#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Nilai tukar rupiah mencetak rekor terlemah hingga menyentuh angka Rp 17.700 per Mei 2026. Kondisi depresiasi ini menambah kesulitan rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidup akibat meningkatnya harga bahan baku. Uniknya, situasi tersebut masih dinilai “aman” oleh para penguasa, terlebih melihat masyarakat pedesaan yang tidak menggunakan dollar dalam transaksi sehari-hari.
Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini masih dipicu oleh konstelasi politik internasional (perang AS-Iran). Kondisi ini juga menunjukkan bahwa ketergantungan (dependensi) negara terhadap sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan oleh AS masih mendominasi dan semakin menyulitkan rakyat. Alih-alih mendapat simpati dan solusi konkret dari penguasa, rakyat justru menanggung kesulitan ini sendiri bahkan harus melibatkan riba (dengan pinjol) untuk bertahan hidup. Begitulah cara kerja dari imperialisme AS pada negara-negara berkembang yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi.
Berbanding terbalik dengan sistem ekonomi Islam, dimana emas dan perak dijadikan patokan dalam nilai tukar sehingga nilai yang diciptakan lebih stabil. Dengan penerapan ekonomi berbasis syariat, negara juga melarang mekanisme riba, memberikan jaminan distribusi, dan memastikan bahwa harta kepemilikan umum sepenuhnya dikelola untuk rakyat sehingga pemenuhan kehidupan rakyat terjamin. Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam berbasis syariat harus segera diterapkan untuk melindungi rakyat dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh penerapan sistem ekonomi kapitalisme hari ini.[] Indah Puspasari, S.E


0 Komentar