Subscribe Us

DI BALIK HEALING GEN Z: TEKANAN EKONOMI DAN KRISIS TUJUAN HIDUP

 


Oleh: Dwi Nur 'Aeni
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang tumbuh di tengah banyak kemudahan. Teknologi berkembang pesat, informasi mudah didapat, dan berbagai peluang terbuka luas. Namun, di balik semua itu, Gen Z juga menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan. Di tengah kondisi tersebut, gaya hidup self-reward dan healing semakin populer. Lantas, apakah persoalan Gen Z hanya tentang bagaimana mengatur keuangan, atau ada persoalan yang lebih mendasar?

Faktanya, tekanan finansial memang menjadi persoalan yang dihadapi banyak Gen Z. Dilansir dari Kompas.com [12/8/2026], pembahasan mengenai gaji Gen Z menunjukkan adanya dilema antara menikmati hasil kerja melalui self-reward atau menyisihkan penghasilan untuk kebutuhan masa depan. Ketika kebutuhan hidup terus berjalan, anak muda harus membagi penghasilan untuk berbagai keperluan sekaligus memikirkan masa depan.

Hal tersebut sejalan dengan survei Deloitte yang dikutip Berita Energi. Sebanyak 48 persen Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Biaya hidup menjadi salah satu tantangan yang banyak dikhawatirkan generasi muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi yang dirasakan Gen Z bukan sekadar persoalan gaya hidup, tetapi berkaitan dengan kondisi kehidupan mereka.

Persoalan tersebut juga dibahas Kompas.com [3/5/2026] dalam artikel tentang Gen Z yang berada di persimpangan antara tekanan ekonomi, kedewasaan finansial, dan kehidupan keluarga. Artinya, persoalan finansial dapat memengaruhi keputusan penting dalam kehidupan generasi muda, termasuk ketika mereka harus menentukan masa depan dan membangun keluarga.

Ironisnya, di tengah tekanan ekonomi tersebut, alokasi pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru semakin mendapat tempat. Setelah bekerja atau menghadapi tekanan, konsumsi dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Membeli makanan, pakaian, pergi berlibur, atau mengikuti tren dianggap mampu memberikan kebahagiaan.

Menikmati hasil kerja tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, persoalan muncul ketika konsumsi dijadikan pelarian dari tekanan hidup. Media sosial semakin memperkuat keadaan ini dengan terus menghadirkan tren dan gaya hidup yang menarik. Akibatnya, muncul fear of missing out [FOMO], yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya sedang menghadapi persoalan ekonomi, tetapi juga tekanan dari budaya konsumtif. Dalam sistem kapitalisme, kebutuhan dan keinginan terus didorong untuk dikonsumsi. Ketika biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan belum tentu sebanding, negara seolah menyerahkan persoalan kesejahteraan kepada kemampuan masing-masing individu.

Tekanan ekonomi tersebut kemudian bertemu dengan gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kebebasan dan kesenangan materi sebagai bagian penting dalam kehidupan. Akibatnya, self-reward dan healing mudah dipandang sebagai solusi untuk mengatasi tekanan. Padahal, kesenangan dari konsumsi hanya memberikan kebahagiaan sesaat. Setelah itu, muncul keinginan baru yang harus kembali dipenuhi.

Lebih jauh lagi, ada persoalan yang tidak kalah penting, yaitu krisis tujuan hidup. Ketika manusia tidak memahami untuk apa ia hidup, kebahagiaan mudah diukur dari materi. Sukses dianggap ketika memiliki penghasilan tinggi, barang bagus, bisa berlibur, atau mampu mengikuti tren. Padahal, kehidupan manusia tidak berhenti pada pencapaian materi.

Allah Swt. telah memberikan jawaban tentang tujuan penciptaan manusia: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Az-Zariyat: 56]. Artinya, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Harta dan berbagai kenikmatan dunia boleh dimiliki, tetapi bukan menjadi tujuan utama kehidupan.

Karena itu, persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan hanya dengan meminta mereka lebih pandai mengatur keuangan. Islam menawarkan solusi yang menyentuh persoalan dari akarnya. Negara memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan dasar rakyat dan menciptakan lapangan pekerjaan yang layak. Dengan pengelolaan sumber daya alam yang benar, kekayaan negara dapat digunakan untuk kemaslahatan rakyat sehingga generasi muda tidak harus berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidup.

Islam juga memberikan perhatian terhadap pembentukan generasi. Media dan pendidikan seharusnya tidak menjadi sarana untuk menyebarkan gaya hidup konsumtif, tetapi diarahkan untuk memberikan edukasi, membangun ketakwaan, dan membentuk kepribadian Islam. Dengan demikian, generasi muda tidak mudah menjadikan tren dan materi sebagai ukuran kebahagiaan.

Pada akhirnya, persoalan Gen Z bukan hanya tentang gaji yang terbatas atau kebiasaan self-reward. Ada tekanan ekonomi, budaya konsumtif, dan krisis tujuan hidup yang saling berkaitan. Jika hanya diselesaikan dengan nasihat agar anak muda berhemat, persoalan mendasarnya tidak akan selesai.

Gen Z membutuhkan kehidupan yang sejahtera sekaligus arah hidup yang jelas. Islam menawarkan keduanya melalui sistem yang menjamin kebutuhan rakyat dan membangun manusia dengan akidah yang kokoh. Dengan penerapan syariat secara kaffah, generasi muda tidak hanya diarahkan untuk mengejar kesenangan dunia, tetapi dipersiapkan menjadi generasi yang memahami tujuan hidup dan memiliki visi membangun peradaban Islam.[]

Posting Komentar

0 Komentar