Berbagai survei di berbagai negara menunjukkan bahwa isu kesehatan mental menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi Generasi Z. Tingginya intensitas penggunaan media sosial, budaya perbandingan (_social comparison_), tuntutan untuk selalu tampil sempurna, serta ketidakpastian masa depan sering kali melahirkan perasaan tidak berharga dan kehilangan makna hidup. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang mengalami kelelahan emosional (_burnout_), menarik diri dari kehidupan sosial, bahkan kehilangan optimisme dalam menyongsong masa depan.
Namun, krisis mental bukanlah akhir dari perjalanan sebuah generasi. Sejarah menunjukkan bahwa setiap perubahan besar dalam peradaban lahir dari generasi yang mampu mengubah tekanan menjadi kekuatan, kesulitan menjadi pembelajaran, dan krisis menjadi momentum kebangkitan. Karena itu, tantangan terbesar bagi Generasi Z bukan sekadar bagaimana mengatasi depresi, melainkan bagaimana mentransformasikan pengalaman tersebut menjadi energi untuk memperbaiki diri, membangun masyarakat, dan menghadirkan perubahan yang lebih baik.
Dalam perspektif Islam, setiap ujian yang menimpa manusia mengandung hikmah dan peluang untuk meningkatkan kualitas keimanan serta ketangguhan diri. Al-Qur'an mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan, sementara Rasulullah Saw. mencontohkan bagaimana tekanan, penderitaan, dan berbagai tantangan justru menjadi sarana membentuk pribadi yang kokoh, sabar, dan visioner. Oleh karena itu, ketahanan mental tidak cukup dibangun melalui pendekatan psikologis semata, tetapi juga melalui penguatan akidah, ibadah, akhlak, dan tujuan hidup yang berorientasi pada rida Allah Swt.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan peradaban. Mereka menguasai teknologi, memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan yang luas, serta memiliki kreativitas dan keberanian dalam menyuarakan gagasan. Potensi tersebut akan menjadi kekuatan luar biasa apabila diarahkan oleh nilai-nilai moral dan spiritual yang benar. Dengan fondasi keimanan yang kokoh, krisis mental tidak lagi menjadi penghalang, melainkan titik awal lahirnya generasi yang tangguh, berintegritas, dan mampu membawa perubahan positif bagi umat, bangsa, dan peradaban manusia.
Di tengah tekanan ekonomi, persaingan yang semakin ketat, dan tuntutan untuk selalu produktif, Generasi Z menunjukkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu persoalan psikologis sering dianggap sebagai masalah pribadi yang harus dipendam, kini Generasi Z cenderung lebih terbuka untuk mengakui kesulitan emosional yang mereka alami serta mencari bantuan ketika diperlukan. Bagi mereka, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas hidup dan kesejahteraan secara menyeluruh.
Kesadaran tersebut tercermin dari meningkatnya kepercayaan terhadap layanan kesehatan mental. Hampir separuh responden Generasi Z yang mengalami gangguan kesehatan mental menyatakan bersedia memanfaatkan bantuan profesional, seperti konseling, terapi psikologis, maupun pengobatan. Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa mencari pertolongan bukan lagi dipandang sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai langkah yang wajar dan bertanggung jawab dalam proses pemulihan.
Meski demikian, tingginya kesadaran tersebut juga menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi generasi ini. Survei Jakpat menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan menjadi penyebab utama gangguan kesehatan mental, dialami oleh sekitar 60% responden. Ketidakpastian mengenai pekerjaan, kondisi ekonomi, dan dinamika global menimbulkan kecemasan yang terus membayangi kehidupan mereka, sebagaimana fakta yang dimuat di media _GoodStats_ pada 5 Juli 2026.
Selain itu, persoalan finansial menjadi sumber tekanan bagi 57% responden. Ekspektasi sosial untuk terus berprestasi dan memenuhi standar tertentu turut membebani sekitar 42% responden, sementara 36% lainnya mengaku merasa tidak berdaya menghadapi berbagai situasi yang berada di luar kendali mereka. Tekanan tersebut kemudian memengaruhi kondisi psikologis sehari-hari. Perubahan suasana hati (_mood swing_) menjadi keluhan yang paling banyak dialami, yakni sebesar 62%. Gangguan tidur, seperti insomnia maupun tidur berlebihan, dialami oleh 50% responden. Di samping itu, kecemasan berlebihan serta kesulitan mengendalikan emosi masing-masing dilaporkan oleh 38% responden.
Temuan tersebut berasal dari Survei Jakpat yang melibatkan 1.158 responden Generasi Z di Indonesia. Survei dilaksanakan pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring yang diakses menggunakan aplikasi Jakpat. Sampel disusun berdasarkan proporsi pengguna internet di Indonesia dengan tingkat kesalahan (_margin of error_) kurang dari 5%, sehingga memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai kondisi kesehatan mental Generasi Z di era saat ini.
"Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada Generasi Z tidak dapat dipandang semata sebagai masalah individu. Ia merupakan cerminan berbagai tekanan struktural yang dihadapi generasi muda saat ini, sehingga memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan moral."
Ketenangan jiwa dan kejelasan tujuan hidup tidak cukup dibangun melalui kemajuan teknologi atau peningkatan kesejahteraan material. Keduanya memerlukan sistem nilai yang mampu memberikan makna hidup sekaligus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Dalam pandangan yang mengkritisi kapitalisme dan sekularisme, krisis mental yang dialami generasi muda tidak dapat dilepaskan dari paradigma kehidupan yang lebih mengutamakan pencapaian materi daripada pembentukan karakter dan spiritualitas.
Dalam sistem kapitalisme, keberhasilan seseorang kerap diukur dari tingkat produktivitas, prestasi, dan kemampuan menghasilkan keuntungan ekonomi. Pendidikan pun lebih diarahkan untuk mencetak tenaga kerja yang kompetitif dan siap memenuhi kebutuhan pasar industri daripada membentuk manusia yang berkepribadian luhur, berintegritas, dan memiliki tanggung jawab moral. Di sisi lain, sekularisme memisahkan agama dari ruang kehidupan publik sehingga banyak generasi muda tumbuh tanpa pemahaman yang utuh mengenai tujuan penciptaan manusia dan makna kehidupan. Mereka akrab dengan berbagai bentuk hiburan, tetapi sulit menemukan ketenangan batin. Mereka memiliki ribuan koneksi di media sosial, tetapi tetap merasakan kesepian. Mereka dapat mengakses informasi tanpa batas, namun tidak sedikit yang kehilangan arah dan tujuan hidup.
Tantangan tersebut semakin kompleks di era digital. Generasi muda hidup dalam budaya kompetisi yang nyaris tidak mengenal jeda. Mereka dituntut meraih prestasi akademik maupun nonakademik, membangun citra diri yang menarik, menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, serta terus menunjukkan pencapaian di ruang digital. Media sosial pada akhirnya menjadi arena untuk mencari pengakuan dan validasi dari orang lain. Akibatnya, banyak anak muda terjebak dalam rasa takut tertinggal, takut gagal, takut tidak dihargai, dan takut tidak memenuhi standar yang dibangun lingkungan maupun dunia maya.
Ironisnya, ketika tekanan tersebut berujung pada gangguan kesehatan mental, penanganan yang dilakukan sering kali lebih berfokus pada dampak yang tampak di permukaan daripada menelaah faktor-faktor mendasar yang melatarbelakanginya. Karena itu, pembahasan mengenai kesehatan mental Generasi Z tidak cukup berhenti pada upaya penyembuhan individu, tetapi juga perlu mengkaji sistem nilai, lingkungan sosial, serta orientasi kehidupan yang membentuk cara generasi muda memandang diri mereka dan masa depan. Ini menjadi transisi menuju pembahasan bahwa Islam menawarkan fondasi akidah dan tujuan hidup yang diyakini mampu menjadi sumber ketenangan jiwa dan ketahanan mental.
Persoalan tingginya angka depresi di kalangan Generasi Z tidak dapat dipahami semata-mata sebagai masalah psikologis individu atau persoalan teknis yang cukup diselesaikan melalui kebijakan sektoral. Berbagai faktor yang melatarbelakanginya saling berkaitan dan berakar pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu paradigma kehidupan dan sistem yang mengatur tata kelola masyarakat. Dengan kata lain, krisis kesehatan mental juga berkaitan dengan bagaimana suatu sistem kepemimpinan merumuskan kebijakan, mengelola sumber daya, serta mewujudkan kesejahteraan dan rasa aman bagi masyarakat.
Berbagai program dan kebijakan yang telah diterapkan memang memberikan manfaat tertentu, namun berbagai persoalan mendasar masih terus berlangsung. Pengangguran, ketidakpastian pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, kesenjangan ekonomi, serta tekanan untuk tetap kompetitif masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak anak muda, termasuk Generasi Z. Dalam kondisi seperti ini, bonus demografi yang semestinya menjadi modal pembangunan berisiko berubah menjadi beban apabila tidak diiringi dengan sistem yang mampu menyediakan kesempatan hidup yang layak, pendidikan yang berkualitas, dan lapangan kerja yang memadai.
Dalam perspektif yang mengkritisi sistem sekuler-kapitalistik, berbagai persoalan tersebut dipandang tidak terlepas dari paradigma yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan menjadikan pertumbuhan ekonomi serta keuntungan material sebagai orientasi utama. Akibatnya, berbagai aspek kehidupan lebih banyak diukur berdasarkan efisiensi, produktivitas, dan persaingan daripada nilai keadilan, tanggung jawab sosial, dan kemaslahatan bersama. Kebebasan individu yang luas tanpa diimbangi oleh landasan moral dan spiritual dinilai turut memperkuat berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat modern.
