Subscribe Us

GAZA BERDARAH, ZIONIS MENGGILA



Oleh: Yanti Ummu Namira
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Harapan umat Islam dengan bergabungnya Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BOP) adalah dapat menyelesaikan permasalahan umat Islam dan mengakhiri penderitaan mereka, khususnya di Gaza. Namun, penderitaan Gaza belum juga selesai walaupun telah ada gencatan senjata. Ini menjadi mimpi buruk umat Islam yang menginginkan perdamaian Palestina, sementara Zionis mendapat bantuan Amerika. 

Apakah gencatan senjata dapat menghentikan agresi Zionis? Jawabannya tidak. Serangan ini terus berlanjut. Bahkan, yang banyak menjadi korban dari serangan ini adalah bayi, anak-anak, dan lansia, juga fasilitas dan tempat umum. Kondisi Gaza saat ini masih sangat menyedihkan. Sejak perjanjian yang diumumkan pada 10 Oktober 2025 sampai saat ini, Gaza masih terus dibantai. Secara kumulatif, sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai 72.027 syuhada dan 171.651 korban luka. Serangan-serangan ini berlangsung dalam pelanggaran yang terus-menerus dan disengaja. Gencatan senjata ini seolah-olah tidak pernah ada. Penghancuran terus berulang, menghabisi sisa-sisa rumah yang bangunannya masih berdiri kokoh.

Sejak pemberlakuan gencatan senjata pada 2 Oktober, tercatat 576 syuhada, 1.543 korban luka, serta 717 kasus evakuasi dan penemuan jenazah. Dari total korban, 180 adalah anak-anak dan 72 perempuan. Lebih dari 1.360 orang terluka, 57,5 persen di antaranya perempuan dan anak-anak. Kejahatan yang dilakukan Zionis Yahudi sungguh di luar kemanusiaan. Lebih biadab daripada binatang buas. Zionis Yahudi telah menggunakan senjata amunisi termal dengan suhu 3.500 derajat Celsius untuk menghilangkan jejak ribuan jasad korban genosida. Korban genosida hilang tanpa jejak.

Investigasi dari Al Jazeera menyebutkan bahwa sekitar 2.842 warga Palestina di Gaza dianggap "menguap". Tidak ada tubuh yang ditemukan, hanya sisa darah atau potongan kecil jaringan biologis. Penyebabnya adalah senjata suhu ekstrem. Senjata tersebut dalam laporannya termasuk: MK-84 "hammer bomb", bom berat 900 kg yang menghasilkan panas sangat tinggi; BLU-109 Bunker Buster, bom tembus yang meledak setelah masuk ke struktur; GBU-39 glide bomb, bom presisi yang dapat menghancurkan bagian dalam bangunan sambil meninggalkan struktur luar lebih utuh. Semua itu dipasok oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Dunia diam membisu seolah sudah terbiasa dengan darah yang terus mengalir, serta jeritan para anak dan ibu yang kehilangan. Para penguasa sibuk mempertahankan singgasana, mencari muka kepada Amerika dan sekutunya, dengan mengorbankan Gaza dan rakyatnya.

Para penguasa negeri muslim telah menampakkan pengkhianatannya yang nyata. Mereka bergabung dalam aliansi pembantai umat. Penjahat bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan secara langsung. Semua pihak yang ikut serta, membiarkan, atau mampu mencegahnya tetapi memilih diam adalah penjahat yang sama. Oleh karena itu, seluruh negara yang telah berpartisipasi dalam penandatanganan piagam Board of Peace, termasuk negara-negara yang bergabung, adalah mitra kejahatan kolonialisasi Amerika atas Gaza.

Para penguasa pengkhianat ini sangat berharap adanya perdamaian palsu dengan terbentuknya negara Palestina. Sementara itu, Yahudi sendiri tegas menolak gagasan Negara Palestina. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikap keras menolak pengakuan negara Palestina dan menolak bergabung dengan organisasi Board of Peace (BOP) buatan Amerika Serikat. Netanyahu mengatakan tidak akan mengizinkan pembangunan untuk Gaza atau pendirian kembali negara Palestina.

Yahudi telah menyatakan akan terus menggagalkan terbentuknya negara Palestina. Di antaranya adalah kebijakan baru pemerintah Israel yang akan memperluas kendali atas Tepi Barat, mempermudah administrasi penjualan tanah Palestina kepada warga non-Arab, dan memperluas wewenang atas wilayah yang sebelumnya dikelola oleh Palestina. Langkah tersebut bertujuan memperkuat keberadaan Zionis Yahudi dan sekaligus menolak pendirian negara Palestina.

Sangat menyedihkan, di saat kenyataan tidak bisa dihilangkan, penguasa negeri-negeri muslim masih bungkam dan rakyatnya masih dalam genggaman penderitaan akibat imperialisme. Oleh sebab itu, jangan takut atau ragu dalam menyampaikan kebenaran. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan junnah untuk menjaga keamanan dan kestabilan di negeri-negeri muslim. Dan sudah seharusnya umat berjuang untuk keadilan dan tidak menyimpang dari hukum syarak.

Ulama yang hanif sebaiknya mendorong umat agar menuntut kekuatan dan perlindungan kepada penguasa untuk membebaskan diri dari cengkeraman imperialisme serta menyingkirkan oligarki dan para penguasa yang menjadi agen kepentingan asing.

Umat Islam harus memiliki sistem negara yang berpotensi menyatukan akidah dan barisannya, yaitu Daulah Khilafah Ar-Rasyidah yang kedua, dengan menjalankan aturan manhaj kenabian. Oleh karena itu, umat Islam harus memperjuangkan dan menyerukan ke seluruh dunia untuk menegakkan kembali Khilafah. Hal ini sangat urgen dan harus kita dukung, bukan malah menyepelekan perjuangan tersebut.

Penegakan Khilafah merupakan agenda vital umat Islam. Sudah seharusnya kita yakin akan pertolongan dari Allah, yaitu kemuliaan Islam dan kaum muslim, kembalinya Khilafah Ar-Rasyidah, berjihad untuk mengusir entitas Yahudi yang masih mencaplok tanah Palestina, dan menaklukkan kota Roma setelah sebelumnya kota Konstantinopel ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih menjadi negara Islam di Istanbul.

Islam sudah terbukti berkuasa selama 13 abad dan tidak pernah cacat hukum, apalagi menelantarkan rakyatnya, seperti pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Ada seorang nenek Yahudi yang menangis karena tanahnya diambil oleh gubernur untuk kepentingan pembangunan masjid. Setelah terdengar di telinga Khalifah Umar bin Khattab, beliau langsung mengirim pesan berupa tulang kambing sebagai tanda kemarahannya kepada gubernur tersebut agar segera mengembalikan tanah milik nenek Yahudi tersebut. Ini adalah sejarah yang tidak bisa dilupakan bahwa Islam sangat peduli dengan manusia, apalagi yang berbeda akidah dengan Islam. Selama mereka tunduk dan patuh pada aturan Islam, maka Islam akan menjaga dan melindungi hak-hak mereka.

Semoga umat tersadarkan untuk berjuang mendirikan kembali Khilafah Ar-Rasyidah bersama Partai Hizbut Tahrir yang mengikuti manhaj kenabian. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.” (QS Muhammad: 7-8).

Inilah mengapa umat Islam harus dipimpin oleh Al-Qur’an, bukan hawa nafsu manusia atau ideologi kapitalis buatan manusia. Oleh sebab itu, hanya wahyu Allah Swt. yang mampu memberikan rasa aman dan membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki, yaitu keselamatan dunia maupun akhirat.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar