Subscribe Us

TAHUN AJARAN BARU: SERBA SUSAH, SERBA MAHAL


Oleh: Rina Ummi Nazril
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Setiap tahun menjelang tahun ajaran baru, banyak keluarga yang menghadapi beban biaya, terutama di tengah kondisi ekonomi yang kurang baik.  
Kondisi masyarakat hari ini, terutama di kalangan menengah ke bawah, sangat membingungkan para orang tua karena perekonomian yang tidak stabil. Apalagi menjelang tahun ajaran baru, orang tua harus berjuang mencari uang karena biaya pendidikan anak tidak sedikit. 

Misalnya, seragam sekolah mahal, peralatan sekolah mahal, bahkan biaya pendaftaran juga mahal. Semua itu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Beban biaya pendidikan tidak berhenti pada bangku sekolah. Bahkan, kita dapat melihat harga-harga di pasar yang melambung tinggi dan kerap membebani keluarga kurang mampu.

Tak hanya itu, orang tua juga mencari tempat sekolah yang nyaman dan aman bagi anak-anak. Di tengah kondisi saat ini, banyak sekolah yang tidak aman karena maraknya kasus pelecehan terhadap anak. Banyak orang tua yang serba bingung melihat kondisi ekonomi yang tidak stabil ditambah tempat pendidikan yang kurang aman bagi anak. (kompas.id)

Hari ini para orang tua menginginkan pendidikan yang berkualitas dan aman dari maraknya pelecehan seksual. Keamanan tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, tempat anak-anak mencari ilmu.

Pendidikan dalam Kapitalisme

Inilah salah satu wajah pendidikan dalam sistem kapitalisme. Ketika pendidikan semakin dekat dengan logika pasar, kemampuan ekonomi sering kali menjadi penentu utama terhadap kualitas pendidikan yang dapat diperoleh seseorang.

Sistem kapitalisme telah gagal membawa kesejahteraan. Banyak orang yang menderita, kesusahan, dan sengsara.

Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan untuk mengangkat derajat manusia terkadang berubah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau. Sekolah berkualitas sering kali identik dengan biaya tinggi. Fasilitas terbaik, lingkungan belajar unggulan, dan akses terhadap berbagai sumber ilmu lebih mudah dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial lebih besar.

Dalam sistem kapitalisme, pola pikir ekonomi berorientasi pada keuntungan. Sistem ini justru mengabaikan apakah hal tersebut bermanfaat atau tidak, halal atau haram, serta apakah menzalimi atau tidak. Yang dipikirkan hanyalah keuntungan semata. Negara pun tidak berperan sebagai penanggung jawab penuh atas kebutuhan dasar rakyatnya, termasuk pendidikan, apalagi di wilayah yang jarang terjangkau.

Kondisi ini merupakan gambaran sistem pendidikan yang dipengaruhi oleh ideologi kapitalisme, di mana pendidikan diperlakukan sebagai komoditas semata. Akses terhadap pendidikan berkualitas sering kali berkaitan erat dengan kemampuan ekonomi, sehingga keluarga berpenghasilan rendah menghadapi tantangan yang lebih besar. 

Akibatnya, kesenjangan pendidikan berpotensi semakin melebar. Ekonomi kapitalisme mengabaikan kebutuhan individu dan masyarakat, serta mengubah masyarakat dari yang sederhana menjadi hedonis.

Anak-anak dari keluarga mampu memiliki lebih banyak pilihan dan fasilitas, sementara sebagian keluarga lainnya harus berjuang keras agar anak tetap dapat bersekolah. Pendidikan hendaknya dipandang sebagai amanah dan investasi peradaban, bukan semata sebagai komoditas yang diukur dengan keuntungan materi.

Islam Mewujudkan Kesejahteraan

Islam datang membawa pandangan yang berbeda tentang ilmu dan pendidikan. Dalam Islam, ilmu bukan sekadar alat untuk memperoleh keuntungan materi. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia mengenal Tuhannya, memperbaiki kehidupannya, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai barang dagangan yang diberikan kepada mereka yang mampu membayar, sementara yang lemah harus tertinggal.

Dalam sistem Islam, seluruh rakyat merasakan kesejahteraan karena negara bertanggung jawab menjamin kebutuhan pokok setiap rakyat dengan menjalankan sistem ekonomi Islam. Islam menetapkan kebutuhan pangan, papan, dan sandang sebagai kebutuhan paling penting bagi setiap masyarakat agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, termasuk pendidikan. 

Negara bukan hanya bertindak sebagai pengelola, tetapi sebagai pihak yang memiliki amanah untuk melayani rakyat dan mewujudkan keadilan. Islam juga menetapkan keamanan, pendidikan, dan kesehatan sebagai hak dasar bagi seluruh masyarakat.

Rasulullah Saw. bersabda:  
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka."
(HR. Bukhari No. 7138; HR. Muslim No. 1829)

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sekadar kekuasaan, melainkan amanah untuk mengurus, melindungi, dan menyejahterakan rakyat dengan pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat.

Sistem ekonomi Islam dibangun di atas fondasi akidah Islam yang berasal dari Allah Swt., yang memuaskan akal, menentramkan hati, dan sesuai dengan fitrah manusia. Dalam sistem Islam, penguasa tidak boleh lepas tangan dari kewajiban mengurus rakyatnya, sebab ini adalah tugas utama sebuah negara untuk mewujudkannya.

Islam adalah ideologi yang sempurna yang dapat mengatasi berbagai permasalahan manusia, termasuk masalah ekonomi hari ini. Jika sistem Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka kesejahteraan itu akan terwujud.

Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar

0 Komentar