(Aktivis Dakwah)
Dan inilah yang dilakukan Zionis terhadap muslim Palestina, sangat mengerikan, memilukan, dan mengoyak hati nurani manusia. Ribuan anak dibunuh tanpa belas kasih, setiap hari mereka harus melaksanakan shalat jenazah, rumah tempat mereka bernaung pun dihancurkan, menjadi rata dalam sekejap mata.
Jenazah tidak diberikan kehormatan untuk di kuburkan di tanah kelahirannya sendiri. Gaza sudah berubah menjadi hamparan luka dan lautan air mata, langitnya dipenuhi asap dan hujan peluru, tanahnya dipenuhi reruntuhan bangunan.
Tangisan terus menggema memecah kesunyian dunia yang sudah kehilangan hati dan empatinya. Para jurnalis terus berjuang, meski tertatih demi menyuarakan keadaan Palestina pada dunia, sayangnya mereka justru ikut menjadi target serangan pemusnah.
Mereka dibungkam dengan tembakan, agar kejahatan tak lagi tersebar, dan penderitaan tak lagi terdengar. Namun meski dunia menyaksikan, ribuan nyawa melayang setiap harinya, kemanusiaan saat ini diukur sesuai kepentingan politik dan keuntungan ekonomi.
Tragedi yang sudah puluhan tahun ini lahir dari sistem sekuler kapitalis yang menjadikan kekuatan dan kepentingan sebagai penentu kebenaran. Negara yang kuat boleh menjajah dan menghancurkan, sedangkan negara yang lemah harus tunduk dan ikuti setiap aturan.
Sistem ini melahirkan standar ganda yang nyata. Ketika kepentingan menjadi tujuan utama, maka darah manusia tak lagi berharga, air mata anak-anak tak mampu menggetarkan jiwa mereka yang sudah tertutup fatamorgana dunia, dan penderitaan rakyat Palestina dianggap dongeng pengantar tidur belaka.
Nasionalisme juga telah memecah kaum muslimin. Umat terbagi sesuai batas-batas wilayah yang sempit. Kekuasaan Islam yang begitu luasnya, dan dahulu disatukan oleh akidah, kini tercerai-berai ke seluruh penjuru dunia.
Padahal Palestina bukan sekadar persoalan satu bangsa, melainkan luka kaum muslimin seluruhnya, namun saat ini, ikatan akidah justru semakin melemah, sementara musuh-musuh Islam terus kuat dan bersatu dalam berbagai bidang demi mempertahankan penjajahan.
Dalam Islam, kaum muslimin adalah satu tubuh yang saling menjaga dan melindungi. Ketika satu bagian terluka, bagian lain ikut merasakan sakitnya. Karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan persatuan umat di bawah aturan islam yang kaffah.
Dengan syariat Islam, penjajahan akan mudah dihentikan, kezaliman akan bisa dihancurkan, dan kehormatan manusia akan dijaga tanpa memandang kepentingan.
Dalam sejarah, kepemimpinan Islam pernah menjadi pelindung bagi negeri-negeri kaum muslimin maupun bagi rakyat non muslim, juga sebagai benteng pelindung bagi rakyat tertindas dan penolong untuk rakyat yang membutuhkan bantuan. Palestina dijaga sebagai tanah mulia yang berisi berbagai suku dan agama.
Di masa Kesultanan Utsmaniyah, dibawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II, seorang tokoh yahudi Theodor Herlz pernah datang menghadap sultan untuk meminta tanah Palestina agar menjadi tanah air nasional Yahudi.
Theodor Herlz juga memberikan uang senilai 20 juta pound sterling atau setara dengan 480 miliar, dengan nilai kurs saat ini. Namun dengan tegas Sultan Abdul Hamid II menolak, sambil mengatakan “Aku tidak akan menjual walau sejengkal tanah Palestina, karena tanah itu bukan milikku, melainkan milik umat Islam. Umatku telah berjuang dengan darah mereka untuk tanah ini.”
Dalam kepemimpinan IsIam, tidak ada ruang bagi penjajahan, pembantaian, ataupun penghinaan terhadap manusia. Islam sangat menekankan bahwa nyawa seorang manusia sangat berharga, sehingga darah tidak boleh ditumpahkan dengan zalim dan sewenang-wenang.
Peristiwa Palestina juga mengajarkan kita satu hal yang jarang disadari oleh banyak orang, bahwa penjajahan tidak selalu dimulai dengan mengangkat senjata, tetapi ketika sudah hilangnya rasa peduli dan empati manusia.
Ketika umat Islam saat ini sudah sudah mulai terbiasa melihat penderitaan tanpa tergerak melakukan perlawanan, saat itulah nurani perlahan lemah dan dimatikan. Zionis bukan hanya menghancurkan bangunan dan merampas tanah, tetapi juga berusaha memutus identitas, sejarah, dan keyakinan generasi Palestina.
Namun ajaibnya, di tengah genosida dan ketakutan, rakyat Palestina tetap menjaga hafalan Qur'an, sekolah, dan pendidikan meski dengan tempat dan perlengkapan seadanya. Semua ini membuktikan bahwa kekuatan iman akan mampu menjaga sebuah bangsa bisa tetap hidup meski terus dihancurkan.
Karena itu, perjuangan Palestina bukan sekadar tentang mempertahankan wilayah, tetapi menjaga warisan agama Islam agar tidak hilang ditengah penjajahan. Umat Islam perlu mengambil pelajaran bahwa kebangkitan tidak lahir dari besarnya jumlah, melainkan dari kuatnya iman, persatuan, dan kepedulian umat terhadap saudara seiman.
Sudah saatnya kaum muslim bangkit dengan persatuan, jangan terus terlena dalam perpecahan. Palestina bukan sekedar tanah dan bangunan, tetapi tentang kehormatan iman, harga diri, dan nilai kemanusiaan umat Islam.
Kini kaum muslimin harus segera menyatukan kekuatan, dan kembali menjadikan Islam sebagai pedoman, karena hanya dengan kebangkitan Islam lah kemuliaan kaum muslimin dapat kembali terjaga dan pembebasan Palestina bukan lagi sekadar harapan belaka. Wallahu a'lam Bisshowab.


0 Komentar