Subscribe Us

GEN Z: DARI DEPRESI MENUJU RESISTENSI



Oleh: Selvia
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1996-2013. Mereka merupakan generasi pertama yang sepenuhnya dibesarkan dengan internet dan smartphone, sehingga memiliki pengalaman dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Berbagai survei menyebutkan bahwa Generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Hasil riset yang diterbitkan American Psychological Association menunjukkan bahwa Generasi Z melaporkan kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya. Laporan riset juga mencatat peningkatan gangguan mental pada usia 18-27 tahun.  

Fakta ini diperkuat oleh survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats. Sebanyak 60% Generasi Z Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan, terutama terkait karier, kondisi ekonomi, dan kemampuan mencapai kehidupan yang layak. Semua ini membuat Generasi Z tumbuh dengan rasa tidak berdaya. "Mau ngapain juga percuma."

Faktor pemicunya beragam, antara lain pengaruh media sosial dan tekanan sosial.  
Khayalan dan ilusi di dunia maya yang didorong media sosial membuat Generasi Z menghadapi tantangan besar di dunia nyata. Mereka ingin mencapai hasil yang sempurna dalam kehidupan nyata dan menjadikannya standar mutlak yang harus dipenuhi. Keinginan untuk menampilkan kemewahan, kesenangan, dan kebahagiaan ingin segera dicapai secara instan. Akibatnya, mereka berupaya melakukan berbagai cara agar kehidupan di dunia maya seolah-olah terwujud menjadi nyata. Dampaknya buruk. Hal ini bukan sekadar persoalan individu. Otak manusia baru mencapai kematangan pada usia 25 tahun. Dopamin yang dipicu media sosial dapat menimbulkan kecanduan.

Gangguan yang paling banyak ditemukan antara lain: _burnout_ digital karena hidup 24 jam di layar, body image issues, sleep disorder, FOMO, anxiety disorder atau cemas berlebihan, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), depresi, serta gangguan stres.  
Kecanduan media sosial dapat memengaruhi otak secara berbahaya. Pengidapnya menggunakan media sosial secara kompulsif dan berlebihan, seperti terus menggulir unggahan gambar dan video hingga mengganggu aktivitas lain dalam hidupnya. Penggunaan media sosial yang berlebihan meningkatkan dopamin di otak yang memberi efek kesenangan. Akhirnya, otak mengidentifikasi aktivitas ini sebagai aktivitas yang bermanfaat dan menyenangkan sehingga perlu diulangi lagi.

Gen Z Bersikap Lebih Skeptis

Hal ini sudah menjadi fenomena global. Ketidakpastian dunia membuat Generasi Z menjadi generasi yang paling skeptis terhadap karier dan masa depan. Beberapa faktor yang mendorongnya adalah:

1. Ekonomi tidak menentu.

Kebutuhan hidup besar dan terus meningkat, PHK di sektor teknologi, inflasi, serta mahalnya harga rumah dan tanah membuat janji "kerja keras pasti sukses" tidak lagi sejalan. Wajar jika Generasi Z berpikir, "Buat apa percaya sistem kalau sistemnya sendiri kacau." Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di AS, Eropa, dan Asia.

2. Pekerjaan yang tidak manusiawi. 

Jam kerja terkadang tidak sesuai dengan upah. Bekerja tidak lagi seumur hidup. Dahulu orang bisa bekerja di satu perusahaan sampai pensiun dan menikmati hari tua dengan uang pensiun. Sekarang yang ada adalah kontrak, kerja lepas, dan _startup_ yang bangkrut. Generasi Z melihat itu dan berpikir: kuliah 4 tahun dengan biaya mahal, akhirnya hanya menjadi pekerja jasa laundry. Sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak ditambah derasnya arus media sosial menciptakan tekanan yang tidak ringan.

Skeptisisme Generasi Z bukan karena pesimis, tetapi karena sudah terlalu sering dikecewakan oleh ketidakpastian. Karena itu, banyak dari mereka lebih memilih kerja lepas atau berbisnis sendiri daripada bekerja di perusahaan atau kantoran.

