Oleh: Febriyanti M, A.Md.Tekim
(Aktivis Dakwah)
Vivisualiterasi.com - Berbagai masalah dalam negeri terus membelit rakyat sepanjang tahun. Mulai dari kemiskinan struktural, judol, prostitusi anak, pembulian, eksploitasi seksual, juga kekerasan yang semakin merajalela dimana-mana. Dilansir dari kpai.go.id (19/11/2025) kasus kekerasan disekolah semakin meningkat, kekerasan didunia pendidikan ini sangat fatal karena berujung pada kematian bagi para pelajar. Belum lagi dapat dilihat dari isu kemiskinan struktural yang kini bukan lagi sekedar isu melainkan sudah memberi dampak yang cukup luas bagi para masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Bukan hanya problematika dalam negeri, namun ditingkat internasional genosida Palestina masih terus berlangsung. Umat Islam di Gaza dibuat mati kelaparan, sementara para penguasa dinegeri-negeri muslim tidak bergerak sama sekali untuk mengirim pasukannya. Justru yang diviralkan saat ini ialah semaraknya pembukaan Piala Dunia 2026 dengan rangkaian seremoni sejak 11 hingga 12 Juni 2026. Padahal diwaktu yang sama para penduduk Gaza sedang dibombardir lewat serangan udara yang menghantam wilayah sekitar Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza Tengah (Breaking.News 11/6/2026).
Tahun baru Islam hadir yaitu tepat 1 Muharram 1448 H atau 16 Juni 2026 seharusnya menjadi momentum bangkitnya semangat kaum muslim diseluruh dunia , tetapi kondisi umat Islam saat ini justru masih jauh dari predikat khairu ummah atau umat terbaik. Mengapa? fakta yang terlihat banyak kaum muslim jauh dari syariat dan menjadikan Islam hanya sebatas agama yang berisi persoalan ibadah semata tanpa melihat aturan hidup didalamnya.
Sistem Kapitalistisme Penghambat Perubahan
Pemikiran umat Islam saat ini sudah terkontaminasi dengan sistem yang saat ini diterapkan oleh penguasa. Banyaknya persoalan yang tidak diberikan solusi tuntas, yang pada akhirnya menyebabkan seluruh kenestapaan dalam negeri tak kunjung reda. Akar masalah yang hingga kini belum usai tentu adalah diterapkannya sistem kapitalis yang sekuler. Hasil dari sistem ini sudah pasti penderitaan, karena memisahkan agama dari kehidupan sama saja menjadikan standar hidup berdasarkan asas manfaat dari materi saja, maka standar halal haram terlupakan begitu saja alhasil kerusakan merata terjadi pada lini kehidupan masyrakat.
Bahkan dikancah Internasional pun umat muslim sangatlah lemah, hanya menjadi penonton saja didepan berbagai macam kezaliman yang terjadi, termasuk ketidakmampuan umat muslim membela saudara muslim yang ada di Palestina. Umat muslim tercerai berai akibat tidak adanya institusi Khilafah yang menjamin perlindungan terhadap umat dari racun nasionalisme yang mencokol dibenak-benak kaum muslim itu sendiri.
Momentum Muharram : Hijrah Hakiki dengan Sistem Islam
Muharram kali ini sudah sepatutnya menjadi refleksi bagi kita untuk menyadarkan diri kita dan tentunya umat muslim lainnya bahwa segala penderitaan yang kita alami saat ini, bukan semata-mata karena takdir yang harus kita terima secara pasrah, namun ini ialah akibat jauhnya kita dari hukum-hukum yang sudah Allah tetapkan. Inilah mengapa makna dari hijrah hakiki harus kita pahami dan maknai secara transformatif. Hijrah dengan makna berpindah, yakni tujuan berpindah dengan sistem Islam sama artinya berusaha serta berjuang memutus rantai sistem kufur kapitalisme lewat penerapan syariat yaitu menuju penerapan sistem Islam yang komprehensif dibawah naungan daulah khilafah Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa saat syariat yang diterapkan secara utuh maka hasilnya ialah keadilan bagi setiap umat, keamanan umat terjaga, kesehatan difasilitasi negara, dan ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Fakta peradaban Islam pada abad ke 8 hingga 13 Masehi menjadi pusat ilmu dunia karena Islam tidak terpisahkan dari urusan-urusan pengelolaan negara.
Tantangan terbesar dalam menuju sistem Islam secara kaffah ini, sering datang dari pola pikir kita sendiri. Banyak yang menunggu sistem dalam negara berubah dulu baru mau menerapkan kediri sendiri, padahal jika kita melihat contoh yang sudah pernah terjadi dari zaman Rasulullah bahwa Madinah tidak menjadi negara Islam karena sistemnya dari awal sudah sempurna, melainkan Madinah itu menjadi negara Islam karena orang-orangnya satu persatu berubah terlebih dahulu. Islam kaffah ini adalah proses, bukan sekedar status yang akan langsung berubah. Inilah esensi meneladani Rasulullah, sepanjang hidup beliau hanyalah untuk meninggikan kalimat Allah, menerapkan syariat Allah di bumi Allah. Sebagaimana beliau bersabda, “Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi yang lain. Akan tetapi, sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku. Sepeninggalku akan ada khalifah-khalifah dan jumlahnya banyak.” Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat yang telah diberikan kepada (khalifah) yang paling pertama kemudian yang berikutnya. Penuhilah hak mereka dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.” (muttafaq alaih, sahih Bukhari 3455). Rasulullah mencontohkan kepada kita, perubahan yang hakiki itu butuh perjuangan yang panjang dan terorganisir seperti beliau dan para sahabat lakukan. Adapun tahapan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun masyarakat Islam diantaranya:
1. Pembinaan, untuk membentuk kepribadian Islam yaitu lewat pemahaman akidah yang benar juga syariat.
2. Interaksi dengan umat, sebelumnya lewat pembinaan terbentuklah kelompok dakwah yang akan menyeru kepada masyarakat tentang Islam dengan seperangkat aturannya untuk dijadikan sebagai landasan berfikir umat.
3. Peneriman kekuasaan, atau bisa dikatakan metode revolusioner dimana ini merupakan tahap akhir yaitu memperoleh kekuasaan untuk menerapkan sistem Islam secara menyeluruh.
Inilah langkah perubahan itu, hidup dengan Islam sebagai landasan umat. Teruslah melangkah untuk mewujudkan kehidupan rahmatan lil 'alamin, kehidupan yang memberikan kebaikan bagi seluruh mahluk hidup. Janganlah takut untuk bangkit ingat firman Allah :
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka senantiasa menyembah-Ku semata-mata dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik" (QS An-Nur: 55) , Wallahu a'lam bissawab.


0 Komentar