Oleh Neni Moerdia
Vivisualiterasi.com - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Seremoni digelar, pidato disampaikan, dan harapan diulang. Namun dibalik perayaan itu, realitas dunia pendidikan justru menunjukkan wajah yang semakin buram dan memprihatinkan.
Berbagai persoalan muncul ke permukaan. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah maupun kampus kian mengkhawatirkan, menandakan bahwa ruang pendidikan belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman. Di sisi lain, praktik kecurangan seperti joki ujian, plagiarisme, hingga manipulasi akademik masih marak terjadi. Fenomena ini mencerminkan krisis integritas yang tidak bisa lagi dianggap sepele.
Tidak berhenti di situ, keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam penyalahgunaan narkoba juga mengalami peningkatan. Ironisnya, hubungan antara siswa dan guru pun mulai mengalami degradasi. Munculnya kasus siswa yang berani menghina bahkan melaporkan guru menunjukkan adanya pergeseran nilai penghormatan dalam dunia pendidikan. Banyak pula viral di media sosial seorang murid berani melawan gurunya dengan menantang guru saat proses belajar dan ditonton oleh murid lainnya.
Momentum Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Persoalan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai kasus-kasus terpisah, melainkan sebagai indikasi adanya masalah sistemik dalam arah dan implementasi pendidikan.
Pendekatan pendidikan yang terlalu pragmatis alias berorientasi pada hasil instan dan materi, berpotensi mendorong sebagian peserta didik untuk menghalalkan berbagai cara demi mencapai tujuan. Ketika keberhasilan hanya diukur dari capaian angka dan status, maka proses dan etika menjadi hal yang mudah dikorbankan. Pendidikan seharusnya melahirkan kebermanfaatan bagi masyarakat, dengan menjunjung nilai halal dan haram sebagai dasar moral kemanusiaan.
Salah satu hal yang patut dikritisi adalah belum optimalnya pembentukan karakter dalam sistem pendidikan. Orientasi selama ini menekankan capaian akademik dan kompetisi seringkali mengabaikan pembinaan moral dan kepribadian. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh dalam integritas dan nilai.
Bukti kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan saat ini menghasilkan pelajar yang mengalami krisis kepribadian, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.
Sistem sekuler kapitalistik menghasilkan output pendidikan orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. Selain itu longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih dibawah umur) membuat tindak kriminal yang dilakukan hanya dipandang sebagai faktor kenakalan anak semata. Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Konstruksi Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban. Oleh karena itu, pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara untuk menjamin setiap individu mendapatkan pendidikan yang layak. Sistem pendidikan yang berasaskan akidah diarahkan untuk membentuk insan kamil, manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan yang kuat. Dengan fondasi ini, keberhasilan tidak ditempuh melalui kecurangan, melainkan melalui usaha yang jujur dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar transfer ilmu, pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah). Seorang pelajar tidak hanya dituntut memiliki pola pikir yang benar, tetapi juga pola sikap yang selaras dengan nilai-nilai pola pikir Islami. Keselarasan antara pemikiran dan perilaku inilah yang menjadi ciri utama pribadi yang berintegritas.
Hal ini hanya akan terlaksana jika negara menerapkan semua nilai-nilai Islam dalam setiap aspek tanpa terkecuali, karena semua hal tersebut saling memengaruhi dan dipengaruhi. Negara ini disebut dengan Daulah Khilafah Islamiyah.
Dalam menjaga tatanan kehidupan, Daulah Khilafah Islamiyah juga menetapkan sistem sanksi yang tegas bagi setiap bentuk pelanggaran, termasuk yang dilakukan oleh pelajar. Penerapan sanksi ini bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi sebagai upaya preventif dan edukatif agar tercipta lingkungan yang tertib dan berkeadilan.
Selain itu, Daulah Khilafah Islamiyah akan membangun suasana kehidupan yang sarat dengan ketakwaan. Lingkungan sosial diarahkan untuk mendorong setiap individu berlomba dalam kebaikan, sehingga nilai moral tidak hanya diajarkan, tetapi juga hidup dalam keseharian masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat antara keluarga, lingkungan, dan sistem yang dijalankan negara. Ketiganya harus berpijak pada akidah dan syariat Islam agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian mulia dan berkontribusi positif bagi masyarakat.[]


0 Komentar