Subscribe Us

GEN Z BERSUARA, PERUBAHAN HAKIKI AKANKAH DIDAPAT?



Oleh: Lina Aliyah
(Pemerhati Remaja)


Vivisualiterasi.com - Jakarta Memanas! Beberapa hari terakhir ini kita menyaksikan ribuan mahasiswa dari berbagai universitas menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran untuk menuntut perubahan. "Menuju Indonesia Bangkrut" - tagar inilah yang menjadi tajuk utama aksi unjuk rasa di Jakarta. Ini bukan sekadar aksi. Ini panggilan sejarah untuk berdiri bersama melawan kemunduran demokrasi. Ketika ruang demokrasi semakin menyempit, suara rakyat tidak boleh ikut dibungkam.

Berdasarkan pernyataan BEM UI dan berbagai laporan media, terdapat lima tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut:  
1. Hentikan pemborosan APBN  
2. Turunkan harga BBM  
3. Turunkan harga kebutuhan pokok  
4. Hentikan program MBG (Makan Bergizi Gratis)  
5. Hentikan program Koperasi Desa  

Tidak hanya di Jakarta, di Temanggung sendiri beberapa pemuda desa dari berbagai wilayah melakukan aksi di seberang Kejaksaan Temanggung. Aksi ini berupa lapak baca sekaligus membentangkan poster ajakan untuk membunyikan klakson bagi pengendara jalan yang muak dengan kondisi negara, MBG & KDMP, serta militerisme ke ranah sipil (dilansir dari akun Instagram @serikat.rakyat.temanggung, Minggu, 14 Juni 2026).

Aksi ini memang bukan sesuatu yang besar. Namun, setidaknya dari sini terbukti bahwa banyak pengendara jalan yang turut membunyikan klakson. Itu artinya rakyat Temanggung juga ikut marah dan menunjukkan bahwa warga Temanggung sendiri masih melakukan perlawanan. Rakyat gerah terhadap gaya kepemimpinan rezim hari ini yang otoriter dan didikte oleh elit miliarder, sekaligus menjadi sinyal keruntuhan kapitalisme global. Mereka membawa pesan besar: negeri ini sedang sakit, bangkrut.

Berulang kali unjuk rasa yang kerap dilakukan mahasiswa maupun rakyat jelata cukup menggambarkan bahwa ada masalah dengan kinerja pemerintah saat ini. Mirisnya, ketika pemerintah menilai diri sudah melakukan hal terbaik untuk rakyat, padahal rakyat sendiri merasakan yang sebaliknya. Justru berlebihan bila pemerintah merasa bangga dengan program-program yang dicanangkan itu akan mampu menyejahterakan rakyat. Realitasnya justru tidak ada efeknya sama sekali. Yang ada, utang negara membengkak dan ujung-ujungnya rakyatlah yang menanggung penderitaan dengan kebijakan yang kian kejam.

Namun, kritisisme masyarakat, termasuk tuntutan-tuntutan yang disampaikan oleh mahasiswa, masih bersifat pragmatis, parsial, dan belum fokus pada aspek yang mendasar. Masih berkutat pada perkara-perkara cabang. Akibatnya, begitu satu isu mereda, rakyat kembali dihadapkan pada persoalan baru yang muncul dari sumber yang sama. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat. Rakyat yang menaruh harapan besar pada mahasiswa sering kali kecewa karena energi perjuangan mereka tidak membuahkan perubahan yang mendasar. Perubahan yang mereka tuntut masih berkutat pada soal perubahan struktural dan personal, seperti setop pemborosan APBN, turunkan harga BBM, hentikan MBG, dan pembangunan KDMP, dan sebagainya.

Jika kita teliti lebih dalam lagi, semua problematika yang terjadi terus-menerus tidak lepas dari satu akar besar, yaitu kerusakan sistem yang sudah tidak mampu dipertahankan. Sistem demokrasi yang tegak atas prinsip kebebasan ini telah menempatkan jabatan kekuasaan hanya sebagai ajang perjudian. Alhasil, muncul kekuasaan yang koruptif dan nepotisme. Semua kebijakan zalim itu dikamuflase dengan berbagai kebijakan yang dikemas dengan judul "layanan gratis", padahal tidak gratis. Misalnya MBG (Makan Bergizi Gratis), nyata-nyata dananya tidak jelas dari mana.

Sistem demokrasi dan kapitalisme adalah produk akal manusia yang lahir dan diemban oleh bangsa penjajah. Sistem ini tidak mengenal halal-haram karena lahir dari rahim sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Wajar jika lahir para penguasa yang jauh dari sifat amanah, lurus, dan tulus dalam meriayah rakyatnya. Mereka tidak sungkan melakukan kezaliman karena bagi mereka tidak ada aspek pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam tidak hanya menawarkan perubahan dengan perbaikan tambal sulam, melainkan perubahan asas yang fundamental. Islam akan menggeser sistem yang rusak dan menggantinya dengan syariat Islam yang sempurna. Kekuasaan di dalam Islam juga tegak atas dasar keimanan. Aspek ruhiyah akan senantiasa melekat pada diri pemimpin dan kepemimpinannya.

Mahasiswa ataupun Generasi Z, dengan intelektual dan idealismenya, harus memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak kebangkitan umat. Mereka harus berani keluar dari jebakan perjuangan yang parsial. Energi mereka perlu diarahkan pada perjuangan hakiki, yaitu memperjuangkan tegaknya Islam kaffah. Dengan begitu, aksi-aksi mahasiswa tidak lagi berhenti pada teriakan-teriakan semu yang mudah dilupakan masyarakat.

Sehingga tidak cukup hanya sekadar pergantian figur atau perbaikan prosedurnya. Namun, yang dibutuhkan bangsa ini adalah perubahan menyeluruh yang menyentuh akar masalah. Oleh karena itu, hanya ada satu jalan agar terwujud kepemimpinan yang adil, ekonomi yang sejahtera dapat dibangun, dan rakyat benar-benar akan merasakan hidup yang adil nan sejahtera. Jalan itu tidak lain adalah para penguasa wajib kembali pada jalan ketakwaan kepada syariat Islam kaffah.

ÙˆَÙ‡َدَÙŠۡÙ†ٰÙ‡ُ النَّجۡدَÙŠۡÙ†ِۚ‏ ١٠  

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." (TQS Al-Balad: 10)  
Wallahu a’lam bissawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar