Oleh: Raihun Anhar, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Tak terasa sudah memasuki tahun ke-1448 Hijriah. Hijriah adalah penanggalan dalam kalender Islam yang ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan dimulai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dan para sahabat ke Madinah. Peristiwa hijrah ini dipilih karena terjadi perubahan besar dalam kehidupan kaum muslim. Dahulu di Mekah, Nabi dan para sahabat mendapat perlakuan buruk dari penguasa kafir Quraisy. Mereka disiksa ketika ketahuan telah memeluk Islam. Bilal ditindih batu besar di padang pasir dengan teriknya matahari, keluarga Yasir juga demikian, bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri dilempari kotoran hewan dan dicaci maki hingga diboikot. Penyiksaan itu berakhir ketika terjadi hijrah dari Mekah darul kufur ke Madinah darul Islam. Walaupun tidak semua sahabat Nabi bisa hijrah bersamanya.
Peristiwa hijrah mengubah kondisi yang lemah menjadi kuat. Kaum muslim dipimpin oleh Nabi sebagai pemimpin negara. Nabi menerapkan syariat Islam di Madinah sehingga membedakan Madinah dan negeri-negeri Arab lainnya. Rasul mulai mengatur perekonomian dengan menyingkirkan sistem ribawi dan kaum muslim yang menguasai pasar di Madinah menggantikan Yahudi sehingga kita kenal Abdurrahman bin Auf sebagai sahabat yang paling kaya. Rasul juga mulai menyingkirkan hambatan-hambatan dalam penyebaran Islam seperti memerangi Mekah dengan jihad hingga Mekah ditaklukkan (fathu Makkah) pada tahun ke-8 Hijriah. Kemudian Islam disebarkan ke raja-raja Romawi dan Persia melalui pengiriman surat yang mengajak memeluk Islam, kemudian jihad untuk membebaskan negeri tersebut dari kekufuran. Hal ini dilanjutkan oleh para khalifah setelah Nabi Muhammad saw. wafat. Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengirim pasukan Khalid bin Walid sampai akhirnya berhasil menaklukkan Syam dan penerimaan kunci Baitulmakdis oleh Sophronius kepada Khalifah Umar pada tahun ke-16 Hijriah.
Islam menjadi peradaban yang menguasai 3 benua: Asia, Afrika, dan Eropa dari awal hijrah hingga periode Khilafah Utsmani di Turki. Namun, peradaban gemilang itu sirna dengan dihapusnya kekhilafahan oleh Mustafa Kemal Ataturk pada 24 Rajab 1342 Hijriah atau 3 Maret 1924. Kemal mengganti Khilafah Utsmani dengan Republik Turki sebagai negara kebangsaan (nasionalisme). Peristiwa inilah yang membuat kaum muslim kehilangan kekuatannya dan membentuk negara masing-masing seperti yang dikenal sekarang. Tidak lagi menjadi negara kuat yang meliputi 3 benua, kaum muslim menjadi lemah sampai tak sanggup membebaskan Palestina dari kejahatan Zionis walau jumlahnya lebih banyak dari masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Mengapa bisa demikian?
Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian, sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan". Salah seorang sahabat bertanya, "Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?" Beliau menjawab, "Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan. Allah akan membuang rasa takut mereka kepada kalian, dan akan memasukkan wahn di dalam hati kalian."
"Apakah wahn itu, wahai Rasul?" tanya salah satu sahabat.
Beliau menjawab, "Cinta dunia dan benci kematian"... (HR Abu Dawud dari Tsauban dan dinilai sahih oleh Syekh al-Albani).
Mesir takut membuka pintu Rafah untuk menolong Gaza. Aksi demi aksi dilakukan untuk meminta pintu Rafah dibuka, tapi Mesir enggan membukanya. Lewat laut pun dicegat oleh Zionis.
Kita telah lama hidup dalam kejahatan dunia tanpa kepemimpinan Islam. Maka tak ada lagi cara lain kecuali mewujudkan kembali kekuatan seperti yang dibangun oleh Rasulullah sejak awal hijrah. Caranya tentu dengan meneladani Rasulullah berjuang. Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab At-Takattul al-Hizbi menjelaskan metode (thariqah) perubahan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dalam membangun masyarakat meliputi tiga tahapan.
Pertama, tahap Tatsqif (Pembinaan dan Pengkaderan). Pada tahap awal, Rasulullah membina individu-individu yang menerima Islam dengan pembinaan yang intensif untuk membentuk kepribadian Islam dan pemahaman yang benar tentang akidah serta syariat.
Kedua, tahap Tafa'ul ma'a al-Ummah (Berinteraksi dengan Umat). Setelah terbentuk kelompok dakwah, Rasulullah saw. mulai menyampaikan Islam secara terbuka kepada masyarakat. Aktivitas pada tahap ini ialah menyeru masyarakat kepada Islam, mengkritik akidah, tradisi, dan sistem jahiliyah Quraisy/kapitalisme hari ini, mengungkap kerusakan pemikiran dan aturan yang bertentangan dengan Islam, membangun opini umum yang berpihak kepada Islam. Pada tahap ini Rasulullah saw. tidak sekadar memperbaiki individu, tetapi juga berusaha mengubah masyarakat dengan menjadikan Islam sebagai pemikiran umum.
Ketiga, tahap Istilam al-Hukm (Penerimaan Kekuasaan melalui Thalab an-Nusrah). Tahap ini merupakan tahap terakhir, yaitu memperoleh kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Aktivitas yang Rasulullah saw. lakukan dalam tahap ini di antaranya mencari dukungan (thalab an-nusrah) dari kabilah-kabilah yang memiliki kekuatan politik dan militer, menawarkan Islam kepada berbagai kabilah Arab, mendapatkan baiat dari kaum Ansar melalui Baiat Akabah Kedua. Dari dukungan tersebut lahirlah negara Islam pertama di Madinah setelah hijrah.
Itulah langkah perubahan yang harus kita tempuh untuk mengubah hidup yang buruk ini menjadi hidup yang diberkahi Allah Swt., yakni hidup dengan Islam seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Lemah menjadi kuat dan akan menghapus segala penjajahan dalam bentuk fisik maupun nonfisik (pemikiran). Ingatlah firman Allah Swt.:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka senantiasa menyembah-Ku semata-mata dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik" (QS An-Nur: 55).
Dengan demikian terwujudlah kehidupan yang rahmatan lil 'alamin. Hidup yang memberikan kebaikan bagi seluruh makhluk, tidak hanya untuk muslim saja. Seperti firman Allah Swt.:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan" (QS Al-A'raf: 96).[]


0 Komentar