Subscribe Us

USTAZ AI TIDAK BISA MENJADI RUJUKAN AGAMA

Oleh: Ima Husnul Hotimah
(Kontributor Visualiterasi Media)

Vivisualiterasi.com-Tidak dapat kita pungkiri, di zaman serba digital ini, informasi apa pun akan mudah kita dapatkan. Terlebih lagi dengan adanya AI yang sekarang sudah masuk ke semua aspek kehidupan, termasuk keagamaan. Terkait hal ini, Kementerian Agama (Kemenag) menanggapi dan menilai kemunculan layanan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menjawab berbagai pertanyaan keagamaan menjadi fenomena yang mudah diterima generasi muda. Meski demikian, AI dinilai hanya dapat berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti ulama maupun rujukan utama dalam persoalan agama. AI tetap harus diposisikan sebagai alat bantu untuk mencari referensi atau merangkum informasi.

Meskipun AI bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam masalah fikih, pembelajaran Al-Qur'an, tentang ibadah, materi untuk kajian dan ceramah, serta bahasa Arab, setiap jawaban yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi dan divalidasi sebelum dijadikan pegangan. Ilmu keislaman tidak hanya berkaitan dengan teks keagamaan, tetapi juga menyangkut konteks, metodologi, dan kebijaksanaan (hikmah) dalam penerapannya. Aspek-aspek tersebut dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Karena itu, untuk persoalan keagamaan yang memerlukan penetapan hukum atau fatwa, masyarakat tetap harus merujuk kepada para ulama dan lembaga keagamaan yang memiliki otoritas.

AI jangan dijadikan rujukan utama.  

Sebagaimana kita ketahui bersama, AI adalah platform digital berupa kecerdasan buatan yang memberikan informasi lengkap yang diinginkan pengguna berdasarkan data dan informasi di internet. Padahal, tidak semua informasi di internet itu benar. Karena AI hanyalah alat, ia bisa salah, bisa berhalusinasi, dan bisa juga berbeda mazhab. Artinya, jangankan menjadi rujukan agama dan dimintai fatwa, AI bahkan tidak bisa dijadikan sumber informasi yang tepercaya, terutama dalam masalah pendalaman dalil. 

Ketika ada dalil berupa hadis, tidak cukup hanya mendasarkan pada dalil secara tekstual. Dibutuhkan juga pemahaman (mafhum).Hanya ulama/ustaz/guru yang bisa memberikan penjelasan terperinci terkait pertanyaan yang membutuhkan jawaban detail. Apalagi terkait dengan masalah kehidupan. 

Jika menjadikan AI sebagai rujukan keagamaan yang menjadi pandangan hidup kita, perlahan namun pasti hal itu akan menggantikan dan menggeser posisi ulama yang mukhlis. Apalagi platform digital tersebut berada di bawah pengawasan negara tempat algoritma dirancang berdasarkan kriteria kebijakan dan keamanan, serta berpotensi menghasilkan jawaban yang telah disaring dan dirumuskan.

Sikap Muslim dalam Menggunakan Teknologi

Ibaratkan AI sebagai perpustakaan berjalan. Selama AI dipakai untuk mempermudah belajar agama, berdakwah, dan mendekatkan diri kepada Allah, itu baik. Jangan sampai sebagai seorang muslim, ketika malas belajar Islam dan bertanya kepada ustaz, kita mencukupkan diri bertanya pada AI saja. Atau jangan sampai juga kita 100% percaya tanpa mengecek kembali secara terperinci. 

Hukum dan fatwa dalam Islam tidak akan berubah sampai kapan pun, meski teknologi berubah dan semakin canggih. Sumber hukum kita harus berasal dari Al-Qur'an, Sunah, ijmak sahabat, dan qiyas yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Maka untuk merujuk hukum Islam/agama dan meminta fatwa hukum haruslah kepada ulama yang berakal dan faqih fiddin.

Terlebih lagi, AI tidak bisa menggantikan peran ulama. Ulama memiliki adab, dan mereka berniat memberikan jawaban dari berbagai pertanyaan dalam rangka untuk diamalkan, bukan hanya untuk memberi jawaban saja. Yang pasti, ulama akan memberikan informasi akurat dan terperinci untuk hukum/fatwa dengan bersandar pada dalil syar‘i dan rasa takut kepada Allah semata. Sementara AI hanyalah platform digital yang tidak berakal dan tidak memiliki kesadaran. Sehingga tidak akan bisa menggantikan posisi ulama dalam berfatwa/rujukan agama (QS. An-Nahl: 43)

Ada 4 tips agar AI tidak menggantikan peran ustaz. 
Pertama, posisikan AI dalam benak kita kaum muslimin hanya sebagai "perpustakaan", bukan guru. Mengapa demikian? Karena dalam masalah keilmuan, ustaz memiliki sanad ilmu, adab, teladan, dan bisa melihat kondisi kita, sehingga bisa menjawab pertanyaan yang tepat sesuai kondisi kita. Sementara AI tidak mengenal kita dan tidak memiliki hati. 

Kedua, kita harus selalu _crosscheck_ jawaban AI kepada ulama/ustaz dan kitab-kitab ulama terdahulu. Sehingga tidak 100% ditelan mentah-mentah. Untuk memastikannya, tanyakan kepada ustaz/tabayun.

Ketiga, jangan menghilangkan 3 hal yang hanya ustaz yang bisa berikan, yakni: sanad dan ijazah ilmu, teladan akhlak, dan bimbingan hati. Karena ilmu tanpa adab adalah kosong. Dan adab akan tercipta ketika kita duduk di dalam majelis.

Keempat, jangan sampai AI menggantikan majelis ilmu. Karena dalam majelis ilmu ada banyak keberkahan yang bisa kita dapatkan. AI bisa memberi tahu apa yang benar. Namun, hanya ustaz yang bisa mengajarkan kita mencintai ilmu dengan benar. 

Sehingga, teknologi boleh canggih dari masa ke masa. Namun, hanya melalui ustaz/guru lah keberkahan ilmu akan kita dapatkan.  
Wallahu a‘lam bis-sawab.

Posting Komentar

0 Komentar