Subscribe Us

GEN Z: ANTARA KRISIS PERADABAN DAN HARAPAN KEBANGKITAN

Oleh: Haifa Manar  
(Penulis dan Aktivis Dakwah) 

Vivisualiterasi.com-Generasi Z sering kali disebut sebagai generasi yang paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Bagaimana tidak? Mereka lahir di era teknologi yang berkembang begitu cepat, tumbuh bersama internet, dan menyaksikan perubahan sosial yang bergerak nyaris tanpa jeda. Berbagai perkembangan digital membuat mereka mampu mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain tanpa harus meninggalkan tempat duduknya. Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan zaman, generasi ini juga memikul beban yang tidak ringan.

Faktanya, dilansir dari _GoodStats.id_, 8/4/2026, data menunjukkan sekitar 60% Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Berdasarkan hasil survei Deloitte, 53% Gen Z mengkhawatirkan biaya hidup di tengah kesulitan ekonomi, apalagi mengingat kebutuhan dasar yang terus merangkak naik. _Mojok.co_, 30/4/2026.

Mereka adalah generasi yang hidup dalam tsunami informasi. Generasi yang mampu terhubung dengan siapa saja melalui layar gawai. Akan tetapi, tatkala akses terhadap informasi semakin terbentang, ketenangan justru menjadi sesuatu yang semakin sulit ditemukan, dan tidak jarang dari mereka akhirnya merasa kesepian.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu yang gagal meregulasi emosi, melainkan cerminan kondisi dunia yang sedang menghadapi berbagai krisis secara bersamaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, Gen Z juga mengalami tantangan serupa. Ketika ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian, rasa cemas bukan lagi pengalaman yang dialami segelintir orang, melainkan gejala sosial yang dirasakan satu generasi secara kolektif.

Dunia yang diwariskan kepada Generasi Z bukanlah dunia yang stabil dan menjanjikan seperti yang dibayangkan banyak orang. Ada krisis ekonomi, perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak. Semua itu membuat masa depan tampak semakin kabur. Keresahan tersebut muncul dari berbagai arah yang saling berkelindan. Maka, tidak mengherankan apabila banyak anak muda—terutama Gen Z—tumbuh dengan rasa skeptis terhadap sistem yang ada. Sebab pengalaman menyaksikan krisis yang terus berulang telah mengkristal dalam ingatan dan kesadaran mereka.

Di sisi lain, media sosial juga ikut menghadirkan tekanan psikologis yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang. Setiap hari mereka disuguhkan potret kesuksesan orang lain, pencapaian yang dipamerkan tanpa henti, standar kehidupan yang tampak sempurna, dan ekspektasi yang acapkali tidak realistis. Hal ini berdampak pada banyak anak muda yang kemudian merasa tertinggal, bahkan ketika mereka sebenarnya sedang berjalan dan bertumbuh sesuai dengan proses hidupnya sendiri. Kehidupan pun berubah menjadi arena perbandingan yang melelahkan, sementara rasa cukup semakin sulit ditemukan.

Akar Kecemasan Generasi: Di Balik Krisis Peradaban

Sesungguhnya, jika ditelaah lebih dalam, akar persoalan yang melahirkan kecemasan Generasi Z tidak timbul begitu saja. Kecemasan tersebut merupakan konsekuensi dari krisis multidimensi yang sedang melanda dunia hari ini. Krisis ekonomi membuat banyak anak muda pesimis terhadap peluang memperoleh kehidupan yang layak. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensinya. Sementara itu, mereka yang sudah bekerja harus berhadapan dengan ketidakpastian jenjang karier dan penghasilan yang sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Kondisi ini perlahan menggerogoti keyakinan hingga menimbulkan pertanyaan besar: apakah kerja keras masih cukup atau kerja cerdas masih relevan untuk menjamin masa depan?

Di saat yang sama, krisis sosial dan budaya terus memperburuk keadaan. Sistem kehidupan yang berlandaskan sekularisme dan kapitalisme menjadikan keberhasilan materi sebagai ukuran utama dalam menilai seseorang. Nilai manusia sering kali ditentukan oleh jabatan, kekayaan, popularitas, atau pencapaian yang dapat dipamerkan di ruang publik.

Lebih dari itu, dalam sistem yang memuja materi, manusia perlahan kehilangan tali yang menghubungkannya dengan makna hidup yang hakiki. Banyak anak muda yang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu produktif, selalu berhasil, dan selalu lebih unggul daripada orang lain _overachiever_. Karena tatkala mereka tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka merasa gagal, tidak berharga, dan kehilangan arah. Potensi besar yang seharusnya berkembang untuk membangun peradaban justru habis terkuras untuk mengejar validasi dan pengakuan.

Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya perhatian serius terhadap pembentukan jati diri generasi muda. Banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya bonus demografi dan potensi generasi masa depan, tetapi tidak sedikit yang mengabaikan kebutuhan mendasar mereka untuk mendapatkan _ri‘āyah_ atau pembinaan, perlindungan, dan arah yang jelas. Anak muda didorong untuk berkompetisi, tetapi tidak dibekali landasan pemikiran yang kokoh. Mereka kerap dituntut menjadi produktif, tetapi tidak diajarkan cara memahami tujuan hidup secara komprehensif.

Akibatnya, ketika menghadapi berbagai tekanan kehidupan, banyak yang merasa kehilangan pegangan. Kegundahan yang mendera akhirnya tumbuh bukan hanya karena persoalan ekonomi atau sosial, tetapi juga karena ketiadaan makna yang tidak mampu diisi oleh kemajuan teknologi maupun kemewahan material.

Labelisasi terhadap Generasi: Apakah Stigma Menjawab Persoalan?

Alih-alih mendapatkan dukungan yang memadai, Generasi Z justru sering kali menjadi objek penilaian dan sasaran berbagai stigma negatif. Mereka dicap sebagai generasi yang terlalu sensitif, mudah mengeluh, tidak tahan banting, bahkan dianggap kurang memiliki etos kerja dibandingkan generasi sebelumnya. Narasi seperti ini menimbulkan polarisasi di ruang publik dan media sosial sehingga menciptakan kesan bahwa berbagai persoalan yang mereka hadapi muncul akibat kelemahan pribadi semata. Padahal, cara pandang seperti itu mengabaikan kenyataan bahwa setiap generasi tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda. Tantangan yang dihadapi Generasi Z jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kemauan atau ketangguhan personal.

Tatkala stigma lebih banyak diberikan daripada empati, yang muncul bukanlah solusi, melainkan jurang pemisah antargenerasi. Anak muda merasa tidak dipahami, sementara generasi yang lebih tua cenderung gagal melihat akar persoalan yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan banyak kegelisahan yang tidak menemukan ruang untuk didengar dan diselesaikan.

Dalam kondisi seperti ini, negara seharusnya hadir sebagai _junnah_ atau pelindung sekaligus _ra‘īn_ atau pengurus urusan rakyat. Namun, realitas menunjukkan bahwa berbagai kebijakan sering kali belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi generasi muda. Kesempatan kerja yang layak masih menjadi tantangan, akses pendidikan berkualitas yang merata masih menjadi angan-angan, sementara pembangunan karakter generasi sering kali kalah prioritas dibandingkan kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek. Padahal, masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.

Kesadaran Generasi: Resistensi sebagai Energi Perubahan

Meski demikian, memandang Generasi Z hanya dari sisi disorientasi dan kerentanannya merupakan kesalahan besar. Sebab, di balik berbagai tekanan yang mereka alami, sesungguhnya sedang tumbuh kepekaan yang semakin kuat terhadap berbagai masalah di sekeliling mereka.

Generasi ini dikenal lebih kritis terhadap ketidakadilan, lebih berani menyuarakan pendapat, lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, dan lebih terbuka dalam membahas berbagai persoalan yang sebelumnya dianggap tabu. Mereka tidak mudah menerima sesuatu hanya karena tradisi atau otoritas mengatakannya. Mereka ingin memahami alasan di balik setiap kebijakan, setiap aturan, dan setiap fenomena sosial yang terjadi. Meski terkadang timbal balik yang didapat dari generasi yang lebih dahulu tidak lebih dari cibiran dan ejekan, sikap kritis inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut gelombang resistensi Generasi Z. _Kompas.id_, 25/5/2026.

Pada dasarnya, resistensi yang muncul tidak selalu berupa penolakan atau pemberontakan. Dalam banyak kasus, resistensi justru merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi yang dianggap tidak ideal.

Ketika anak muda mempertanyakan ketimpangan sosial, mereka sedang menunjukkan bahwa nurani mereka masih hidup. Ketika mereka mengkritik kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, mereka sedang menunjukkan bahwa mereka tidak ingin menjadi generasi yang apatis. Ketika mereka berbicara tentang kesehatan mental, lingkungan, pendidikan, atau masa depan bangsa, mereka sedang memperlihatkan bahwa mereka memiliki harapan terhadap perubahan. Dengan kata lain, tekanan psikologis yang mereka rasakan dapat menjadi energi sosial yang mendorong lahirnya kesadaran kolektif.

Di samping itu, sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa perubahan besar sering lahir dari generasi yang gelisah terhadap kondisi zamannya. Kegelisahan bukan selalu tanda kelemahan atau kerapuhan. Kegelisahan justru menjadi bahan bakar yang menggerakkan perubahan. Karenanya, kecemasan Generasi Z tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari segalanya. Sebaliknya, ia dapat menjadi titik awal lahirnya generasi yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih siap mengambil peran dalam memperbaiki keadaan.

