Subscribe Us

REFLEKSI HARDIKNAS: DUNIA PENDIDIKAN MAKIN BURAM DAN MEMPRIHATINKAN

Oleh Ummu Hanif
(Pendidik dan Pengamat Generasi)

Vivisualiterasi.com-Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum refleksi atas perjalanan dan arah pendidikan nasional. Namun ironisnya, peringatan tahunan ini sering kali berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Alih-alih menunjukkan perbaikan yang signifikan, dunia pendidikan justru menampilkan wajah yang semakin buram dan memprihatinkan, baik dari sisi moral, karakter, maupun keamanan lingkungan belajar.

Fakta Buram Dunia Pendidikan

Berbagai kasus yang muncul di ruang publik menjadi indikator kuat rusaknya sendi-sendi pendidikan. Kekerasan dan pemikiran seksual di lingkungan sekolah dan kampus semakin sering terjadi, menandakan bahwa ruang aman bagi murid belum terwujud. Di sisi lain, praktik akademik seperti menyontek massal, maraknya joki UTBK, hingga budaya plagiarisme telah menjalar hampir di seluruh jenjang pendidikan.

Tak kalah pentingnya, keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam jaringan pemahaman dan peredaran narkoba juga terus meningkat. Lebih dari itu, hubungan guru dan murid mengalami degradasi serius. Fenomena pelajar yang menghina guru, melaporkan guru ke aparat hukum, bahkan memenjarakan guru karena tindakan disipliner menunjukkan hilangnya adab dan penghormatan terhadap otoritas pendidik.

Alarm Kegagalan Sistem Pendidikan

Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang arah dan peta jalan pendidikan nasional. Beragam permasalahan di atas tidak dapat dipandang sebagai kasus individual semata, melainkan sebagai dampak sistemik dari kegagalan implementasi sistem pendidikan.

Sistem pendidikan hari ini terbukti gagal membentuk kepribadian pelajar yang utuh. Output pendidikan cenderung melahirkan individu yang sekuler, liberal, dan pragmatis, cerdas secara kognitif, namun miskin nilai moral dan spiritual. Predikat sebagai kaum intelektual beradab semakin jauh dari kenyataan.

Lebih jauh lagi, sistem pendidikan sekuler kapitalistik mendorong lahirnya budaya sukses secara instan. Orientasi pada pencapaian materi dan prestasi formal semata membuat sebagian pelajar menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai tinggi, ijazah, atau uang dalam jumlah besar. Dalam konteks ini, kegagalan akademik bukan lagi anomali, melainkan konsekuensi logis dari sistem.

Negara pun dinilai longgar dalam memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan pelajar, dengan dalih mayoritas masih di bawah umur. Tindakan kriminal sering direduksi sebagai kenakalan anak, sehingga gagal memberikan efek jera dan pembelajaran moral. Ditambah minimalnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam sistem sekuler, ruang kebebasan menjadi tak terkendali dan berakhir pada pengikisan generasi moral.

Pendidikan Berbasis Akidah

Islam memandang pendidikan sebagai aspek mendasar dalam kehidupan umat yang wajib dijamin oleh negara. Pendidikan bukan sekedar proses transfer ilmu, tetapi sarana terbentuknya manusia paripurna (insan kamil) yang cerdas, beradab, dan bertakwa. Dengan asas akidah Islam, peserta didik dibentuk untuk menjadikan halal-haram sebagai standar perilaku, sehingga tidak melakukan keadaan demi mencapai kesuksesan.

Pendidikan Islam fokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Ilmu pengetahuan tidak terlepas dari nilai moral dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Dengan demikian, kecerdasan intelektual berjalan seiring dengan ketundukan pada aturan syariat.

Selain itu, Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas dan adil bagi setiap pelaku kejahatan, termasuk pelajar. Sanksi bukan semata-mata hukuman, melainkan mekanisme edukatif untuk menjaga masyarakat dan mencegah kerusakan yang lebih luas. Negara Islam juga membangun suasana kehidupan yang kondusif bagi ketakwaan, mendorong amar makruf nahi mungkar, serta memotivasi masyarakat untuk berlomba dalam kebaikan.

Sinergi antara pendidikan keluarga, lingkungan sosial, dan sistem pendidikan negara menjadi kunci keberhasilan. Seluruhnya berpijak pada akidah dan syariat Islam, sehingga pembentukan generasi tidak bergantung pada institusi sekolah semata, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif dalam sistem yang terintegrasi.

Jalan Keluar Krisis Pendidikan

Al-Qur'an dan Hadis memberikan kerangka solusi yang komprehensif untuk mengatasi krisis pendidikan hari ini. Pertama, pendidikan harus dikembalikan pada tujuan penciptaan manusia, yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.adz-Dzariyat : 56)

Ayat ini menegaskan bahwa orientasi pendidikan tidak boleh lepas dari pembentukan ketundukan kepada Allah, sehingga ilmu menjadi sarana ketaatan, bukan alat pembenaran hawa nafsu.

Kedua, pendidikan wajib menanamkan adab sebelum ilmu. Rasulullah ï·º bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari lahirnya pribadi berakhlak, bukan semata-mata pencapaian akademik.

Ketiga, negara berkewajiban mengatur dan menjamin sistem pendidikan yang menjaga moral masyarakat. Rasulullah ï·º bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, negara tidak boleh abai terhadap kerusakan moral generasi, termasuk dengan menerapkan sistem sanksi yang tegas, adil, dan mendidik.

Keempat, lingkungan sosial harus diarahkan pada budaya amar makruf nahi mungkar. Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mengajarkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran : 110)

Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara dalam bingkai syariat Islam akan melahirkan generasi yang imannya kuat, akhlaknya kokoh, dan intelektualnya cemerlang.

Refleksi Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan slogan. Kondisi dunia pendidikan yang semakin buram menuntut evaluasi mendasar terhadap sistem yang diterapkan. Islam menawarkan paradigma pendidikan yang komprehensif, komprehensif pada akidah, dan berorientasi pada pembentukan manusia berilmu sekaligus bermoral dengan Islam berkepribadian. Tanpa perubahan paradigma, peringatan Hardiknas bertanya-tanya hanya akan menjadi ritual tahunan yang hampa makna, sementara krisis generasi terus berulang dari waktu ke waktu. Wallahu a'lam Bi Shawab.[]


Posting Komentar

0 Komentar