Subscribe Us

‎WIBAWA GURU DIRENDAHKAN: BUAH SISTEM PENDIDIKAN SEKULAR KAPITALISTIK

Oleh Mintan Tyani 
‎(Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara) 


Vivisualiterasi.com-Katanya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan juga sebagai pelita dalam kegelapan, bukankah harusnya mereka dihormati layaknya seorang pahlawan yang menerangi jalan dalam gulita, tapi kenapa kenyataannya banyak guru yang mendapatkan perlakuan tidak hormat dari lingkungan bahkan dari muridnya sendiri? 
‎Apakah ada yang salah dari dunia pendidikan sekarang? 
‎Baru-baru ini muncul sebuah fakta yang memprihatinkan sekaligus kembali mencoreng dunia pendidikan. Dalam sebuah unggahan di media sosial yang menampakkan sikap tidak pantas, sejumlah siswa terhadap seorang guru mereka di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur tidak sopan yaitu mengacungkan jari tengah yang bermakna pelecehan terhadap seseorang yang seharusnya mereka hormati. 
‎Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari dinas pendidikan terkait kronologi insiden itu. Dikabarkan pula guru yang bersangkutan telah memaafkan para siswa tersebut dan juga sekolah telah memberi skorsing selama 19 hari. Namun, Dedi menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia justru mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku. Hukuman membersihkan halaman sekolah dan menyapu setiap hari dan membersihkan toilet, misalnya. (Detik.com, 18/04/2026).
‎Miris sekali melihat hilangnya adab terhadap guru, tidak adanya rasa hormat diberikan kepada seseorang yang telah mendidik mereka. Sebelum kejadian ini mencuat, sebenarnya sudah banyak kejadian-kejadian serupa yang memperlihatkan arogansi siswa terhadap gurunya, bahkan parahnya tak segan-segan mereka memukuli dan mengeroyok guru mereka yang telah banyak berjasa atas pendidikan mereka hanya karena masalah sepele, mencukur rambut mereka atau menegur rok yang terlaku pendek misalnya.
‎Pantaskah seorang guru yang harusnya digugu dan ditiru mendapatkan perlakuan yang sangat tidak sesuai dengan usaha yang mereka lakukan demi anak didik mereka. Mereka tak meminta balasan, mereka hanya menginginkan anak didik mereka menjadi generasi yang membanggakan. 
‎Namun berbagai fenomena suram ini menunjukan adanya kesalahan yang begitu serius, terutama pada adab anak didik saat ini menjadi gambaran nyata akan adanya kekeliruan yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan. Hal ini menandakan adanya krisis mendalam bukan hanya pada aspek pelajaran tapi juga pada nilai, moral, dan juga pada sistem yang menaunginya. 
‎Ini semua menunjukan bahwa institusi pendidikan saat ini tidak mampu menciptakan generasi yang beradab dan berakhlak mulia. Wajar saja jika muncul pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah pada sistem pendidikan saat ini? 
‎Pelecehan guru di Purwakarta atau bahkan kejadian-kejadian serupa lainnya mencerminkan krisis moral akibat sistem pendidikan Sekular-Liberal yang mengabaikan adab kepada guru, di mana pemisahan peran agama pada pendidikan menciptakan generasi yang tak berakhlak. Sistem kapitalisme juga tak luput dari peran yang mana materi dan keuntungan menjadi orientasi utama pada pendidikan, menggiring pemikiran bahwa materilah tujuan utama dari sebuah pendidikan. 
‎Sehingga menciptakan tindakan-tindakan tidak bermoral lainnya yang dilakukan demi konten atau hanya sekedar pengakuan di media sosial. Saat ini siswa hanya mementingkan "viralitas" dan "keren-kerenan" di mata teman sebaya dari pada menjaga martabat guru, mereka sibuk mencari validasi hingga mengabaikan rasa hormat kepada gurunya. 
‎Sistem Kapitalisme-Sekulerisme ini juga berhasil mengubah fungsi pendidikan yang tak lagi menjadi sarana membentuk manusia berilmu dan bersyakhsiyah (kepribadian) yang mulia, tapi hanya menjadi alat pencetak tenaga kerja serta menciptakan kepribadian yang tak beradab. Kejadian ini cukup menjadi bukti lemahnya guru dan rusaknya moral siswa. Mengapa kejadian tersebut marak terjadi, apakah karena sanksi yang terlalu lemah atau guru yang tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegur? 
‎Jawabannya sudah sangat jelas karena kegagalan dari sistem pendidikan saat ini yang didasari oleh Kapitalisme-Sekulerisme yang hanya sebagai sarana transfer ilmu dan tidak mampu menjadi pembentuk karakter anak. Ilmu hanya berhenti di kertas putih, tanpa ada pengaplikasian yang nyata. Ketika dunia pendidikan terus mengacu pada sistem ini maka arah pendidikan akan kehilangan tujuan hakiki, dari situ lahirlah generasi yang berpikir sekuler dan bersikap liberal (bebas). 
‎Faktor lain yang menyebabkan kerusakan pada dunia pendidikan adalah lemahnya sanksi yang diberikan kepada mereka yang dianggap di bawah umur, sehingga tidak menimbulkan efek jera dan makin menyuburkan tindakan-tindakan menyimpang seorang siswa. Karena dianggap sebagai kenakalan remaja yang bisa dimaklumi. 
‎Pemerintah juga sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila", tapi nyatanya masih banyak kasus-kasus yang menampar program ini di mana semakin membuka fakta bahwa hal tersebut hanya formalitas administrasi di atas kertas, tidak menghasilkan perubahan. 
‎Jadi sudah sangat jelas bahwa kerusakan dunia pendidikan saat ini bukan hanya masalah teknis, tapi juga ideologis. Sistem Sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan begitu juga pada pendidikan. 
‎Sangat berbeda jauh pada peradaban Islam, di mana pendidikan dilandaskan pada akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. Dari sini sangat jelas bahwa pendidikan dalam Islam meliputi ruhiyyah (spiritual), fikriyyah (pemikiran) dan amaliyyah (praktik). Karena tujuan pendidikan dalam Islam adalah output dari apa-apa yang diajarkan. Begitu juga penjelasan dari Syekh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk Syakhsiyah Islam, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan Islam. 
‎Dengan begitu adab yang mulia akan terpancar. 
‎Dalam Islam adab menjadi poin penting dalam pendidikan, bahkan ulama terdahulu telah mencontohkan kepada kita, di mana seorang Imam Malik diberi wejangan oleh ibunya bahwa adab lebih dahulu sebelum ilmu, serta salah seorang murid beliau yakni Ibnu Wahb yang mengabdi kepadanya selama 20 tahun, terdiri dari 18 tahun fokus mempelajari adab dan 2 tahun mempelajari ilmu. 
‎Begitu juga Imam Syafi'i mencontohkan penghormatan luar biasa kepada gurunya, seperti tidak berani membuka lembaran kitab dengan suara keras di depan Imam Malik karena saking hormatnya. Beliau juga pernah mencium tangan dan memeluk erat gurunya yang sudah tua. Dengan kisah ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi moral dan adab. 
‎Rusaknya moral ini juga dipengaruhi oleh konten-konten yang terekspos di media sosial lalu diakses dengan mudah oleh mereka para peserta didik, di sinilah peran negara (Khilafah) yang memiliki andil penting dalam pendidikan dengan menyaring konten digital yang bisa merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan, dan kerusakan. Karena negara bukan hanya sebagai fasilitator tapi juga penanggung jawab utama pada pendidikan mengingat pendidikan adalah salah satu hak rakyat yang menjadi kewajiban negara. Sesuai sabda Rasulullah SAW "Imam (pemimpin) adalah raa'in (pengurus) rakyat dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR. Bukhari dan Muslim). 
‎Begitu juga dengan sistem sanksi, dalam Islam sistem sanksinya berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (efek jera) bagi pelakunya agar tidak mengulang kesalahannya lagi, sanksi yang diberikan harus menciptakan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat dan tidak lagi memakai embel-embel anak di bawah umur. 
‎Akar masalah hingga pencegahan sangat diperhatikan dalam Islam agar tidak terjadi tindakan tak bermoral pada seorang guru, karena dalam Islam guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara khilafah, sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat. 
‎Beginilah gambaran Negara yang berasaskan Islam yang berinstitusi di bawah naungan khilafah yang akan memuliakan kewibawaan seorang guru serta mencetak generasi yang berakhlak mulia dengan membentuk Syakhsiyah Islamiyah. Wallahu'alam Bishshowwab.[Irw]




Posting Komentar

0 Komentar