Oleh Ayu Ummu Umar
(Aktivis Dakwah Nisa Morowali)
*Jejak Luka Genosida*
Aksi penyerangan brutal yang di lakukan oleh Zionis Israel terhadap Gaza Palestina telah menewaskan jutaan nyawa termasuk anak-anak. Tak hanya nyawa, mereka yang masih hidup juga telah kehilangan tempat tinggal bahkan sekolah tempat mereka mengenyam pendidikan. Penderitaan dan bayang-bayang ketakutan senantiasa menghantui warga sipil. Anak-anak pun kehilangan keceriaannya. Dikutip dari Kompas.com (30-5-2026), Seorang psikoterapis asal Norwegia Katrin Glatz Brubakk menyatakan bahwa telah menemukan puluhan kasus terkait anak-anak Gaza yang kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma parah. Meskipun tak mengetahui secara pasti, ada berapa banyak anak-anak Gaza yang telah mengalami henti komunikasi sejak peristiwa nahas ini terjadi.
Jika ditilik lebih jauh, genosida yang tak kunjung usai di Gaza merupakan skenario barat dengan menjadikan sekutunya Israel sebagai alat untuk menguasai wilayah Palestina. Dengan adanya sokongan yang kuat dari negara adidaya AS membuat Israel kian angkuh dan sewenang-wenang membantai masyarakat disana. Tak hanya menyerang secara fisik, kekejaman mereka telah merusak dan menyerang psikis warga sipil terutama anak-anak. Akibat peristiwa traumatis dan paparan stressor jangka panjang, sangat berdampak pada gangguan emosional yang bersifat kronis.
*Pengkhianatan Penguasa Muslim*
Ketidakberdayaan umat Islam hari ini adalah karena telah kehilangan perisainya sejak runtuhnya Daulah Khilafah sejak 1 abad silam . Bahkan, pemimpin muslim saat ini disibukkan dengan masing-masing kepentingan negaranya. Hingga yang paling mencengangkan adalah solusi dua negara yang ditawarkan oleh Penguasa muslim. Tentu saja hal ini merupakan sebuah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan umat Islam yang selama ini telah mati-matian menjaga dan mempertahankan tanah Palestina.
Sekilas mungkin nampak benar, bahwa solusi dua negara akan menguntungkan Palestina dari segi kedaulatan dan kemerdekaan. Namun faktanya, Palestina saat ini hanya tersisa sekitar 15 persen dari total keseluruhan wilayahnya. Sebab, selebihnya telah dikuasai oleh Yahudi. Terlebih pintu Rafah yang menghubungkan antara jalur Gaza dan Mesir juga masuk dalam kendali Israel. Lantas, kemerdekaan seperti apa yang dimaksud?
Bahkan, para relawan kemanusiaan yang berlayar ke Gaza harus mengalami berbagai bentuk penyiksaan dari pihak Israel yang tak menginginkan adanya pembelaan terhadap Palestina. Kekejaman mereka hingga saat ini telah menjadi tontonan dunia dan tak ada yang berani menghentikannya.
*Jihad dan Khilafah Solusi Tuntas*
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina adalah alarm bagi seluruh umat Islam. Di sana ada jutaan anak yang mengalami penderitaan, terguncang jiwanya hingga hancur mentalnya akibat ketakutan kronis yang dialami.
Dalam Islam, menumpahkan darah seorang muslim adalah termasuk kedalam dosa besar. Namun, kenyataannya saat ini darah umat Islam begitu mudah ditumpahkan. Genosida yang telah berlangsung lama disertai kekejaman para penjajah sungguh sangat layak untuk diperangi. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman,
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (tidak) pula kepada hari kemudian,..." (QS. At Taubah : 29).
Penjajahan diatas bumi Palestina, sejatinya merupakan akar masalah yang harus diberantas secara tuntas. Solusi dua negara yang ditawarkan hingga bantuan kemanusiaan adalah solusi jangka pendek yang sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi Palestina. Sebaliknya hal ini hanya merupakan solusi tambal sulam yang tak akan pernah menyentuh akar masalah. Oleh karenanya, solusi hakiki untuk menghapuskan penjajahan dan menghentikan penderitaan masyarakat dan anak-anak di Palestina hanya dengan jihad dan Khilafah. Keberadaan institusi Khilafah akan mendorong terjadinya jihad fi sabilillah. Dengan adanya persatuan umat Islam dalam satu komando, maka kekuatan akan bertambah besar untuk melawan dan mengusir kafir penjajah dari tanah Palestina. Dibawah kepemimpinan Daulah Khilafah Islamiyah, tak akan ada lagi batas garis imajiner sekat-sekat nasionalisme (nation state), pemecah belah umat. Sebaiknya, kesejahteraan akan dirasakan merata oleh seluruh umat manusia karena sejatinya Islam merupakan rahmatan lil alamin.
Wallahu A'lam Bisshowab


0 Komentar