Subscribe Us

GEN Z DAN JERATAN GAYA HIDUP EKSIS


Oleh: Ina Febrianti, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Gajian masuk, notifikasi berbunyi, dan uang pun perlahan menghilang. Siklus keuangan Gen Z kini menjadi sorotan karena ini bukan lagi sebuah tren, tetapi sudah bermuara menjadi budaya. Bagi Gen Z, tanggal gajian bukan hanya untuk membayar sewa, listrik, dan tagihan bulanan. Setelah kebutuhan wajib terpenuhi, uang yang tersisa dialihkan untuk self-reward, seperti kopi kekinian, belanja daring, restoran viral, hiburan, hingga tiket konser. Di tengah biaya hidup yang terus menekan, menikmati hasil kerja atau gaya hidup konsumtif justru semakin dianggap sebagai kebutuhan emosional oleh Gen Z. Akibatnya, tekanan ekonomi tidak membuat konsumsi berhenti. Justru hal itu melahirkan siklus baru: bekerja keras untuk menghasilkan uang, menghabiskannya demi “healing”, lalu kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.

Mirisnya, dorongan konsumsi Gen Z tidak selalu muncul karena kebutuhan. FOMO atau rasa takut tertinggal dari tren yang lagi hype, sementara belanja daring kini menyediakan sistem pembayaran pay later yang membuat keinginan membeli terasa lebih mudah dipenuhi. Penelitian terhadap 385 Gen Z di Jabodetabek menemukan bahwa FOMO dan penggunaan pay later berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian impulsif. Artinya, FOMO dan kemudahan pay later dapat mendorong Gen Z membeli sesuatu secara spontan, bahkan ketika barang tersebut sebenarnya tidak masuk dalam rencana pengeluaran mereka. [ojs.indopublishing.or.id]

Namun, di balik tren tersebut tersimpan sebuah paradoks. Bagaimana mungkin generasi yang merasa tidak aman secara finansial tetap mengeluarkan uang untuk memenuhi budaya konsumtifnya? Survei Deloitte 2025 terhadap hampir 23.500 responden di 44 negara menunjukkan bahwa 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial, meningkat tajam dari 30% pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Gen Z bukan hanya tentang boros atau tidak mampu mengatur uang. Ada tekanan ekonomi yang berhadapan langsung dengan budaya konsumsi yang terus mendorong mereka untuk membeli, menikmati, dan memberi penghargaan kepada diri sendiri. [jakartasatu.com]

Sistem kapitalisme semakin menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z. Biaya hidup terus meningkat, sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan layanan transportasi yang semakin mahal. Generasi muda dengan gaji kecil dituntut berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Negara dalam sistem kapitalis hanya bertindak sebagai regulator, yaitu pembuat dan pengawas aturan. Oleh karena itu, rakyat dituntut bertahan melalui kerja keras dan bahkan mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian untuk memperbaiki suasana hati atau menghilangkan stres akibat tekanan hidup. Di saat yang sama, media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Disayangkan, pelarian dari stres lewat budaya konsumtif justru makin menambah masalah baru ketika kesenangan sesaat harus dibayar dengan kondisi finansial yang semakin membebani.

Di balik itu semua, ada krisis yang lebih mendalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Ketika hidup tidak lagi memiliki arah yang jelas, definisi kebahagiaan diperkecil menjadi seberapa banyak seseorang bisa membeli, menikmati, dan memuaskan keinginan sesaat. Capaian materi, tren, hingga validasi di media sosial akhirnya menjadi ukuran keberhasilan dan kebahagiaan. Padahal, kenikmatan tersebut hanya memberikan kesenangan sesaat dan tidak menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia hidup dan ke mana seluruh pencapaian itu akan bermuara? Dengan demikian, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan meraih rida Allah dan kemuliaan Islam.

Berbeda dengan negara Islam, Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA [kepemilikan umum] dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki. Negara juga berkewajiban memastikan kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan dapat terpenuhi. Dengan demikian, rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan berjuang sendiri.

Di sisi lain, Islam juga menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya, yang menjadikan kesenangan materi sebagai ukuran kebahagiaan. Media dalam Khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Dengan demikian, Gen Z tidak hanya diarahkan untuk memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik, tetapi juga dibekali filter agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara kebahagiaan yang bersifat sementara dan tujuan hidup yang lebih hakiki.

Dalam Islam, manusia tidak diciptakan semata-mata untuk mengejar kekayaan, popularitas, dan kesenangan duniawi. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Az-Zariyat: 56]
Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi dan misi sebagai pembangun peradaban Islam. 

Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar