Subscribe Us

KRISIS MURID BARU DAN PILIHAN SEKOLAH SWASTA



Oleh: Ima Husnul Khotimah
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Sejumlah SD Negeri minim murid baru, bahkan ada yang tidak mendapatkan murid sama sekali. Sebagaimana yang dilansir CNN Indonesia, SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua orang siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Namun, meski hanya ada dua murid baru di kelas 1, guru tetap semangat menyambut mereka saat pelaksanaan MPLS pada hari pertama masuk sekolah. 

Begitu juga di SDN Purwoyoso 01, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang hanya menerima tiga siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Meski jumlah peserta sedikit, sama halnya dengan di SDN 1 Gedung Meneng, Lampung, sekolah tetap menggelar MPLS. 

Fenomena serupa juga terjadi di Sleman. Diperkirakan sekitar 80-an sekolah di Sleman mengalami hal yang sama. Sementara itu, di Bengkulu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong memperbolehkan sejumlah sekolah di daerah itu untuk tetap menerima murid baru, kendati telah melewati batas waktu pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. 

Berdasarkan fenomena tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan mengadakan rapat bersama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menangani sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit, bahkan ada yang hanya dua hingga tiga siswa. [CNN Indonesia, 15 Juli 2026]

Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini memunculkan pertanyaan mengenai penyebab di balik terus menyusutnya jumlah murid SD Negeri. Menurut peneliti, fenomena itu bukan sekadar persaingan antarsekolah, tetapi juga mencerminkan perubahan struktur demografi. Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI, Turo Wongkaren, membenarkan bahwa rendahnya daya serap SD menunjukkan penurunan penduduk usia muda. Menurutnya, jumlah anak muda sudah sangat berkurang sejak tahun 2010-an. Meskipun ada peningkatan, jumlahnya sangat sedikit [Kompas.com, 15 Juli 2026].

Beberapa penyebabnya adalah jumlah anak usia sekolah yang makin minim di sekitarnya karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi. Selain itu, ada pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama, seperti ibadah, mengaji, dan akhlak. Orang tua juga khawatir terhadap keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja semakin banyak. Salah satu solusi dari pemerintah adalah regrouping beberapa SDN menjadi satu, tetapi hal ini juga sulit karena jarak antarsekolah menjadi jauh.

Mengintip Akar Masalah Minimnya Siswa SD Negeri

Sebagaimana dijelaskan oleh Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI, Turo Wongkaren, di atas, adanya perubahan struktur demografi atau penduduk menua menyebabkan jumlah siswa usia SD menurun. Hal itu bisa jadi terjadi karena adanya program pemerintah tentang pembatasan anak, yaitu mencukupkan dua anak saja, yang menyebabkan jumlah kelahiran turun. 

Belum lagi adanya kegagalan kebijakan ekonomi yang menghimpit kehidupan masyarakat dan membuat biaya hidup semakin tinggi serta kesejahteraan sulit diraih. Akibatnya, pasangan muda enggan memiliki anak. Ditambah dengan maraknya urbanisasi karena kesenjangan pendapatan antara desa dan kota. Upah yang minim dan perbedaan antar kota serta kabupaten membuat masyarakat desa berpindah ke kota dengan harapan memperoleh penghidupan yang lebih layak.

Selain dikarenakan adanya penurunan dari sisi demografi, penyebab krisis jumlah murid baru di tingkat sekolah dasar adalah sikap orang tua yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri. Hal ini karena jam pelajaran agama di sekolah negeri lebih sedikit dibandingkan jam pelajaran umum, terutama pelajaran akidah dan akhlak yang seharusnya diberikan sejak anak duduk di sekolah dasar. Sementara itu, sekolah swasta menjanjikan hal tersebut. Akidah siswa terjaga, serta ibadah dan akhlak siswa terkondisikan. 

Banyak orang tua yang menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah. Contohnya hilangnya adab kepada guru dan orang tua, hilangnya rasa kasih sayang antarsiswa dengan adanya kekerasan, serta pergaulan yang tidak dibatasi antara pria dan wanita.

Perubahan kurikulum yang ada di SD Negeri pun menjadi salah satu faktor pertimbangan orang tua dalam memasukkan putra-putri mereka ke SD Negeri. Sejak tahun 2000-an saja sudah lebih dari 3 kali berganti kurikulum, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, Kurikulum 2013, Kurikulum 2013 Revisi, Kurikulum Merdeka 2022/2023, dan terakhir Kurikulum Merdeka 2025 - Deep Learning

Namun, dengan adanya perubahan kurikulum yang berulang kali, belum terbukti mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal. Malah semakin nyata pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya digunakan di tempat ibadah. Sementara di luar tempat ibadah, hukum buatan manusia yang digunakan. Seolah Allah tidak mengawasi gerak langkah serta perbuatan kita. Akibatnya, tidak sedikit generasi yang lahir dari sistem sekuler ini menjadi generasi yang tidak amanah dan tidak memiliki karakter khas sebagai seorang muslim.

Sekolah Tingkat Dasar dalam Negara Islam

Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban. Sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Dalam konsep Daulah Khilafah, pendidikan bukan sekadar "mencetak pekerja", melainkan pendidikan Islam untuk "mencetak generasi yang akan menjaga akidah, mencetak ulama, mujtahid, ilmuwan, dan teknisi, serta mencetak generasi yang bisa menjaga kemajuan peradaban".

Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan lulusan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana, dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas. 

Di sekolah tingkat dasar, akan dipelajari tsaqafah Islam seperti Al-Qur’an, Akidah, Ibadah, Sirah, Akhlak, dan Bahasa Arab. Selain tsaqafah Islam, akan dipelajari juga tsaqafah umum seperti Matematika, Ilmu Alam/Sains, Geografi, Sejarah Islam dan Dunia, serta Kesehatan. Tak ketinggalan pula keterampilan yang meliputi kaligrafi, olahraga, dan kerajinan tangan juga dipelajari. Selain itu, dilengkapi dengan adab, kepemimpinan, dan kerja sama.

Karena sistem sekuler menyebabkan adanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin, mengakibatkan sulitnya mencari penghidupan dan pekerjaan. Sehingga dalam benak masyarakat, pendidikan hanya untuk mencetak generasi pekerja yang setelah lulus akan bekerja mencari penghidupan. Oleh karenanya, untuk bisa bangkit dari keterpurukan, kesadaran masyarakat pun harus diubah tentang pentingnya pendidikan. Tidak berstandarkan untuk mencari materi semata, tetapi dinaikkan dari sekadar ingin menyelamatkan anak dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal.

Dalam hal ini, diperlukan dakwah politik. Dakwah politik ini penting. Politik bukan hanya semata berpikir untuk meraih kekuasaan, tetapi juga untuk membangun kesadaran politik masyarakat. Hal ini sangat penting karena dapat menggerakkan masyarakat untuk mengubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam. Sehingga akan tumbuh kesadaran dalam diri masyarakat untuk mencetak sedini mungkin generasi yang akan menjaga akidah, mencetak ulama, mujtahid, ilmuwan, dan teknisi, serta mencetak generasi yang bisa menjaga kemajuan peradaban. 

Wallahu a'lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar