Subscribe Us

MASA DEPAN GAZA DIAMPUTASI



Oleh: Saffana Afra 
(Aktivis Mahasiswa)


Vivisualiterasi.com - Sejak Oktober 2023, pentas politik dunia disuguhi tontonan horor yang luar biasa memilukan dari Jalur Gaza. Laporan resmi berbagai badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan sedikitnya 20.179 anak Palestina tewas pada 7 Oktober 2023 hingga 7 Oktober 2025. Jumlah itu setara sekitar 30 persen dari semua korban tewas akibat perang [kompas.id, 25/06/2026]. Ini bukan sekadar deretan angka mati di atas kertas. Mereka adalah akumulasi jeritan kemanusiaan yang paling dalam. Ketika data otoritatif menunjukkan bahwa lebih dari seribu anak telah gugur, artinya rata-rata setiap hari ada anak Gaza yang kehilangan nyawa akibat serangan militer. Kita tidak lagi bisa berbicara tentang dampak samping dari sebuah perang (collateral damage). Kita sedang menyaksikan tindakan sistematis, terencana, dan sengaja. Anak-anak Gaza hari ini sengaja dijadikan sasaran, sebuah fakta telanjang yang mengarah pada satu kesimpulan hukum dan moral yang kelam: genosida.

Bagi anak-anak yang beruntung bisa bertahan hidup di tengah desingan peluru dan bom, hari esok sama sekali tidak menawarkan masa depan yang lebih baik. Mereka terpaksa melanjutkan hidup dengan cacat fisik permanen. Di saat yang sama, mereka memikul trauma psikologis yang sangat berat, luka batin yang mungkin tidak akan pernah sembuh seumur hidup. Kehilangan orang tua, kehancuran tempat tinggal, serta hilangnya akses terhadap air bersih, makanan, obat-obatan, dan pendidikan telah merenggut paksa masa kecil mereka. Dengan menghancurkan anak-anak, masa depan Palestina secara struktural sedang dihapus dari peta peradaban dunia. Ini bukan lagi sekadar konflik bersenjata biasa, melainkan upaya sistematis untuk melenyapkan sebuah bangsa dari akar generasinya.

Mengapa kekejaman yang begitu kasat mata ini terus melenggang bebas tanpa tersentuh hukum internasional? Jawabannya jelas dan mutlak: karena sistem global hari ini telah gagal secara moral, struktural, dan institusional. Rezim zionis menghalalkan segala cara, termasuk membantai anak-anak tanpa pandang bulu, demi mewujudkan ambisi geopolitik utama mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah geografis Palestina tanpa sisa dan mewujudkan impian teologis kolonial bernama Israel Raya. Mereka tidak pernah peduli, dan secara historis tidak akan pernah peduli, pada kecaman internasional ataupun seruan gencatan senjata kemanusiaan yang disuarakan majelis-majelis dunia.

Oleh karena itu, publik internasional harus berhenti bersikap naif dalam menganalisis krisis ini. Berharap pada efektivitas PBB adalah bentuk kesia-siaan politik yang telah teruji selama puluhan tahun. Puluhan bahkan ratusan resolusi telah dikeluarkan Majelis Umum maupun Dewan Keamanan PBB, namun semuanya berakhir menjadi tumpukan kertas tak berwujud. Institusi ini lumpuh total di bawah bayang-bayang hak veto negara-negara adidaya yang menjadi pelindung setia rezim tersebut.

Lantas, bagaimana kita membaca respons dunia Islam? Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Di saat anak-anak Gaza menjerit histeris meminta pertolongan di bawah reruntuhan beton, para penguasa di negeri-negeri Muslim justru tampak lumpuh dan tidak berdaya. Terbelenggu sekat nasionalisme sempit dan tersandera kepentingan politik-ekonomi kapitalistik, negara-negara ini lebih memilih menjaga stabilitas hubungan diplomatik dan tunduk pada arahan geopolitik Amerika Serikat ketimbang mengambil tindakan tegas. Retorika kutukan tajam yang mereka sampaikan di forum-forum internasional tak lebih dari kosmetik politik, sekadar untuk meredam gelombang kemarahan rakyat di dalam negeri, tanpa ada kemauan politik mengirimkan bantuan militer nyata.

Ketika seluruh institusi sekuler global, hukum internasional, dan konsep negara bangsa modern (nation-state) telah menunjukkan kegagalan totalnya dalam melindungi hak hidup manusia paling mendasar, umat Islam harus berani melakukan evaluasi ideologis. Kita harus keluar dari jebakan solusi pragmatis dan mulai menoleh pada solusi fundamental yang telah digariskan syariat Islam. Kita harus menyadari bahwa persoalan Palestina bukanlah konflik sengketa tanah atau perbatasan biasa, melainkan urusan akidah Islamiah dan isu kemanusiaan universal yang menyangkut kehormatan seluruh umat manusia.

Dalam Islam, satu-satunya institusi yang memiliki legitimasi politik, kedaulatan penuh, dan kekuatan militer nyata untuk menghentikan kebiadaban ini adalah Khilafah Islamiah. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Khilafah bukanlah sekadar konsep teoritis atau nostalgia sejarah masa lalu, melainkan institusi politik global yang keberadaannya diwajibkan agama untuk menyatukan seluruh potensi pertahanan umat Islam di seluruh dunia. Melalui komando jihad fi sabilillah yang sah, terorganisir, dan terstruktur di bawah satu kepemimpinan tunggal, Khilafah akan memiliki kapabilitas militer mumpuni untuk mengimbangi, mengalahkan, dan mengusir kekuatan militer zionis, sekaligus membebaskan tanah Palestina secara total dan mengembalikannya ke pangkuan umat.

Hanya di bawah naungan sistem politik Islam yang independen, hak asasi anak-anak Palestina dapat dipulihkan secara menyeluruh melalui perlindungan jiwa secara mutlak dengan kekuatan militer yang disegani, rehabilitasi fisik dan mental, serta jaminan kesejahteraan dan pendidikan, maupun seluruh aspek masa depan mereka.

Bagi umat Islam, perjuangan untuk mengembalikan dan menegakkan kembali Khilafah Islamiah bukanlah isu pinggiran, melainkan persoalan hidup mati (qadhiyah mashiriyah) yang menentukan eksistensi umat. Tragedi berdarah di Gaza telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa mempercayakan nasib kemanusiaan dan masa depan generasi penerus pada konstelasi politik global sekuler hanya akan memperpanjang daftar syuhada anak-anak di tanah tersebut. Sudah saatnya umat Islam global membangun kesadaran kolektif yang kokoh. Menyelamatkan anak-anak Gaza secara hakiki berarti berani memutuskan ketergantungan pada sistem internasional yang rusak ini, dan kembali berjuang mewujudkan perisai umat yang sesungguhnya.[]

Posting Komentar

0 Komentar