Dalam sistem yang berorientasi pada persaingan, individu dituntut untuk terus berkompetisi agar dapat bertahan dan memperoleh akses terhadap sumber daya. Mereka yang memiliki modal, kekuatan ekonomi, atau akses yang lebih besar cenderung berada pada posisi yang lebih diuntungkan, sementara kelompok yang lemah harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi karena akumulasi kekayaan lebih banyak terkonsentrasi pada sebagian kecil kelompok masyarakat, sedangkan mayoritas harus bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas.
Dari sudut pandang tersebut, krisis kesehatan mental yang dialami Generasi Z tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan sistem kehidupan yang membentuk cara manusia bekerja, berkompetisi, dan memaknai keberhasilan. Oleh karena itu, upaya mengatasi persoalan ini dinilai tidak cukup hanya melalui pendekatan kuratif atau psikologis, tetapi juga memerlukan pembenahan paradigma dan sistem yang diyakini mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, serta ketenangan hidup secara lebih menyeluruh.
Islam memandang kehidupan dan waktu sebagai amanah yang sangat berharga yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Karena itu, setiap detik kehidupan memiliki nilai dan tujuan yang tidak boleh disia-siakan. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-'Asr ayat 1–3:
"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran."
Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia akan berada dalam kerugian apabila kehidupannya berlalu tanpa dilandasi keimanan, amal saleh, serta komitmen untuk menegakkan kebenaran dan kesabaran. Oleh sebab itu, Islam tidak membentuk generasi yang larut dalam kemalasan, keputusasaan, ataupun pelarian dari realitas kehidupan. Sebaliknya, Islam membina lahirnya generasi yang memiliki tujuan hidup yang jelas, cita-cita yang besar, dan kesungguhan dalam berkarya demi kemaslahatan umat.
Dalam perspektif Islam, waktu bukan sekadar untuk dihabiskan, melainkan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah, menuntut ilmu, mengembangkan potensi diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Karena itu, Islam menanamkan nilai _mujahadah_, yaitu kesungguhan dalam melawan hawa nafsu, rasa malas, dan berbagai godaan yang dapat menghambat seseorang dari melakukan kebaikan. Islam juga mengajarkan _istiqamah_ dan _istimrar_, yakni konsistensi dan kesinambungan dalam beramal, meskipun amal tersebut tampak kecil. Nilai-nilai inilah yang membentuk pribadi yang tangguh, disiplin, dan berorientasi pada tujuan yang mulia.
Sejarah peradaban Islam memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tersebut melahirkan generasi muda yang memiliki karakter kuat dan visi peradaban. Pada masa Rasulullah Saw., lahir pemuda-pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mus'ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid. Mereka tumbuh bukan sebagai generasi yang tenggelam dalam hiburan dan kesenangan sesaat, tetapi sebagai pribadi yang memiliki keberanian, tanggung jawab, serta dedikasi tinggi dalam memperjuangkan risalah Islam dan membangun peradaban.
Karakter tersebut lahir dari sistem pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan _syakhsiyah Islamiyah_, yaitu kepribadian yang dibangun di atas akidah Islam sehingga melahirkan pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan tuntunan syariat. Sejak usia dini, seorang anak dididik untuk memahami bahwa hidup merupakan amanah sekaligus ibadah kepada Allah Swt. Mereka dibimbing mengenal batasan halal dan haram, menyadari tanggung jawab sebagai hamba Allah, serta memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjauhi segala bentuk kesia-siaan.
Dalam sistem pendidikan Islam, pembinaan generasi juga tidak dibebankan semata-mata kepada lembaga pendidikan. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan kepribadian Islam. Negara berkewajiban menyediakan pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses oleh seluruh rakyat, sehingga pendidikan tidak menjadi beban ekonomi ataupun sekadar arena persaingan akademik yang berorientasi pada pencapaian material.
Dalam perspektif ini, perbedaan mendasar antara Islam dan kapitalisme terletak pada orientasi sistem yang dibangun. Islam menempatkan pembentukan manusia yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab sebagai tujuan utama, sedangkan keberhasilan material menjadi bagian dari konsekuensi, bukan tujuan akhir. Dengan demikian, sistem kehidupan Islam dipandang mampu membentuk individu yang sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan kokoh kepribadiannya.
Karena itu, sudah saatnya Generasi Z memandang Islam tidak hanya sebagai ajaran yang mengatur ibadah ritual, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang komprehensif. Islam menawarkan arah hidup yang jelas, membangun ketahanan mental, serta mendorong setiap individu untuk mengubah berbagai tantangan kehidupan menjadi energi positif dalam membangun diri, masyarakat, dan peradaban yang bermartabat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


0 Komentar