(Aktivis Dakwah)
Tapi pada faktanya dalam dunia pendidikan saat ini banyak para peserta didik yang tidak mencerminkan orang yang terdidik dan bermoral, banyak sekali peserta didik yang terjerat berbagai kasus, seperti kasus pelecehan seksual, kekerasan, maraknya joki UTBK, kecurangan dalam ujian, bahkan sampai peredaran narkoba di kalangan pelajar. Serta banyak juga kita jumpai para peserta didik yang tidak lagi memiliki rasa hormat terhadap guru-guru mereka, seperti tidak memiliki rasa terima kasih atas apa yang telah guru mereka berikan. Para peserta didik kerap membully, bahkan memenjarakan guru hanya gara-gara guru memarahi atau menghukum mereka, padahal itu karena kesalahan peserta didik itu sendiri yang tidak taat akan aturan sekolah yang telah tetapkan.
Kasus kekerasan di lembaga pendidikan terus meningkat dan semakin menakutkan. Hasil pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menunjukkan, terdapat 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dalam tiga bulan terakhir.
Kasus terbaru adalah terungkapnya pelecehan di dalam grup aplikasi pesan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Sebanyak 16 mahasiswa FHUI diduga menjadi pelaku pelecehan tersebut dan mereka dihadirkan dalam forum yang berisi ratusan pelajar. (Kompas.id 14/4/2026)
Fakta diatas hanya sebagian kecil dari ratusan kasus yang ada di dalam dunia pendidikan dan dari fakta diatas bisa kita simpulkan bahwa nyatanya dunia pendidikan hari ini makin buram dan memprihatinkan, banyak peserta didik yang tidak lagi memiliki moral dan sikap yang baik, mengapa demikian?
Kegagalan implementasi arah atau peta jalan pendidikan lah yang menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya. Peserta didik pada sistem sekulerisme-kapitalisme akan menghasilkan orang-orang yang ingin sukses dengan cara yang instan tanpa mau belajar dan berusaha secara serius, juga menghasilkan orang-orang yang akan menghalalkan segala macam cara demi mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang besar. Saya pribadi biasa menyebut mereka dengan para “Intelektual Lacur” yaitu mereka yang mengejar gelar hanya agar bisa mendapatkan keuntungan materi. Tak jarang pula mereka yg digelari sebagai kaum intelektual yg sering diposisikan sebagai pemilik pengetahuan di bidangnya masing-masing adalah orang-orang yang tidak pernah benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh, hanya mengandalkan uang saja dan bukan kemampuan.
Hardiknas yang dirayakan setiap tahun seharusnya menjadi evaluasi bagi kita semua, baik itu tenaga pendidik, peserta didik, orang tua, pemerintah, masyarakat dan juga institut-institusi yang terkait, untuk ikut andil dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa, karena pendidikan tidak hanya di bangku sekolah saja tapi bisa didapatkan dalam segala lini kehidupan.
Lalu langkah apa yang harus diambil untuk memperbaiki sistem pendidikan saat ini ?
Pendidikan menjadi topik yang menarik untuk dikaji karena hal ini berangkat dari kekecewaan kepada mereka yang memiliki hak istimewa untuk belajar di universitas, kepada mereka para pendidik yang seharusnya mampu menghasilkan lulusan-lulusan terbaik yang berintegritas dan berkarakter.
Karena pada kenyataannya hampir 50% para pelajar menghabiskan waktunya di sekolah dan itu sangat berpengaruh pada pembentukan karakter, karena bagi para pelajar itu dapat membantu mereka memahami perkembangan diri secara emosional, perkembangan kognitif, perkembangan moral, sosial, dan spiritual, sehingga mereka tidak lagi menjadi pribadi yang terombang-ambing di tengah maraknya kasus krisis indentitas yang dialami para remaja kisaran usia 10-20 tahun.
Pendidikan seharusnya menciptakan pribadi yang berintegritas, sebagaimana yang terjadi saat Islam masih berjaya, dimana aturan-aturan hidup hanya berpedoman pada Al-Quran dan sunnah. Sistem pendidikan islam akan fokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya.
Sistem pendidikan Islam memiliki karakter istimewa diantaranya:
-Sebagai satu kesatuan dengan seluruh sistem Islam yakni sebagai petunjuk agar manusia berbuat amar ma'ruf nahi munkar, penerapan sistem pendidikan dalam khilafah menjadikannya terbebas dari paham dari luar seperti kapitalisme, sekularisme dan isme-isme yang lain, serta penuh dengan nilai-nilai spiritual, akhlak, dan kemanusian. Ini yang menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan terhormat.
-Sebagai sebuah ajaran hidup yang diterapkan secara praktis, sistem pendidikan dalam khilafah akan menjadikan lingkungan pendidikan terliputi dengan berbagai tujuan mulia yakni, menjaga kelestarian ras manusia, akal, dan kemuliaan jiwa manusia. Berhati-hati dalam pelaksanaan syariat, tidak menoleransi pelanggaran syariat sekecil apapun serta memberikan sanksi sesuai dengan hukum yang telah Allah SWT tetapkan yang sudah jelas akan memberikan efek jera. Inilah puncak tujuan masyarakat Islam sebagai ketentuan dariNya.
-Menanamkan akidah Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, yang mampu memuaskan akal dan menentramkan jiwa, untuk membangun kepribadian Islam (aqliyah dan nafsiah) bagi para pelajar, serta untuk mempersiapkan agar di antara mereka lahir para ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan yang melingkupinya.
Inilah yang menjadi alasan mengapa para pelajar pada masa kejayaan Islam adalah orang yang memiliki karakter dan integritas yang tidak main-main. Sama halnya seperti Muhammad Al-Fatih yang dididik secara tegas oleh gurunya yakni Syekh Ahmad bin Ismail Al-Qurani, yang memiliki strategi dan kesabaran sehingga berhasil membentuk karakter Al-fatih sebagai penakluk Konstantinopel dengan strategi yang sangat ciamik dan cerdas.
Mengapa hal diatas bisa terjadi? Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal bahwasanya sistem pendidikan modern di zaman sekarang sudah tidak memiliki karakter istimewa. Berbeda dengan masa kejayaan Islam, penanaman tauhid dan akidah Islam telah diajarkan sejak dini oleh para pendidik yang memiliki kepribadian Islam. Mereka benar-benar mengamalkan apa yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah tanpa mencampurkan ideologi islam dengan ideologi lain yang notabenenya adalah ideologi buatan manusia. Sebagaimana telah Allah SWT firmankan dalam Surah Luqman ayat 13, dalam ayat ini umat Islam telah diperingatkan untuk tidak menyekutukan Allah dan sungguh perbuatan itu adalah perbuatan yang sangat dzalim.
Sistem pemerintahan sekuler saat ini punya andil besar dalam bobroknya seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pendidikan. Maka dari itu bukanlah ideologi-ideologi buatan manusia itu yang kita jadikan sebagai peraturan dalam kehidupan bernegara karena hanya Islamlah yang mampu mengurusi semua urusan ummat sebagai solusi nyata.
Wallahu a'lam bissawwab.[]


0 Komentar