*Solusi Hakiki: Islam sebagai Jalan Keluar dari Krisis Kehidupan*

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah ke arah mana kesadaran dan resistensi tersebut harus dibawa. Sebab, tanpa fondasi yang benar, resistensi berisiko berubah menjadi kemarahan yang tidak terarah. Kritik dapat kehilangan tujuan, sementara semangat perubahan dapat terjebak dalam siklus kekecewaan yang tak kunjung usai.

Pada prinsipnya, Islam menawarkan solusi yang tidak hanya menyentuh gejala, tetapi juga akar perkara. Islam memandang manusia bukan sekadar makhluk penggerak roda ekonomi yang hidup untuk bekerja dan mengonsumsi, melainkan hamba Allah yang memiliki tujuan hidup yang jelas dan berarti. Tatkala dunia modern terus memproduksi keresahan melalui persaingan tanpa batas dan standar keberhasilan yang sempit, Islam menghadirkan ketenangan melalui keyakinan bahwa kehidupan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian materi.

Sungguh, Islam memberikan jawaban atas krisis identitas yang banyak dialami generasi muda hari ini. Dalam Islam, nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, besar kecilnya penghasilan, atau pengakuan manusia. Kemuliaan seseorang diukur berdasarkan ketakwaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara pandang ini membebaskan manusia dari tekanan untuk terus-menerus mencari validasi dari sesama manusia.

Tatkala orientasi hidup diarahkan kepada rida Allah, seseorang akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Ketenangan yang lahir dari keimanan tidak bergantung pada kondisi eksternal yang selalu berubah, melainkan pada keyakinan bahwa setiap peristiwa berada dalam pengaturan Sang Pencipta.

Sebagaimana firman Allah Swt.:  

_“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”_ Q.S. Ar-Ra‘d/13: 28.

Sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bagaimana generasi muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berpengaruh. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kuat sekaligus kecakapan dalam berbagai bidang keilmuan. Pemuda-pemuda Islam pada masa kejayaan peradaban tidak hanya dikenal karena ibadahnya, tetapi juga karena kontribusinya dalam ilmu pengetahuan, kepemimpinan, teknologi, pendidikan, dan pembangunan masyarakat. Karakter seperti ini lahir karena adanya sistem yang membentuk mereka secara utuh—baik dari sisi spiritual, intelektual, moral, maupun sosial. Negara juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi unggul, memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi secara adil, serta membuka ruang seluas-luasnya bagi perkembangan ilmu dan potensi manusia.

Transformasi Generasi: Dari Kecemasan menuju Kebangkitan

Saat ini, Generasi Z sedang berdiri di persimpangan sejarah. Mereka dapat terus larut dalam kecemasan yang melemahkan atau menjadikan kecemasan tersebut sebagai bahan bakar untuk bangkit dan melakukan perubahan. Pilihan kedua tentu membutuhkan kesadaran yang lebih dalam tentang akar persoalan yang sedang mereka hadapi. Selama masalah hanya dipahami sebagai persoalan individu, solusi yang lahir akan selalu bersifat parsial. Namun, ketika generasi muda menyadari bahwa banyak persoalan yang mereka hadapi bersumber dari krisis sistemik, mereka akan mulai mencari solusi yang mampu menyentuh akar masalah.

Berkaitan dengan itu, di sinilah pentingnya membangun kesadaran ideologis yang berlandaskan Islam. Generasi muda perlu memahami bahwa mereka bukan sekadar objek perubahan, melainkan subjek yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan umat. Mereka perlu menyadari bahwa potensi besar yang dimiliki tidak diciptakan untuk dihabiskan dalam perlombaan mengejar pengakuan dunia, tetapi untuk berkontribusi menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Dengan mengemban _mabda_ atau ideologi Islam, generasi muda dapat mengarahkan energi, kreativitas, dan idealismenya untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil, lebih bermartabat, dan lebih sesuai dengan tuntunan Allah Swt.

Kecemasan yang hari ini menyelimuti Generasi Z bukanlah akhir dari cerita. Hal ini dapat menjadi awal dari sebuah kebangkitan jika mampu diubah menjadi kesadaran yang benar. Dari kesadaran itu akan lahir kepedulian, dari kepedulian akan lahir perjuangan, dan dari perjuangan akan lahir perubahan. Masa depan yang lebih baik tidak akan tercipta hanya dengan harapan dan optimisme kosong. Hal itu membutuhkan generasi yang memiliki keberanian untuk berpikir, kepedulian untuk bertindak, dan keyakinan untuk memperjuangkan kebenaran. Dan Generasi Z memiliki seluruh potensi tersebut. Tinggal bagaimana mereka mengarahkannya.

Maka, di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, Generasi Z—bukan sebagai generasi yang dikalahkan oleh depresi, melainkan sebagai generasi yang mengubah depresi menjadi resistensi. Sebab, sedang tumbuh dalam diri para pemuda-pemudi keberanian yang memilih menjadikan kegelisahan sebagai jalan menuju kebangkitan sejati.  Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Posting Komentar

0 Komentar