Munculnya Gelombang Resistensi

Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.  
Mereka terbiasa membandingkan berbagai sudut pandang sehingga tidak mudah menerima suatu aturan atau kebijakan tanpa mempertanyakan alasan dan dampaknya. Selain itu, mereka lebih terbuka dalam menyampaikan kritik serta memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial. Karakteristik tersebut membuat mereka berani menyuarakan kritik dan melakukan resistensi terhadap sistem atau kebijakan yang dianggap tidak adil dan tidak relevan dengan tantangan zaman. Hal ini dapat menjadi titik balik bagi Generasi Z untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Banyak anak muda mulai mempertanyakan ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik kemanusiaan, hingga berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Bentuk perlawanan atau resistensi dari generasi ini tidak selalu berupa aksi fisik, melainkan manifestasi dari kesadaran kritis terhadap tekanan hidup. Mereka mengubah rasa sakit mental menjadi aksi nyata untuk bertahan dan mengubah keadaan. Potensi mereka sebagai generasi muda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekularisme-kapitalisme.

Dalam peradaban sekularisme saat ini, depresi bukan lagi sekadar gangguan klinis individual, melainkan produk struktural dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan dan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi atau keuntungan. Sistem ini memicu krisis kesehatan mental massal karena manusia mengalami alienasi atau keterasingan. Mereka terasing dari dirinya sendiri karena dipaksa menjadi sekadar mesin produksi demi bertahan hidup.

Seharusnya negara hadir sebagai regulator, pengurus, dan pelindung. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, negara terkesan abai. Alih-alih dirangkul, generasi muda justru sering mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Generasi Z sering dianggap lemah, malas, manja, dan dicap sebagai ‘Generasi Stroberi’.

Pemuda sebagai Agen Peradaban dalam Islam

Sejarah Islam menunjukkan bagaimana generasi muda mampu tampil sebagai motor perubahan. Mereka dibina dengan kepribadian Islam yang kuat sekaligus didorong menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. 

Dalam sistem Islam, negara memposisikan diri sebagai pengurus, pelayan umat, dan pelindung. Negara wajib memberikan jaminan ekonomi, keamanan, kesehatan, serta menjaga jiwa dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia secara adil. Dengan demikian, generasi muda dapat berkembang tanpa dibayangi ketakutan akan masa depan.

Dalam pandangan Islam, kegelisahan yang dirasakan Generasi Z dapat menjadi momentum kebangkitan. Islam bukan hanya agama ritual, melainkan mabda atau ideologi yang hadir sebagai solusi komprehensif atas krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Penerapan syariat Islam secara kaffah dijamin akan mendatangkan rahmatan lil ‘alamin.

Pengelolaan SDA dan SDM sesuai syariat Islam didasarkan pada pandangan bahwa setiap jiwa adalah hamba, dan yang terbaik adalah yang paling bertakwa kepada Allah Swt. Dengan jaminan riayah seperti inilah kecemasan yang hari ini dialami Generasi Z tidak lagi dirasakan. Demikian pula tercipta suasana yang rukun dan tenang sehingga mereka dapat fokus berkarya membangun peradaban Islam berdasarkan aturan dari Sang Pencipta.

Mereka adalah generasi yang memiliki syaksiyah Islamiyah, yaitu kepribadian Islam yang kuat. Mereka memiliki peran krusial dalam sejarah sebagai pembela Islam. Mereka tidak hanya faqih dalam agama, tetapi juga cakap dalam bidang keilmuan, teknologi, dan kepemimpinan. Di antaranya Muhammad Al-Fatih yang pada usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel, kini dikenal sebagai Istanbul di Turki. Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun telah dipercaya memimpin pasukan menuju Romawi. Ada pula Khaulah binti Tsa‘labah dan Ali bin Abi Thalib. Mereka menjadi sosok yang tangguh karena peran sistem dalam negaranya.

Selain itu, terdapat tokoh-tokoh seperti Imam Syafi‘i, Al-Khawarizmi, Maryam Al-Ijliyah, dan Fatimah Al-Fihri. Karya dan kontribusi mereka masih dirasakan dan menjadi rujukan kaum muslim saat ini. Hal ini menjadi bukti bahwa pemuda adalah agen perubahan besar dalam ilmu dan kepemimpinan berdasarkan nilai-nilai Islam yang agung.

Dengan mengkaji Islam secara kaffah, generasi muda akan memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai hamba Allah Swt. Islam menawarkan harapan, bukan hanya sebagai penenang jiwa, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mampu melahirkan generasi tangguh dan menghadirkan masa depan yang benar-benar layak diperjuangkan. Generasi inilah yang disebut Allah dalam Al-Qur'an sebagai umat terbaik. Dengan demikian, masa depan emas bukan lagi utopis.  

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.[]

Posting Komentar

0 Komentar