkanlah sesuatu yang indah. Tawarkan harapan dalam bentuk properti. Tawarkan masa depan dalam bentuk proyek. Dengan begitu, rasa bersalah internasional bisa ditebus dengan cek, bukan dengan keadilan.

Padahal jika jujur, warga Gaza tidak sedang bermimpi tentang smart city. Yang dimimpikan sederhana: pulang ke rumah, meskipun rumah itu hanya sisa tembok. Sekolah lagi tanpa takut bom. Melaut tanpa ditembak. Menanam zaitun di kebun kakek tanpa ada pagar. Tidak ada satu pun dari mimpi itu yang butuh arsitek asing. Semua butuh satu hal: hak untuk menentukan sendiri.

Namun, hak itu jarang disebut dalam slide presentasi "New Gaza". Yang disebut justru "stabilitas kawasan", "koridor ekonomi", "hub maritim". Bahasa-bahasa itu terdengar netral. Padahal netralitas adalah kemewahan yang hanya dimiliki orang yang tidak sedang dibom. Bagi yang sedang dibom, tidak ada pilihan netral. Ada penjajah dan ada yang dijajah. Ada yang menembak dan ada yang ditembaki. Menyelipkan proyek pembangunan di tengah itu tanpa menyebut siapa penembaknya sama saja dengan menutup mata sambil tersenyum.

Lebih berbahaya lagi, "New Gaza" berisiko menjadi alat untuk menormalisasi pengusiran. Jika kotanya bisa dibangun di tempat lain, mengapa harus repot-repot mengembalikan pengungsi ke desa asal mereka? Jika ekonominya bisa dipindah ke zona industri baru, mengapa harus repot-repot mencabut blokade di pelabuhan lama? Dengan begitu, perpindahan paksa berubah nama menjadi "relokasi untuk pembangunan". Kehilangan tanah berubah nama menjadi "restrukturisasi wilayah". Dan semua itu dibungkus dengan kata "modernisasi".

Sejarah sudah berkali-kali menunjukkan polanya. Setiap kali ada wilayah yang ingin "diselesaikan" secara cepat, maka solusinya selalu sama: pindahkan orangnya, ubah petanya, jual narasinya. Yang tertinggal hanyalah nama jalan dan plakat peresmian. Sementara orang-orang aslinya dipaksa belajar hidup di tempat baru dengan identitas baru. Itu bukan rekonstruksi. Itu penggantian penduduk dengan versi yang lebih mudah dikelola.

Lalu bagaimana dengan uang? Proyek sebesar itu tentu butuh dana besar. Dan dana besar selalu datang dengan syarat. Syaratnya bisa berupa konsesi, kontrol keamanan, regulasi yang ditulis konsultan asing. Ujungnya, Gaza tidak dibangun untuk warga Gaza. Gaza dibangun untuk investor yang butuh pasar baru, untuk negara yang butuh citra dermawan, untuk kontraktor yang butuh proyek miliaran dolar. Warga lokal hanya mendapat peran sebagai buruh dan figuran di video promosi.

Itu sebabnya penting bertanya: solusi untuk siapa? Jika solusinya agar berita di televisi tidak terlalu mengganggu makan malam, maka ya, "New Gaza" adalah solusi yang efektif. Jika solusinya agar peta konflik bisa ditutup dan diganti peta investasi, maka ya, "New Gaza" juga solusi yang efektif. Namun, jika solusinya agar seorang anak di Rafah bisa tidur tanpa suara drone, agar seorang petani di Khan Younis bisa memanen tanpa izin militer, agar seorang mahasiswa bisa kuliah tanpa risiko ditahan, maka "New Gaza" belum menyentuh apa-apa.

Santai saja, tidak perlu marah-marah. Cukup lihat faktanya. Selama akar masalahnya tidak disentuh, maka bangunan baru hanya akan menjadi target baru. Selama orang tidak boleh pulang, maka rumah baru hanya akan menjadi museum bagi yang pernah tinggal di sana. Selama laut masih ditutup, maka marina baru hanya akan menjadi kolam renang pribadi bagi segelintir orang.

Ada juga argumen: "Ya sudah, terima saja dulu. Daripada tidak ada apa-apa." Argumen itu terdengar realistis. Namun, realisme tanpa prinsip akhirnya menjadi pembenaran. Menerima bantuan bukan berarti harus menerima syarat. Menerima pembangunan bukan berarti harus menyerahkan kedaulatan. Dan yang paling penting, menerima sekarang bukan berarti melupakan nanti. Karena yang sering terjadi adalah: orang disuruh melupakan dulu, dijanjikan akan diingat belakangan. Belakangan itu tidak pernah datang.

"New Gaza" juga berbahaya karena ia mencuri bahasa perlawanan. Ia memakai kata "bangkit", "pulih", "masa depan". Kata-kata itu milik warga Gaza. Namun, sekarang dipakai oleh orang-orang yang tidak pernah tinggal sehari pun di sana. Akibatnya, perlawanan yang tadinya tentang hak, berubah menjadi perlawanan tentang desain: tentang warna fasad, tentang merek semen. Padahal perlawanan paling dasar adalah menolak untuk dihapus dari peta.

