Subscribe Us

DERITA SUNYI ANAK GAZA YANG TERCABIK LUKA



Oleh: Salsabila
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Anak-anak Gaza kembali menjadi wajah paling menyedihkan dari tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina. Di tengah dentuman bom, kehilangan anggota keluarga, dan kehidupan yang dipenuhi ketidakpastian, mereka harus memikul beban yang bahkan sulit ditanggung oleh orang dewasa. 

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang telah melakukan dua misi kemanusiaan bersama _Médecins Sans Frontières_ (MSF) di Gaza mengungkapkan bahwa hampir tidak ada satu pun anak di Gaza yang terbebas dari trauma. Lebih dari satu juta anak mengalami dampak psikologis akibat perang yang berkepanjangan. Bahkan yang lebih memilukan, sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara karena trauma yang mereka alami. 

Mereka bukan kehilangan suara karena gangguan fisik. Sebaliknya, luka yang mereka rasakan begitu dalam hingga kata-kata tak lagi mampu keluar dari mulut mereka. Sebagian memilih diam, sebagian lainnya kehilangan kemampuan berinteraksi sebagaimana anak-anak pada umumnya. (detik.com, Sabtu, 30/5/2026)

Enam bulan setelah pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut dan “serangan-serangan Israel terus berlanjut secara rutin,” kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, April lalu. 

Sejak Oktober 2023, pasukan Israel telah dilaporkan membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 anak terluka menurut UNICEF. 
Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas warga sipil, dan melukai lebih dari 172.000 orang. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, fenomena ini menjadi bukti bahwa perang tidak hanya merenggut nyawa dan menghancurkan bangunan. Perang juga menghancurkan kesehatan mental serta masa depan generasi yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.

Derita Tak Kunjung Reda

Apa yang dialami anak-anak Gaza sesungguhnya bukan sekadar persoalan kesehatan mental. Di balik kebungkaman mereka tersimpan penderitaan yang sulit dibayangkan. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya dirinya, tetapi juga masa depan sebuah generasi. 

Anak-anak yang seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain kini harus terbiasa dengan suara ledakan, kehilangan orang-orang tercinta, dan hidup dalam ketakutan setiap hari. Tidak mengherankan jika trauma menjadi bagian dari kehidupan mereka. 

Ironisnya, tragedi kemanusiaan ini terus berlangsung di hadapan dunia. Berbagai kecaman dan bantuan kemanusiaan memang diberikan, tetapi penderitaan rakyat Gaza belum juga berakhir. Anak-anak tetap menjadi korban yang paling rentan.

Di sisi lain, tragedi Gaza juga mengingatkan umat Islam tentang pentingnya persaudaraan sesama muslim. Islam tidak memandang kaum muslimin berdasarkan batas negara, suku, atau warna kulit. Islam mempersatukan mereka dalam ikatan akidah yang sama. 

Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa umat Islam hidup dalam berbagai negara yang terpisah dengan kepentingannya masing-masing. Akibatnya, ketika satu bagian dari umat mengalami penderitaan, respons yang muncul sering kali belum mencerminkan kuatnya ikatan persaudaraan yang diajarkan Islam.

Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi penjagaan jiwa manusia. Tidak ada ruang bagi kezaliman dan penindasan terhadap orang yang lemah, terlebih lagi terhadap anak-anak. 

Allah Swt. berfirman:  
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ﴾  
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

Allah Swt. juga berfirman:  
﴿وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ﴾  
"Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak?" (QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap nasib kaum yang tertindas dan menolak segala bentuk kezaliman yang menimpa mereka. 

Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim merasakan penderitaan saudaranya, termasuk penderitaan yang dialami rakyat Palestina hari ini.

Konstruksi Islam

Islam mengajarkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus dan melindungi rakyat. Keamanan, keselamatan jiwa, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat bukanlah perkara yang boleh diabaikan. 

Karena itu, tragedi yang menimpa anak-anak Gaza seharusnya tidak hanya melahirkan rasa iba, tetapi juga membangkitkan kesadaran umat untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap sesama muslim. 

Persatuan umat bukan sekadar slogan, melainkan ajaran yang memiliki tujuan besar, yaitu agar kaum muslimin mampu saling menjaga, saling menguatkan, dan tidak membiarkan saudaranya menghadapi penderitaan sendirian. 

Anak-anak Gaza mungkin kehilangan kemampuan berbicara. Namun, penderitaan mereka seharusnya menjadi suara yang menggugah hati kaum muslimin di seluruh dunia untuk lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih memperhatikan nasib saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah.

Wallahu a’lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar