Oleh: Ummu Ridha
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Generasi Z atau Gen Z adalah kelompok demografi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Berada di antara Generasi Milenial dan Generasi Alpha, mereka dijuluki digital native karena menjadi generasi pertama yang tumbuh dan berkembang dengan internet serta teknologi digital sejak usia dini.
Sebagaimana kita ketahui bersama, pemerintah Indonesia menargetkan Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan bertransformasi menjadi negara maju. Visi ini didorong oleh bonus demografi, di mana sekitar 70% penduduk Indonesia berada pada usia produktif, yaitu 15–64 tahun. Hal inilah yang melatarbelakangi “Indonesia Emas 2045”, yang merupakan puncak momentum 100 tahun kemerdekaan RI.
Namun, di balik setiap perkembangan pasti ada dampak yang dirasakan oleh setiap generasi. Salah satu realita yang terjadi saat ini adalah Generasi Z mengalami kecemasan dan gangguan mental.
Diberitakan oleh Tirto.id, “Indonesia Emas 2045” bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas” jika anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi. Pernyataan ini bukan sindiran atau sarkasme terhadap visi Indonesia Emas 2045 yang digaungkan pemerintah, melainkan sebuah alarm serius mengenai kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan mengkhawatirkan dari hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026. Data terbaru menunjukkan hampir 10% atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang membutuhkan perhatian serius.
Budi menjelaskan, Program CKG 2025–2026 telah mengetes sekitar 7 juta anak. Hasilnya menunjukkan bahwa 4,4% atau sekitar 338 ribu anak mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8% atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depressive disorder). “Ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak sangat besar,” ujar Budi di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026, dikutip dari Antaranews.
Penyebab Kecemasan Gen Z
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Ada beberapa hal di antaranya.
Pertama, ekonomi dan finansial. Mahalnya biaya hidup dan persaingan lapangan kerja memicu kekhawatiran mendalam.
Kedua, tekanan akademik dan sosial, yakni tuntutan untuk sukses serta standar hidup yang tidak realistis di media sosial.
Ketiga, krisis eksistensial, yaitu ancaman nyata dari perubahan iklim global yang mengancam masa depan bumi.
Keempat, digitalisasi berupa paparan informasi negatif tanpa henti, seperti berita politik dan konflik.
Selain hal-hal di atas, potensi Gen Z sebagai pemuda dilemahkan oleh berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik-kapitalistik. Dalam sistem ini, Gen Z dipandang sebagai generasi yang tumbuh di bawah hegemoni teknologi dan pasar bebas yang seringkali menjerumuskan ke dalam gaya hidup materialistis dan budaya instan. Sistem ini membentuk mental yang rapuh, memicu krisis kesehatan mental akibat tekanan sosial, dan menjauhkan mereka dari nilai-nilai agama.
Abainya negara dalam mengurus generasi membuat Generasi Z justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya, alih-alih dirangkul.
Potensi dan Solusi
Di sisi lain, Generasi Z tumbuh dengan sikap kritis dan potensi perubahan. Di luar dampak negatif sistem yang dianggap gagal ini, justru menuntut Gen Z untuk bersikap lebih terbuka dalam berbagai perspektif. Dalam hal ini, Gen Z dilihat memiliki modal besar sebagai agen perubahan untuk lepas dari jeratan nilai-nilai liberalisme dan sekularisme.
Islam hadir sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Penerapan Islam akan mendatangkan rahmatan lil ‘alamin karena di dalamnya terdapat akidah yang membangkitkan dan syariat yang penuh rahmat.
Sebagaimana karakter generasi pada masa kejayaan Islam sangat kuat, berkepribadian, dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Salah satu contoh warisan dunia Islam yang menopang dunia modern adalah konsep algoritma yang berakar dari karya ilmuwan muslim abad ke-9, Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Namanya kemudian dilatinisasi menjadi Algoritmi, yang akhirnya kita kenal dengan istilah “algoritma”. Melalui karya-karyanya, terutama dalam bidang matematika dan astronomi, ia menyelesaikan persoalan langkah demi langkah yang disebut algoritma. Warisan ini menunjukkan bahwa kontribusi dunia Islam tidak hanya bersifat historis, tetapi terus berkembang dalam peradaban modern dan menjadi fondasi bagi teknologi mutakhir saat ini.
Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat harus menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Ini merupakan kewajiban negara yang tidak boleh dianggap sepele. Artinya, negara harus bersungguh-sungguh dalam memberikan hak rakyatnya. Mengapa demikian? Karena munculnya permasalahan seperti kecemasan pada Gen Z ini adalah bukti nyata dari abainya negara dalam ri‘ayah urusan rakyatnya.
Selain hal-hal di atas, menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban ideologi Islam serta peduli terhadap kondisi umat merupakan sesuatu yang sangat penting agar masa depan “Indonesia Emas” bukan lagi sekadar angan-angan, atau bahkan bisa jadi malah kandas.
Wallahu a‘lam bis-sawab.[]


0 Komentar