Subscribe Us

AKSI MAHASISWA DAN JALAN PERUBAHAN HAKIKI



Oleh: Raihun Anhar 
(Aktivis BMI Community) 


Vivisualiterasi.com - Mahasiswa Indonesia kembali menggelar aksi di Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat, 12 Juni 2026. Aksi ini dipimpin oleh BEM Universitas Indonesia dengan membawa 5 tuntutan, yaitu: menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ruang sipil, serta meminta Presiden Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah. Kompas.com, 12/6/2026.

Pada Senin, 15 Juni 2026, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) juga menggelar demonstrasi. Tema aksi mereka adalah “Tata Ulang Indonesia”. Aksi ini digelar di Istana Negara dengan tuntutan mendesak pemerintah menghentikan sementara dan mengevaluasi program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, meninjau kembali Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia, menghentikan militerisme, serta menegakkan supremasi sipil. BEM UBK juga mendesak pemerintah mengambil langkah strategis menjaga stabilitas rupiah dan ketahanan ekonomi nasional. Tempo.co, 24/6/2026.

Aksi-aksi mahasiswa berhasil menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi belum berhasil membawa perubahan kehidupan yang lebih baik. Di pundak mahasiswa terdapat tanggung jawab berat untuk membawa perubahan yang lebih baik. Namun, mereka masih bingung arah perubahan tersebut. Misalnya, mereka memprotes kinerja penguasa yang zalim, tetapi tetap meyakini demokrasi sebagai sistem yang adil. Padahal, puncak demokrasi adalah tirani. Mustahil keadilan terwujud dalam demokrasi. Bukankah semua kezaliman yang dirasakan masyarakat disebabkan oleh demokrasi?

Demokrasi sejatinya bukan sistem pemerintahan yang akan membawa keadilan. Namun, kebanyakan mahasiswa percaya pada slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”, sehingga masih menyuarakan keadilan dengan menjunjung tinggi demokrasi. Demokrasi sejak awal muncul di Barat telah diprotes oleh para intelektual, seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Lalu, mengapa intelektual hari ini mengagungkan demokrasi? Lebih lucu lagi jika hal itu dilakukan mahasiswa Muslim yang menjadikan Islam sebagai ideologi.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa Muslim memahami Islam sebagai agama sekaligus ideologi agar tidak bingung dalam mengarahkan perubahan. Dalam sejarah peradaban manusia telah terbukti bahwa Islam mampu melawan kezaliman kaum kafir Quraisy. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw. dan para sahabat berjuang melawan kekufuran dan kezaliman, kemudian memahaminya dan meneladani perjuangan itu. Itulah yang seharusnya dilakukan mahasiswa Muslim hari ini. Jangan berpikir bahwa mengikuti Nabi Muhammad Saw. itu kuno dan terlalu suci. Ingatlah bahwa sejatinya manusia, termasuk mahasiswa, adalah hamba Allah Swt. yang memiliki tugas dari-Nya di dunia ini. Sebagaimana firman Allah Swt.:

_وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ_ ۝٥٦  

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat/51: 56) 

Di sinilah pentingnya mahasiswa berjuang tanpa melupakan jati dirinya sebagai manusia. Dengan Islam, mahasiswa dapat membawa perubahan menuju kehidupan yang adil, bukan hanya untuk Muslim, melainkan untuk seluruh makhluk. Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga ideologi. Dengan Islam kita dapat merasakan kehidupan yang adil dan mendapat rahmat dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebagaimana firman Allah Swt.:

_وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ_  

Artinya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (QS. Al-A‘raf/7: 96) 

Dalam melakukan perubahan, Rasulullah Saw. juga telah memberi contoh kepada kita. Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab At-Takattul al-Hizbi menjelaskan metode (ṭarīqah) perubahan yang ditempuh Rasulullah Saw. dalam membangun masyarakat, meliputi tiga tahapan.

Pertama, Tahap Tatsqīf atau pembinaan dan pengkaderan. Pada tahap awal, Rasulullah Saw. membina individu-individu yang menerima Islam secara intensif untuk membentuk kepribadian Islam dan pemahaman yang benar tentang akidah serta syariat. Tujuannya adalah membentuk kader yang memiliki pola pikir (‘aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) Islam serta membentuk kelompok yang solid.

Kedua, Tahap Tafā‘ul ma‘a al-Ummah atau berinteraksi dengan umat. Setelah terbentuk kelompok dakwah, Rasulullah Saw. mulai menyampaikan Islam secara terbuka kepada masyarakat. Aktivitas pada tahap ini adalah menyeru masyarakat kepada Islam, mengkritik akidah, tradisi, dan sistem jahiliah Quraisy, mengungkap kerusakan pemikiran dan aturan yang bertentangan dengan Islam, serta membangun opini umum yang berpihak kepada Islam. Pada tahap ini Rasulullah Saw. tidak sekadar memperbaiki individu, tetapi juga berupaya mengubah masyarakat dengan menjadikan Islam sebagai pemikiran umum.

Ketiga, Tahap Istilām al-Hukm atau penerimaan kekuasaan melalui ṭalab an-nuṣrah. Tahap ini merupakan tahap terakhir, yaitu memperoleh kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Aktivitas yang dilakukan Rasulullah Saw. antara lain mencari dukungan (ṭalab an-nuṣrah) dari kabilah-kabilah yang memiliki kekuatan politik dan militer, menawarkan Islam kepada berbagai kabilah Arab, serta mendapatkan baiat dari kaum Ansar melalui Baiat Akabah Kedua. Dari dukungan tersebut lahirlah negara Islam pertama di Madinah setelah hijrah. Menurut an-Nabhani, keberhasilan perubahan tidak berhenti pada pembinaan individu atau perbaikan moral masyarakat, tetapi harus sampai pada penerapan syariat secara menyeluruh melalui institusi negara.

Itulah tahapan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dalam mengubah masyarakat. Kekufuran berubah menjadi keimanan, yang lemah menjadi kuat hingga mampu menaklukkan Romawi dan Persia. Inilah langkah yang perlu diteladani mahasiswa hari ini agar terwujud kehidupan yang adil dan diberkahi Allah.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Posting Komentar

0 Komentar