Oleh: Nining Ummu Hanif
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Gen Z adalah sebutan untuk generasi yang lahir pada tahun 1997-2012. Rentang usia mereka saat ini 14 - 29 tahun. Gen Z menjadi generasi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia menurut Data Kependudukan Bersih [DKB] Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri tahun 2026, yaitu 49,60% dari 287,1 juta jiwa penduduk Indonesia. [blog.itera.ac.id, 5/8/2026]
Kondisi tersebut seharusnya menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi tersebut guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Namun kenyataannya, kondisi Gen Z terjepit oleh berbagai tekanan ekonomi. Lebih dari 48% Gen Z tidak merasa aman secara finansial. Rata-rata gaji masyarakat Indonesia Rp3 juta/bulan, namun biaya hidup dan beban kerja semakin tinggi. Ditambah dengan kebiasaan menghabiskan uang demi kesenangan sesaat [doom spending], membuat Gen Z kesulitan menabung untuk menghadapi kondisi darurat.
Salah satu tantangan terbesar mereka adalah hidup di bawah sorotan media sosial yang konstan. Setiap hari berbagai platform media dipenuhi dengan paparan gaya hidup estetik. Tanpa disadari, ini menciptakan tekanan psikologis yang disebut FOMO [fear of missing out]. Mereka takut ketinggalan tren hingga tanpa disadari menggerus pendapatan mereka lebih cepat, alias boros.
Selain itu, sebagian besar Gen Z membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh [self reward]. Transaksi yang dilakukan Gen Z bukan lagi pada kepemilikan barang melainkan lebih pada kebutuhan emosional, bukan juga sekadar kemewahan. Bukan berarti Gen Z boros tanpa alasan.
Sistem yang Menjebak
Berbagai tekanan dan krisis yang menghimpit Gen Z tidak muncul begitu saja. Bahkan berbagai stigma disematkan pada mereka seperti “generasi stroberi” atau “generasi rebahan” tanpa melihat bahwa mereka tumbuh dalam sistem yang penuh tekanan. Sistem kapitalis yang dianut negeri ini menjadikan uang sebagai tujuan utama dan riba dilegalkan. Biaya hidup semakin tinggi, mulai dari harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari sampai dengan harga properti yang semakin naik, sementara gaji yang diterima “jalan di tempat”, alias stagnan. Sementara itu negara gagal menyediakan solusi bagi problem mereka. Negara seolah lepas tangan dari kewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat, terutama Gen Z sebagai generasi yang produktif. Negara tidak menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan. Negara juga tidak mampu menekan harga properti dan segala kebutuhan hidup. Akhirnya Gen Z harus berjuang sendirian tanpa dukungan negara.
Kapitalisme juga memengaruhi gaya hidup Gen Z menjadi sekuler liberal. Di tengah kemudahan mengakses media sosial yang menggiring mereka untuk mudah bergaya hedon, FOMO, flexing, dan belanja impulsif. Industri sengaja menciptakan rasa “kurang”, lalu menjual solusinya. Algoritme menawarkan pelariannya dengan pay later bahkan pinjol.
Akibat lain dari sistem yang menjebak Gen Z adalah krisis tujuan hidup. Kapitalisme yang memisahkan aturan agama dalam kehidupan. Ketika Allah SWT dikeluarkan dari narasi hidup Gen Z membuat mereka bingung, kehilangan makna dan hakikat hidup. Mereka bekerja hanya untuk sekadar membayar cicilan dan sukses sekadar untuk validasi. Kebahagiaan hanya diletakkan pada pencapaian materi, bukan pada rida Allah SWT.
Islam Solusi di Tengah Badai
Islam menawarkan solusi atas krisis yang menghimpit Gen Z. Karena mereka adalah generasi produktif yang akan meneruskan peradaban. Negara akan fokus dalam perbaikan ekonomi yang berlandaskan akidah Islam. Dalam ekonomi Islam, aktivitas riba, judi, dan pinjol diharamkan dan diganti dengan muamalah yang berdasarkan syariat Islam.
Negara dalam Islam (Khilafah) akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat seperti kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang bisa diakses secara cuma-cuma. Tentu saja negara akan memaksimalkan pengelolaan SDA untuk kemakmuran rakyat. Negara juga akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga. Sehingga rakyat, khususnya Gen Z, tidak kesulitan mencari pekerjaan.
Selain itu, media penerangan dalam negara Khilafah merupakan aktivitas penting bagi dakwah. Oleh karena itu negara akan menutup akses media-media yang menawarkan konten-konten merusak yang tidak ada faedahnya, yang memicu gaya hidup yang hedon, FOMO, dan konsumtif. Sebaliknya negara Islam akan menjadikan media untuk mengaruskan informasi dan memperkuat pemahaman terhadap Islam. Teknologi informasi akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat sehingga akan tercipta masyarakat yang islami.
Selanjutnya untuk mengatasi kekosongan makna dan tujuan hidup Gen Z, negara akan mengokohkan tauhid seluruh rakyatnya. Paradigma Islam menjadikan tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzariyat: 56]
Dengan dasar akidah yang kokoh maka Gen Z sebagai generasi produktif akan mampu menghadapi berbagai tekanan karena menjadikan rida Allah SWT sebagai tujuan hidupnya. Gen Z akan menjadi generasi emas penerus peradaban Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]


0 Komentar