Dunia memang pintar membuat masalah tampak teknis agar tidak perlu terlihat politis. Konflik diubah menjadi masalah kemanusiaan. Masalah kemanusiaan diubah menjadi masalah logistik. Masalah logistik diubah menjadi masalah pendanaan. Setelah sampai di pendanaan, semua orang lega karena akhirnya ada angka yang bisa dinegosiasikan. Padahal di awal, masalahnya sangat sederhana: ada orang yang tidak boleh hidup di tanahnya sendiri.

Zionisme memahami betul cara kerja itu. Ia tidak menyerang hanya dengan tank. Ia menyerang dengan narasi. Ia menyerang dengan mendefinisikan ulang kata "teroris", "korban", "perdamaian". Ia menyerang dengan membuat korban terlihat seperti pelaku, dan pelaku terlihat seperti korban. Dan ketika seluruh dunia mulai mengulang kosakata itu, maka penjajahan sudah setengah selesai.

Sejatinya Gaza hanya akan hidup mulia dan sejahtera tanpa rasa takut di bawah pemerintahan Islam, sebagaimana Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi merebut Palestina dari tangan kaum Salib. Sejarah mencatat, ketika Palestina dipimpin dengan keadilan Islam, semua agama bisa hidup aman, tanah tidak dirampas, dan darah tidak ditumpahkan tanpa hukum. Tidak ada blokade, tidak ada proyek penggusuran, tidak ada narasi "rekonstruksi" yang menyamarkan penjajahan. Yang ada hanyalah jaminan keamanan, perlindungan untuk yang lemah, dan kemuliaan bagi penduduk asli tanah itu.

Itu bukan nostalgia. Itu bukti. Bahwa masalah Palestina bukan soal kurangnya beton dan kabel fiber optik. Masalahnya adalah siapa yang memegang amanah atas tanah itu. Selama amanah itu diserahkan kepada penjajah dan anteknya, maka "New Gaza" hanya akan menjadi versi baru dari penindasan lama. Namun, selama umat kembali kepada prinsip keadilan yang pernah ditegakkan Umar dan Salahuddin, maka Gaza tidak perlu "diciptakan ulang" oleh orang asing. Gaza hanya perlu dibebaskan, lalu dibiarkan tumbuh dengan caranya sendiri.

Jadi, ketika ada yang bertanya apakah "New Gaza" adalah solusi hakiki, jawabannya tergantung definisi "hakiki". Jika hakiki artinya nyata, bisa disentuh, bisa dipakai, maka mungkin iya. Gedungnya akan nyata. Jalanannya akan nyata. Namun, jika hakiki artinya menyentuh akar, mengembalikan hak, memulihkan martabat, maka jawabannya belum. Belum, karena fondasinya masih salah. Fondasinya adalah penghapusan.

Bukan berarti menolak pembangunan. Bukan berarti menolak bantuan. Bukan berarti menolak masa depan. Semua orang berhak atas masa depan. Namun, masa depan itu harus dinegosiasikan oleh orang yang akan hidup di dalamnya. Bukan ditentukan di hotel berbintang oleh orang yang bahkan tidak bisa menyebut nama kamp pengungsian tanpa melihat catatan. Bukan ditentukan oleh negara yang sudah bertahun-tahun mengirim senjata dan sekarang mengirim arsitek.

Sampai hari itu tiba, "New Gaza" akan tetap menjadi mimpi. Namun, bukan mimpi warga Gaza. Ia adalah mimpi Washington dan sekutunya agar bisa tidur lebih nyenyak. Mimpi bahwa ada cara cepat untuk menutup luka tanpa harus meminta maaf. Mimpi bahwa ada cara elegan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus menyelesaikan ketidakadilan. Mimpi bahwa Palestina bisa dihapus tanpa harus menyebut kata penghapusan.

Dan selama mimpi itu terus dijual, maka Gaza yang sebenarnya akan tetap membara. Bukan karena orangnya suka api. Namun, karena orangnya menolak padam sebelum keadilan datang. Karena orangnya tahu, jika hari ini menyerah pada "New Gaza", maka besok tidak akan ada lagi "Gaza" yang lama untuk diingat.

Maka pertanyaannya kembali ke awal: ini kota untuk siapa? Jika jawabannya masih bertele-tele, jika jawabannya masih menyebut nama perusahaan dan negara donor sebelum menyebut nama warga, maka sudah jelas. "New Gaza" bukan solusi. Ia adalah desain politik untuk menghapus. Dan penghapusan, cepat atau lambat, akan menuntut perlawanan. Wallahu a'lam.[]

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Gaza hanya akan aman sentosa dibawah kekuasaan islam.. Allahu akbar

    BalasHapus