Oleh Eva Ariska Mansur
(Aktivis Dakwah Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Harga minyak goreng semakin hari kian melambung. Seperti yang terjadi di NTB (Bima) harga minyak goreng melonjak drastis menembus Rp28 ribu per liter. Kenaikan terjadi hampir seluruh merk, termasuk minyak goreng subsidi. Para pedagang minyak goreng, kini lebih memilih minyak goreng kemasan kecil karena daya beli menurun, memperbanyak stok ukuran 220 mililiter dan 400 mililiter. Dilansir Suaranya.com (18/05/2026)
Mirisnya, pemerintah bukannya menyolusi stabil migor yang mahal, malah lebih fokus pada persoalan Makan Gizi Gratis (MBG).
Pertanyaannya, kenapa penguasa hari ini semakin tidak nyambung dengan rakyatnya? Mengurusi hal-hal yang tidak penting, mengabaikan yang genting. Sebentulnya, pemerintah itu bekerja hanya untuk rakyat atau korporat? Kenapa tidak amanah menjalankan tangung jawab?
Ibarat istilah Jauh panggang dari api, begitulah gambaran pemimpin kita sekarang ini. Lain problem, lain pula solusi. Penguasa tidak fokus mengurusi kebutuhan rakyat yang genting. Menelurkan kebijakan, tapi sebenarnya memberatkan rakyat sendiri.
Di tengah kemahalan minyak goreng, harga kedelai dan daging juga ikutan naik. Ditambah permintaan bahan pokok ini menjelang hari raya Iduladha kian meninggi. Masyarakat dipaksa untuk berjuang sendiri. Banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Sepantasnya para penguasa di negeri ini menyadari, problem utama umat itulah yang sangat penting untuk diatasi dengan segera. Bukan malah membuat kebijakan yang boleh dibilang tidak penting sama sekali, seperti mengurusi MBG yang tidak tepat, dan terkesan mubazir. Kini, pada akhirnya beban rakyat semakin bertambah dan berat. Kalaulah begini, patut saja rakyat bertanya-tanya, sebenarnya pemimpin kita bekerja untuk siapa sih? Untuk kepentingan rakyat atau untuk memperkaya pemilik modal?
Hal ini wajar saja, sebab mengingat selain kehilangan fokus, pemerintah juga kehilangan rasa tanggung jawabnya terhadap rakyat. Setiap kesulitan yang dihadapi rakyat, pejabat menanggapinya dengan beragam kebijakan yang tidak berguna dan condong tidak memihak rakyat. Di tengah serba sulit seperti ini, mata pencaharian pasti susah, sementara itu bahan pokok kian melambung.
Maka jelaslah, pemerintah tidak bersungguh-sungguh dan tidak fokus dalam menjalankan tugas dan amanahnya sebagai penguasa negeri ini. Semakin maraknya koruptor di kalangan pejabat, menunjukkan sesungguhnya mereka bekerja cuma untuk kepentingan diri sendiri dan partainya. Suara umat hanya diperlukan saat pemilu saja. Itupun demi mengamankan kursi jabatan dan untuk melanggengkan posisi kapitalisme, yakni 'kediaman' di mana pejabat yang tidak amanah ini diterima dengan baik.
Andai saja, di tengah-tengah kita saat ini, hadir pemimpin-pemimpin yang amanah, tentu saja kehidupan umat tidak akan sepelik ini. Pemimpin yang amanah akan menjalankan perannya sebagai pengayom, pelindung umat, dan tampil terdepan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Secara maksimal dalam mengurusi hal yang urjensi, yakni persoalan yang mendasar dengan serius juga fokus agar mampu diatasi dengan segera.
Pemimpin yang jujur juga amanah, pasti tidak akan menyusahkan rakyatnya. Apalagi dalam membuat kebijakan-kebijakan yang tidak dibutuhkan. Pemimpin yang amanah, ia hanya akan fokus menjamin kesejahteraan umat. Baik sandang, papan, pangan, pun kesehatan dan keamanan.
Sosok-sosok pemimpin seperti inilah, yang akan dicintai rakyat, sebab mereka mencintai rakyat dengan tulus tanpa embel-embel kemaslahatan untuk mempertahankan kursi jabatan. Pemimpin model inilah yang Rasulullah saw. sematkan kepadanya predikat sebaik-baiknya pemimpin. Sebagaimana sabdanya, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian cinta kepada mereka dan mereka pun cinta terhadap kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah kalian benci kepada mereka, dan mereka pun benci kepada kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim No. 3447)
Sayangnya, sosok pemimpin kita sekarang ini sangatlah jauh dari predikat pemimpin yang dicintai. Justru sebaliknya, rezim sering membuat umat kecewa, akibat menerapkan kebijakan ngawur. Maka wajar saja, jika umat merindukan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang mencintai umatnya dan karenanya pula, umat mencintai mereka.
Akan tetapi masalahnya ialah pemimpin yang amanah tidak akan netas dari cangkang kapitalisme dengan landasan sekularismenya. Melainkan ia dilahirkan dari Islam di mana setiap aturan dalam kehidupan dalam sistem ini, wajib bersumber dari Allah Swt. semata yang sudah pasti tidak ada keraguan, bahwa Islam mampu menyolusi beragam masalah dan segenap himpitan kehidupan yang umat derita.
Oleh karenanya, tugas utama kita sebagai umat beragama dan berbangsa hari ini, adalah membongkar kebatilan sistem kapitalisme yang rusak lagi merusakkan sampai ke akar-akarnya. Lalu menggantinya dengan sistem Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Melalui dakwah secara utuh di tengah umat. Memahamkan umat akan gentingnya masalah ini. Demi mengakhiri seluruh penderitaan yang umat alami akibat diterapkannya sistem kapitalisme yang rusak. Wallahu'alam![Irw]


0 Komentar