Subscribe Us

KEDELAI MELANGIT, MASYARAKAT MENJERIT



Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)


Vivisualiterasi.com - Masyarakat kembali harus bersiap mengencangkan ikat pinggang untuk kebutuhan yang tidak penting. Bagaimana tidak? Melihat nilai tukar rupiah yang terus melemah, dampaknya begitu luar biasa pada sektor perdagangan. Tentu, semua harga barang akan mulai naik secara signifikan. Sebagaimana dikutip dari salah satu laman nasional, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menyebutkan adanya kenaikan signifikan pada komoditas impor, salah satunya kacang kedelai. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi seluruh pengrajin tahu tempe di negeri ini.

Berdasarkan data, impor kedelai pada Januari–Februari 2026 mengalami kenaikan sebesar 23,8%. Harga kacang kedelai lokal di tingkat konsumen pada 24 Januari 2026 sebesar Rp12.937/kg, sedangkan pada 22 Mei 2026 sebesar Rp12.944/kg, atau naik 0,05%. Sementara kedelai impor pada 24 Januari 2026 sebesar Rp12.538/kg dan pada 22 Mei 2026 sebesar Rp12.605/kg. Dari angka tersebut terjadi kenaikan sebesar 0,53% di wilayah Jawa Timur.

Beliau menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Kanada menjadi negara pengekspor utama kacang kedelai. Dengan menguatnya nilai tukar dolar, harga kedelai dan produk turunannya akan sangat terpengaruh [detikjatim.com, 25/06/2026].

Ketika kita melihat dan mendengar kurs rupiah melemah, yang ada di benak kita pastilah seluruh harga akan naik. Dan memang sesuai perkiraan. Termasuk salah satu sumber protein nabati andalan masyarakat di negeri ini, tahu tempe ikut terkena imbasnya. Hal itu karena melonjaknya harga bahan baku pembuatan tahu tempe, yaitu kedelai. Padahal kedua produk tersebut menjadi andalan masyarakat Indonesia. Bahkan hampir setiap hari sajian dengan menu utama tahu tempe tersaji di meja makan kita. Bagaimana jika harganya melambung? Ya, siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam.

Kesalahan Berulang

Kenaikan harga komoditas kedelai bukan kali pertama terjadi. Jauh sebelum ini juga sudah pernah terjadi dan masyarakat tetap harus menerima. Memang, dari sisi Indonesia sendiri belum mampu memproduksi kedelai dalam skala besar agar permintaan dalam negeri dapat dicukupi produksi sendiri. Sehingga mau tidak mau impor menjadi satu-satunya jalan untuk mencukupi kebutuhan kedelai. Dengan kondisi seperti itu, kita harus menerima keadaan, entah itu lonjakan atau kenaikan harga. Itu semua akibat kita memerlukan kedelai tersebut. Masyarakat kita hampir memenuhi kebutuhan protein dari tahu tempe.

Termasuk pula ketika kurs dolar meninggi, siap-siap saja harganya akan meroket tajam. Terkadang kita tidak habis pikir dengan kebijakan yang ada. Seharusnya para pemangku atau pejabat berwenang melakukan tindakan atau antisipasi agar nilai tukar tidak merosot tajam. Jangan terlihat pasrah dan nerimo terhadap situasi yang ada. Jangan latah membiarkan kondisi ini terus terjadi dan berulang. Karena pada akhirnya, masyarakat bawah yang terus menjadi korban. Mereka terancam tidak bisa memberikan hidangan terbaik untuk keluarganya. Padahal, julukan gemah ripah loh jinawi melekat erat pada negeri ini. Namun, fakta membuktikan Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri dengan baik. Akankah ini terus terjadi tanpa kita mengetahui solusi yang harus dilakukan pemerintah?

Kembali, satu persoalan ini adalah imbas dari cara sistem ini berjalan, baca: diterapkan. Kapitalisme sekuler telah menjadikan negeri ini selalu melihat sisi untung rugi semata. Bahkan pelayanan kepada masyarakat pun dilihat dari sana. Ibarat pemerintah menjadi regulator semata, tidak menjadi peraih dan penolong masyarakat. Layaknya hubungan pembeli-penjual, muatan bisnis yang menjadi nomor satu. Sehingga wajar jika masyarakat jauh dari kata sejahtera. Semua kebijakan yang ada berpatokan pada sisi bisnis semata. Jika menguntungkan maka berjalan, sebaliknya jika merugikan maka ditinggalkan. Jelas, pelayanan seperti ini jauh dari kata sejahtera.

Padahal di sisi lain, jika kita melihat sumber daya alam negeri ini begitu banyak dan luar biasa. Seluruh hasil alam begitu bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Hanya saja, pemerintah kembali harus melihat sisi bisnis di sini. Tidak ada lagi pengelompokan mana sumber daya alam yang boleh dimiliki individu dan mana yang harus dikelola negara. Semuanya sama saja. Jika ada modal maka boleh melakukan eksploitasi dan mengambil SDA tersebut tanpa pelarangan sedikit pun. Permainan izin tambang akan lebih mudah diurus jika uang berbicara. Inilah the real fact di negeri ini. Ibarat pepatah, tikus mati di lumbung padi. Ada apa gerangan?

Pandangan Islam

Islam, dengan keimanan yang mendasar dalam diri seseorang, akan membuat individu menjalankan amanah di pundaknya sebaik-baiknya. Termasuk pejabat pemerintahan, maka akan mengeluarkan kebijakan yang tidak bertentangan dengan hukum syarak, baca: Islam. Termasuk ketika berbicara soal harga komoditas melonjak dan kurs melemah, akar persoalannya akan dicari untuk kemudian dijalankan solusinya. Berkaitan dengan harga komoditas yang melonjak, ini berkaitan dengan kemampuan negara menghasilkan atau berproduksi. Maka negara akan berupaya dengan segenap tenaga melakukan produksi kedelai sebagai salah satu contohnya. Negara akan serius dari sisi pencarian lahan yang cocok, dilakukan pemetaan, bibit unggul, pupuk yang bagus, pemeliharaan, serta menghadirkan para ahli yang kompeten. Dari sini dapat diukur keberhasilannya nanti. Pemerintah juga melakukan program-program yang mampu menghasilkan kedelai sesuai permintaan pasar dalam negeri. Baitulmal tentunya akan dengan mudah memberikan modal bagi petani yang tidak mempunyai cukup uang. Teknologi pertanian juga diupayakan agar mampu surplus. Ini tidak hanya pada satu komoditas, tetapi seluruh komoditas pertanian. Negara akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan dari dalam negeri sendiri karena hal ini penting bagi stabilitas negara dan memunculkan kemandirian.

Berkaitan dengan mata uang, negara Islam akan menerapkan mata uang emas dan perak. Hal itu dilakukan agar kestabilan dapat dicapai dan menghindari inflasi berulang jika menggunakan uang kertas.

Alhasil, masalah di atas dapat diatasi manakala Islam hadir sebagai aturan hidup manusia. Ia terwujud juga dalam bentuk institusi serta pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai aturan hidup manusia. Kemandirian pangan akan terwujud dengan baik karena didukung penuh oleh Baitulmal yang tangguh. Islam sendiri mempunyai 12 pos pemasukan yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, salah satunya adalah menggratiskan kesehatan. Begitu juga pendidikan akan digratiskan. Itu semua sebagai perwujudan riayah sesungguhnya negara kepada masyarakat, sebagai bentuk ketundukan serta keimanan terhadap Allah Swt.  
Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar