Subscribe Us

ANAK GAZA KEHILANGAN SUARA, PEMIMPIN MUSLIM KEHILANGAN NYALI



#Popro (Pojok Propagandis)


Vivisualiterasi.com - Lebih dari satu juta anak di Gaza dilaporkan psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, mengalami trauma parah hingga kehilangan kemampuan berbicara. Kondisi ini menandakan dunia sedang menyaksikan tragedi kemanusiaan terbesar abad ini. Anak-anak di Gaza membisu bukan karena tidak ingin bersuara, melainkan karena memori mereka penuh sesak oleh ledakan bom dari entitas Zionis yang terus melakukan genosida tanpa henti. Ironisnya, di tengah jeritan tanpa suara anak-anak tersebut, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tampak tak berdaya.

Penderitaan sunyi anak-anak Palestina tidak akan berakhir dengan meja perundingan mandul, apalagi hanya dengan terapi psikologis di tengah desing peluru yang masih berderu. Tanah Palestina adalah tanah yang dirampas, dan rakyatnya adalah korban penjajahan. Secara hukum syara' dan logika akal sehat, kejahatan beringas entitas Zionis yang menggunakan kekuatan militer penuh tidak akan berhenti dengan selembar kertas hitam di atas putih, melainkan harus dilawan dengan kekuatan sepadan, yaitu jihad fi sabilillah, seperti kaum mukmin terdahulu.

Namun, di sinilah letak simpul masalahnya. Jihad skala besar untuk memobilisasi kekuatan militer tidak mungkin lahir dari lisan pemimpin yang hari ini tersandera kepentingan geopolitik Barat. Di sinilah umat Islam harus membuka mata bahwa yang paling dibutuhkan anak-anak Gaza saat ini bukan sekadar selimut atau roti, melainkan deru mesin tank dan langkah tegap tentara muslim yang datang membebaskan mereka.

Tugas suci mengirim tentara dan memobilisasi kekuatan militer untuk mengusir penjajah hanya mungkin diwujudkan institusi politik global independen dan berdaulat, yaitu Khilafah Islamiah. Tanpa Khilafah yang bertindak sebagai junnah atau perisai, kaum muslimin akan terus tercerai-berai, dan tentara-tentara di negeri muslim tetap terpasung di barak mereka sendiri sementara saudara mereka dibantai.[] Putri Dwijayanti, S.E., (Aktivis Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar