Subscribe Us

2 MILIAR MUSLIM TAPI GAZA MASIH BERDARAH. APA YANG SALAH?



Oleh Sayyidah Fatina
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Setiap bulan Zulhijah, jutaan umat Islam berkumpul di Tanah Suci untuk berhaji. Sementara itu, umat Islam di berbagai negeri bersiap melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt.

Iduladha merupakan hari besar yang sangat istimewa bagi umat Islam karena mengingatkan kita pada kisah agung Nabi Ibrahim a.s. dan putranya Nabi Ismail a.s. yang menunjukkan ketundukan luar biasa terhadap perintah Allah Swt. Dari kisah tersebut umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa keimanan tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan dan pengorbanan.

Selain itu, Iduladha bukan hanya terpaku pada penyembelihan hewan kurban. Bukan pula sekadar perayaan tahunan yang diramaikan euforia pembagian daging kurban atau unggahan foto di media sosial. Di balik seluruh rangkaian ibadah pada bulan tersebut, ada pesan besar yang harus ditanamkan umat Islam: ketundukan kepada Allah Swt. secara total, kesiapan berkorban demi kebenaran, dan pentingnya persatuan umat.

Sejatinya, pelaksanaan ibadah haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi simbol peradaban yang menunjukkan persatuan luar biasa. Jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di tempat yang sama tanpa memandang warna kulit, bahasa, dan latar belakang. Mereka mengenakan pakaian ihram serupa, menghadap kiblat sama, mengucapkan talbiah sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Pemandangan ini menunjukkan Islam tidak mengenal perbedaan kelas sosial. Semua manusia di hadapan Allah sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Namun sayangnya, pesan besar Iduladha sering kali tidak dihayati. Banyak orang mampu melaksanakan ritualnya, tetapi belum mampu menangkap ruh dan tujuan besar di baliknya sehingga momen Iduladha berlalu tanpa memberikan perubahan berarti bagi kehidupan umat. Seharusnya hari raya ini menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Momentum memperkuat persaudaraan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama muslim, dan mempertegas komitmen hidup sesuai aturan Allah Swt.

Umat Islam Terpecah dan Lemah

Saat ini jumlah kaum muslim diperkirakan lebih dari dua miliar jiwa yang tersebar di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika. Umat Islam hadir sebagai bagian penting penduduk dunia.

Namun, jumlah tersebut belum menjadikan umat Islam kekuatan yang disegani. Justru umat makin dihujani berbagai problem kehidupan yang terus berulang. Di berbagai negeri muslim masih ditemukan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, konflik berkepanjangan, kerusakan moral, hingga ketergantungan kepada negara asing. Belum lagi berbagai tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum muslim di belahan dunia lain, salah satunya di Gaza, Palestina.

Menurut Reuters.com [1/06/2026], penderitaan rakyat Gaza masih berlangsung hingga Mei 2026. Media internasional terus melaporkan jatuhnya korban sipil akibat serangan militer di wilayah Gaza. Kondisi Palestina, khususnya Gaza, adalah contoh paling nyata. Puluhan ribu korban berjatuhan, infrastruktur hancur, dan penderitaan berlangsung lama. Namun, hingga kini belum terlihat kekuatan umat yang mampu menghentikan penderitaan tersebut. Kondisi ini menunjukkan persoalan Palestina belum menemukan penyelesaian adil dan tuntas.

Kini, umat Islam hidup di antara puluhan negara yang berdiri sendiri-sendiri dengan kepentingan masing-masing. Batas geografis sering kali lebih kuat daripada ikatan akidah. Akibatnya, ketika saudara muslim di negeri lain mengalami kesulitan, banyak yang merasa hal itu bukan urusan mereka. Padahal, Rasulullah saw. menggambarkan hubungan sesama muslim ibarat satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, bagian tubuh lain ikut merasakan penderitaan.

Fenomena sama terlihat dalam pelaksanaan haji dan kurban. Setiap tahun jumlah jemaah haji terus meningkat dan hewan kurban yang disembelih mencapai jumlah besar. Akan tetapi, pelaksanaan ibadah tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap persatuan dan kekuatan umat Islam.

Kondisi ini menunjukkan ada yang perlu dievaluasi. Terpecah-belahnya umat saat ini terjadi karena sebagian besar negeri muslim menjunjung paham kebangsaan atau nasionalisme yang lahir dari sistem kapitalisme. Akibatnya, hubungan antarnegeri muslim seperti dua orang asing, bukan saudara. Umat terpecah menjadi negeri-negeri kecil sehingga ketika saudaranya menderita, muslim lain diam seribu bahasa dengan dalih "itu urusan negara lain, bukan urusan negara kita".

Islam Sekadar Ritual

Bagi sebagian orang, Islam hanya dipahami sebagai agama ritual dan cukup diwujudkan melalui ibadah individual seperti salat, puasa, zakat, haji, dan membaca Al-Qur'an. Sementara urusan politik, ekonomi, pendidikan, hukum, dan kehidupan sosial dianggap terpisah dari agama. Hal ini melahirkan pemisahan agama dan kehidupan atau sekularisme yang lahir dari kapitalisme. Islam tetap dihormati sebagai ajaran spiritual, tetapi tidak dijadikan pedoman mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Akibatnya, halal haram bukan lagi tolak ukur kehidupan. Kepentingan dan keuntungan yang ada di kepala umat sehingga tak peduli cara yang dipakai sesuai syariat atau tidak.

Padahal, Islam diturunkan sebagai petunjuk hidup lengkap. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan sesama.

Ketika Islam dipersempit menjadi ritual, haji hanya menjadi perjalanan spiritual pribadi dan kurban hanya kegiatan tahunan. Sementara nilai-nilai di dalamnya tidak benar-benar diwujudkan. Padahal, setiap rangkaian ibadah haji mengandung pelajaran berharga. Ihram mengajarkan kesederhanaan dan kesetaraan. Tawaf mengajarkan seluruh kehidupan harus berpusat pada ketaatan kepada Allah. Sa'i mengajarkan kesungguhan berusaha. Wukuf di Arafah mengajarkan pentingnya persatuan umat. Kurban mengajarkan keikhlasan, pengorbanan, dan kesiapan mendahulukan perintah Allah di atas kepentingan pribadi. Sementara kapitalisme hanya mementingkan materi dan keuntungan sehingga praktik komersialisasi penyelenggaraan ibadah haji makin menguat. 

Saat ini, haji dan umrah berkembang menjadi bisnis para kapitalis sehingga ibadah yang seharusnya mendekatkan diri kepada Allah justru dipandang sebagai produk diperjualbelikan.

Begitulah ketika negara memakai sistem kapitalisme dalam mengatur kehidupan. Negara lebih mengutamakan kepentingan dan keuntungan pribadi daripada kepentingan umat. Kebanggaan terhadap status sosial lebih dominan daripada semangat persaudaraan. Akibatnya, umat Islam mudah terpecah, mudah dipengaruhi, dan sulit bersatu.

Iduladha, Momentum Mengembalikan Khilafah

Iduladha seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk bermuhasabah secara total, saling peduli, saling membantu, turut bersedih, dan tidak rela melihat saudaranya hidup dalam penindasan atau kesulitan atas dasar keimanan.

Namun, umat Islam saat ini masih disuguhi berbagai persoalan. Meski jumlahnya besar, umat tidak memiliki kekuatan melindungi kepentingan kaum muslim sehingga konflik, penjajahan, dan ketidakadilan terus berlangsung tanpa penyelesaian. Kondisi ini akan terus berlangsung jika negara tidak menerapkan syariat Islam yang aturannya bersumber dari Al-Qur'an dan hadis.

Oleh karena itu, Iduladha selayaknya dijadikan momentum menguatkan ukhuwah islamiah dengan mempererat persatuan umat dan meningkatkan kepedulian terhadap persoalan kaum muslim. Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. hendaknya mendorong umat Islam berkontribusi dalam perjuangan membangun peradaban gemilang dan meneruskan warisan Rasulullah serta para sahabat. 

Maka, setiap muslim memiliki tanggung jawab berdakwah, menyebarkan pemahaman Islam benar, memperkuat persaudaraan, dan berjuang dengan cara sesuai tuntunan syariat sebagaimana dicontohkan Rasulullah. 

Dengan demikian, nilai-nilai Iduladha akan terpancar dalam kehidupan umat dan menjadi jalan menuju kemuliaan Islam di masa depan dengan terwujudnya kembali Daulah Khilafah Islamiah. Saatnya umat muslim berkomitmen sungguh-sungguh memperjuangkan amalan agung ini.  
Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar