Subscribe Us

UPDATE PALESTINA : REFLEKSI PERINGATAN NAKBA


Oleh Ayu Hamzah
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Peringatan Nakba yang diperingati setelah 78 tahun terjadinya penjajahan atas Zionis Yahudi dibawa pada poin pernyataan Sektor Liga Arab untuk Palestina dan Wilayah Arab. Sebagai organisasi regional, mereka mendesak Zionis untuk mematuhi aturan Mahkamah Internasional (ICJ) tentang legalitas pendudukan mereka dan menjamin kompensasi atas kerusakan yang dibuat selama ini (antaranews.com, 15-05-2026).

Seruan lain datang dari BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) yang mengajak seluruh komunitas internasional dalam upaya mencapai kemerdekaan Palestina. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Menlu BRICS mengenai kalangan menteri mereka yang mengakui Jalur Gaza sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki (antaranews.com, 15-05-2026).

Seruan-seruan di atas sangat wajar diungkapkan oleh lembaga atau organisasi-organisasi besar dunia mengingat tingkat keparahan genosida yang terjadi di Palestina sudah keterlaluan untuk didiamkan. Total korban sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 telah memakan lebih dari 70.000 warga Palestina, tetapi usaha perdamaian tidak kunjung membuahkan hasil. Pertanyaannya, apakah cukup para petinggi dunia saat ini hanya bersuara dan mengecam apa yang terjadi di Palestina?

Palestina sudah terjajah selama 78 tahun sejak 15 Mei (Peristiwa Nakba) ketika entitas Yahudi merebut paksa wilayah Palestina dengan dukungan Inggris. Sampai saat ini, rakyat Palestina masih terus berjuang mengusir penjajah di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia. Usaha perdamaian yang selalu keluar dari mulut pemimpin negeri-negeri saat ini tidak lebih dari sekadar ungkapan pereda gejolak amarah masyarakat yang menuntut kemerdekaan di Palestina. Mereka, para pemimpin, tidak benar-benar serius dalam menangani persoalan di Palestina. Buktinya, ucapan dan tindakan mereka sama sekali tidak menghentikan fakta genosida yang terus terjadi hingga hari ini. PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan BoP (Board of Peace) justru menjadi jalan tol Amerika dan antek-anteknya leluasa menyaksikan Zionis laknatullah terus mengikis sedikit demi sedikit tanah Palestina. Perjanjian di atas kertas nyatanya palsu sebab tidak melibatkan Palestina sama sekali dalam upaya perbaikan. Indonesia yang turut aktif menjadi anggota BoP menjadi bukti nyata ketidakberdayaan penguasa muslim dan betapa hinanya mereka yang menduakan akidah demi tunduk di bawah kaki pemimpin kafir pro-Zionis. Ironi memang melihat betapa dunia tidak mencintai Palestina kita, tidak suka diusik tidurnya dengan aduan umat yang menderita, tidak suka hidup membantah kata atasan hanya karena takut dipojokkan kemegahan kapitalis bekerja. Naudzubillahi min dzalik.

Pada masa inilah umat harus bisa menentukan solusi hakiki yang bisa menuntaskan persoalan Palestina bahkan pada seluruh apa yang menimpa kaum muslim dari akarnya dan tidak lagi berharap pada solusi palsu yang ditawarkan sistem sekuler saat ini.

Tragedi Nakba mengingatkan kita akan urgensi kebutuhan umat Islam saat ini. Perisai yang hilang langsung meniadakan juga eksistensi keberadaan kaum muslim di mata dunia. Hal ini relevan dengan sabda Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Muslim. Beliau bersabda: "Sesungguhnya al-imam (Khalifah) adalah junnah (perisai) di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya" (HR. Muslim).

Begitu daulah Islam runtuh, mimpi buruk umat muslim menjadi kenyataan. Semua yang disabdakan Rasul tentang ketiadaan kepemimpinan Islam benar-benar dirasakan saat ini. Saatnya umat sadar, tragedi Nakba bukan sekadar sejarah yang hanya akan diceritakan setiap tahun, tetapi sebagai pengingat siklus atau pola penjajahan oleh musuh-musuh Islam yang tidak akan melepas gigitannya selama umat masih terpecah belah karena ketiadaan satu kepemimpinan. Kepemimpinan yang hilang itu adalah Khilafah ala Minhaj Nubuwwah.

Masa Islam berjaya dahulu dan memimpin sekitar 2/3 dunia menjadi bukti aturan Allah, sunah Rasul adalah yang terbaik dalam penerapannya. Palestina masih terus dijajah karena tidak ada persatuan umat muslim untuk bersatu melawan tentara Zionis, tidak ada seruan mengirimkan pasukan untuk membantu Palestina dan mengusir Zionis dari tanah yang bukan miliknya. Seruan dengan mengecam bukan contoh yang diajarkan Rasulullah pada kita. Logisnya, tentara Zionis melawan dengan senjata dan alat perang yang lengkap, sehingga balasan setimpal juga harus dikerahkan dengan mengirim pasukan lengkap persenjataannya. Seruan ini memang hanya akan ada apabila Islam dianut sebagai ideologi yang menyatukan seluruh kaum muslim di dunia. Ketika umat dipimpin dengan satu komando saja, otomatis suara batas-batas negara tidak lagi berpengaruh karena Islam tidak memandang negara berdasarkan bendera-bendera atau batas teritorial yang membuat orang enggan menolong.

Bahkan di momen Idul Adha kali ini, umat muslim masih harus merasakan penindasan segala arah. Rakyat Palestina tidak benar-benar merasakan raya yang saat ini dinikmati orang-orang dengan sukacita. Mereka berlebaran tanpa daging kurban, tanpa keluarga, tanpa rumah yang hangat dan nyaman, bahkan berlebaran dengan dentuman bom yang siap membunuh siapa pun di sana. Namun, salah bila kita menganggap mereka tidak beruntung. Justru merekalah orang-orang yang dipersiapkan Allah menjadi penghuni surga. Lihat betapa sabar dan kuatnya mereka menjalani kehidupan yang keras, tidak sekalipun membuat mereka berputus asa dan lari. Harusnya ini menjadi tamparan keras bagi kita yang hidup tenang tanpa mau memikirkan penderitaan saudara kita. Rasulullah saw. sudah mengingatkan kita akan ancaman: orang yang bangun paginya tidak memikirkan atau peduli nasib sesama muslim, maka dia bukan golongan dari Nabi Muhammad saw. kelak di akhirat.

Saatnya umat bergerak mempelajari Islam kaffah untuk mengerti bagaimana perbedaan dunia bekerja dengan dan tanpa sistem pengaturan Islam. Kita perlu mengetahui bagaimana sikap tegas dan bijaksana pemimpin dalam daulah Islam ketika menanggapi persoalan rakyatnya yang diberlakukan semena-mena, apalagi oleh musuh yang kontra dengan Islam. Pada dasarnya Islam memang mengajarkan kita bersabar dan berdoa setiap kali ada masalah, namun kita tidak diajarkan diam dan hanya berdoa ketika melihat saudara, bahkan diri kita, diberlakukan tidak adil dan semena-mena. Ini semua karena umat Islam tidak sedang berdiri di aturannya sendiri. Umat Islam masih dikendalikan sistem kufur yang menentang syariat, sehingga wajar apabila kita semakin mundur dan terbelakang. Cukuplah Islam yang menjadi acuan dan pedoman kita di kehidupan sehari-hari maupun bernegara agar persoalan di Palestina bisa diatasi dengan cara yang paling tepat, sebagaimana yang pernah diberlakukan Rasulullah saw. dulu saat menghadapi Yahudi yang terkenal munafik dan suka melanggar janji. Ini bukan hanya persoalan Palestina saja, tetapi seluruh persoalan yang saat ini dikeluhkan semua pihak mestinya kembali pada syariat jika kita ingin menyelesaikan semua yang terjadi dengan jaminan mendapat pertolongan Allah Swt.

Kita berharap, Palestina dan seluruh umat muslim yang dizalimi mendapat keadilannya. Dengan jalan perjuangan Islam semua itu bisa diwujudkan. PR bagi umat begitu besar dan penuh beban, tetapi itu semua karena Allah Swt. ingin melihat kesungguhan kita dalam membenarkan agama yang kita yakini ini, sebab suatu saat amal inilah yang akan kita bawa pulang dan menjadi pemberat timbangan kebaikan agar masuk ke surga-Nya. Wallahu musta'an.[]

Posting Komentar

0 Komentar