Subscribe Us

MASYARAKAT RESAH, RUPIAH MELEMAH



Oleh Mulyaningsih  
(Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)


Vivisualiterasi.com - Resah dan gelisah—itulah yang dirasakan masyarakat saat ini. Pasalnya, nilai tukar rupiah semakin melemah. Sampai 4 Juni 2026, rupiah menyentuh Rp18.044 per dolar AS. Posisi itu menjadi titik terlemah sepanjang sejarah. Tentu hal tersebut berdampak signifikan terhadap harga sejumlah komoditas, di antaranya pangan, pakan ternak, energi, serta barang konsumsi lainnya.

Fakta ini tentu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat, terutama para pelaku usaha. Baik yang bergerak di bidang sembako, peternakan, perikanan, maupun makanan minuman, semuanya merasakan dampak melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS. Belum pulihnya perekonomian akibat guncangan sebelumnya, kini ditambah tekanan baru. Sementara itu, masyarakat harus berhemat. Jika tidak, kondisi ekonomi keluarga bisa terpuruk. Belum lagi beban kenaikan biaya produksi akibat bahan baku yang mahal, sehingga memicu pemutusan hubungan kerja. Akibatnya, masyarakat makin sulit memenuhi kebutuhan hidup.

Itulah gambaran nyata saat nilai tukar rupiah merosot. Dampaknya langsung terasa pada harga-harga kebutuhan pokok. Di sisi lain, sebelumnya disampaikan pernyataan bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar AS tidak akan berdampak signifikan terhadap masyarakat desa karena mereka tidak menggunakan dolar. Padahal, sesungguhnya negeri ini masih memerlukan pertolongan dari pihak lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Misalnya, beras, gula, kedelai, dan lain-lain masih diimpor. Nah, jika kurs melemah, uang yang dikeluarkan tentu akan semakin banyak. Oleh karena itu, dipastikan harga-harga barang akan naik. Jadi, rasanya kurang tepat jika dikatakan pernyataan itu tidak berdampak di tengah kondisi yang belum stabil ini.

Patut diduga, kondisi sekarang dipengaruhi oleh sistem yang diterapkan serta situasi internasional. Maksudnya, perang masih berlangsung dan hal itu berdampak serius pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Karena kita masih mengandalkan impor, tidak dapat dihindari bahwa pelemahan rupiah pasti berdampak serius. Ditambah lagi, akan mendorong perubahan perilaku investor dunia yang mengalihkan asetnya. Investor tentu akan memindahkan investasinya ke negara yang lebih aman. Dengan permintaan terhadap dolar yang terus meningkat, nilai tukarnya pun menguat secara global.

Kondisi sekarang patut diduga akibat sistem yang diterapkan selama lebih dari satu abad ini. Sistem tersebut tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada manusia. Sebut saja berbagai krisis ekonomi yang terjadi sebelumnya akibat sistem kapitalis yang diterapkan di dunia ini. Krisis demi krisis terjadi akibat sistem kapitalis yang tidak memiliki penopang kuat dari sisi ekonomi. Misalnya, uang yang ada adalah uang kertas yang pada hakikatnya tidak mampu bertahan dari guncangan krisis. Uang tersebut diolah atau diedarkan berdasarkan permintaan dan penawaran. Dari sinilah sumber persoalan ekonomi yang terus berulang setiap dua sampai empat tahun sekali.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, yang akan menerapkan hukum Allah dalam kehidupan dunia. Sementara para penguasanya akan menjalankan amanah dengan baik sampai kesejahteraan umat terwujud. Inilah kunci atas seluruh kegiatan kehidupan di dunia. Halal haram begitu jelas dalam Islam dan dijalankan secara sempurna. Berbeda halnya dengan sistem kapitalis yang selalu menjalankan riba serta melakukan aktivitas bursa saham. Padahal, hal itu tidak dibenarkan dalam Islam. Sehingga riba menjadi salah satu yang harus dihapuskan, termasuk juga aktivitas jual beli yang dilakukan harus nyata atau riil. Karena saham sendiri haram hukumnya dalam Islam. Dengan demikian, perputaran ekonomi akan berjalan dengan baik dan mampu berjalan seimbang. Termasuk harga yang akan sesuai dengan hukum syarak. Harga dikembalikan kepada penjual dan pembeli. Jika keduanya sepakat, harga sudah disepakati dan terjadi transaksi.

Dari sisi mata uang, Islam memiliki alat tukar yang mampu menahan dari terpaan inflasi dan krisis. Mata uang itu adalah dinar dirham sebagai alat pembayaran yang sah. Dinar dirham tidak dijadikan sebagai komoditas perdagangan. Sehingga tidak akan terjadi posisi melemah dari sisi ekonomi.

Di sisi lain, dinar (emas) dan dirham (perak) memiliki nilai fisik yang tinggi. Nilai intrinsiknya setara dengan nilai fisiknya. Pemberlakuan serta penetapan mata uang dengan nilai riil pasti mendorong aktivitas untuk menciptakan pasar riil. Termasuk juga distribusi kekayaan akan adil serta harta tidak beredar pada segelintir orang saja. Inilah yang memacu pertumbuhan ekonomi yang aman dan stabil.

Di sisi lain, negara juga memiliki kewajiban untuk mengurus dan melindungi masyarakat. Karena itu merupakan tugas utama negara, maka akan dilakukan dengan perencanaan yang serius serta bertanggung jawab. Negara akan menjaga stabilitas berbagai harga kebutuhan masyarakat dengan aturan yang ditetapkan syariat. Misalnya distribusi yang baik dan lancar, melarang aktivitas riba, pengaturan kepemilikan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, aktivitas yang ada, termasuk transaksi ekonomi akan sesuai dengan aturan Allah. Maka keberkahan pasti akan datang dan melimpah. Karena keimanan dan ketakwaan menjadi dasar atas seluruh aktivitas. Bukan asas manfaat atau keuntungan semata.

Ditambah lagi, posisi negara juga memiliki kewajiban untuk memastikan terkait pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu. Maka haruslah memiliki mekanisme kuat pada penyediaan lapangan pekerjaan bagi para pencari nafkah. Tentu agar kewajiban dari para ayah atau suami dapat berjalan dengan baik.

Berkaitan dengan kegiatan ekspor impor, negara Islam memiliki standar khusus. Yaitu mengacu pada kebutuhan masyarakat agar kesejahteraan dapat tercapai. Jika mampu memenuhi dari dalam negeri, akan diupayakan secara serius. Jika belum mampu mencukupi dari dalam, negara boleh melakukan hubungan ekspor impor dengan negara lain. Tentu dengan syarat negara tersebut tidak memerangi kaum muslim dan terikat perjanjian.

Dengan mekanisme di atas, _insyaallah_ kesejahteraan umat akan tercapai. Dan ketahanan dari dalam akan terwujud. Begitulah seharusnya yang dilakukan, mengutamakan aturan yang berasal dari Allah, bukan aturan buatan manusia. Semoga segera terwujud dan terlaksana. _Wallahu a'lam._[]

Posting Komentar

0 Komentar