Subscribe Us

PENGHINAAN TERHADAP GURU : POTRET KEGAGALAN PENDIDIKAN BERBASIS SEKULARISME-KAPITALISME


Oleh Hanum Hanindita, S.Si
(Penulis Artikel Islami)


Vivisualiterasi.com - Aksi tidak pantas yang dilakukan sembilan siswa terhadap seorang guru SMA di Purwakarta baru-baru ini menuai perhatian serius dari berbagai kalangan. Peristiwa tersebut terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar di kelas selesai. Video yang viral di media sosial memperlihatkan para siswa mengejek seorang guru perempuan dengan gestur yang sangat tidak sopan, seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA tersebut menyampaikan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah tegas sesuai aturan yang berlaku. (jabar.tribunnews.com, 18-04-25)

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar masalah disiplin internal sekolah, melainkan sebuah alarm keras mengenai rapuhnya fondasi moral generasi muda kita hari ini. Perilaku tersebut nyata-nyata mencederai nilai-nilai pendidikan serta etika yang seharusnya dijunjung tinggi di institusi pendidikan.

Faktor Penyebab Rusaknya Perilaku Siswa

Penghinaan terhadap guru adalah salah satu bentuk nyata dari dekadensi moral atau rusaknya perilaku siswa secara sistemik. Ada kombinasi faktor internal dan eksternal yang menyebabkan siswa berani berbuat demikian. Secara internal, lemahnya kontrol diri dan ketiadaan pemahaman agama yang mendalam membuat siswa kehilangan kompas etika. Mereka tidak lagi memiliki rasa malu (iffah) dan rasa hormat kepada orang tua kedua mereka, yakni guru.

Secara eksternal, lingkungan pergaulan yang bebas, tontonan media sosial yang tidak tersaring, serta melemahnya fungsi kontrol dari keluarga menjadi pemicu utama. Guru yang dahulu dianggap sebagai sosok yang "digugu dan ditiru", kini sering kali dipandang hanya sebagai penyedia jasa pendidikan belaka. Hubungan antara guru dan murid telah bergeser dari hubungan kasih sayang dan takzim menjadi hubungan transaksional yang dingin.

Hasil Pendidikan Berbasis
Sekularisme Kapitalisme

Jika kita telusuri lebih dalam, akar masalah dari fenomena ini adalah sistem pendidikan yang menjadikan sekularisme kapitalisme sebagai pijakannya. Sekularisme sebagai paham yang memisahkan agama dari kehidupan telah membuat nilai-nilai ketuhanan dan akhirat tercerabut dari ruang kelas. Agama hanya diletakkan sebagai mata pelajaran pelengkap, bukan sebagai landasan cara berpikir dan berperilaku.

Sistem kapitalisme juga turut andil dengan mengarahkan pendidikan pada capaian materi semata. Fokus utama pendidikan saat ini adalah mencetak tenaga kerja yang siap pakai untuk industri. Akibatnya, keberhasilan siswa hanya diukur melalui angka-angka akademis dan kompetensi teknis, sementara pembentukan karakter dan akhlak mulia terpinggirkan.

Pendidikan "berkarakter" yang digaungkan selama ini terbukti gagal membentuk akar keimanan yang kokoh pada diri siswa. Tanpa iman, karakter hanya menjadi topeng formalitas yang mudah retak saat berhadapan dengan pengaruh lingkungan yang buruk.

Islam Melahirkan Generasi Cemerlang

Sangat kontras dengan sistem saat ini, dalam Islam pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses penanaman adab dan ketakwaan. Allah Swt. berfirman mengenai tingginya derajat orang yang berilmu dan beriman:

"…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah berkaitan erat dengan ilmunya. Namun, ilmu tersebut tidak akan membawa kemuliaan jika tidak disertai dengan adab yang baik terhadap pembawa ilmu itu sendiri, yaitu guru.

Dengan demikian, pada konsep Islam, generasi dididik untuk memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang islami. Dalam kacamata Islam, guru menempati posisi yang sangat mulia, bahkan setingkat dibawah kedudukan para nabi dalam hal menyampaikan kebenaran. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa murid harus tunduk pada gurunya sebagaimana tanah yang kering tunduk pada hujan yang membawa kehidupan.

Islam juga mengajarkan bahwa keberkahan ilmu hanya bisa diraih jika seorang murid memiliki adab yang baik terhadap gurunya.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua (termasuk guru) di antara kami." (HR. Tirmidzi)

Ungkapan "adab di atas ilmu" bukan sekadar jargon, melainkan praktik nyata yang diterapkan oleh para ulama terdahulu. Tanpa penghormatan kepada guru, ilmu yang didapat hanya akan menjadi informasi kosong yang tidak memberikan manfaat bagi jiwa maupun masyarakat.

Peran Negara Dalam Menjaga Martabat Guru

Transformasi pendidikan ini membutuhkan peran besar negara. Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam. Kurikulum disusun sedemikian rupa sehingga setiap mata pelajaran bermuara pada penguatan keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.

Selain itu, negara berfungsi sebagai pelindung martabat guru. Jika terjadi penghinaan terhadap guru seperti yang terjadi di Purwakarta, Islam memiliki sistem sanksi (uqubat) yang tegas. Sanksi ini bertujuan untuk memberikan efek jera (jawabir) bagi pelaku dan pencegah (zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Negara tidak akan membiarkan guru berjuang sendirian menghadapi perundungan dari murid atau tekanan wali murid.

Mengembalikan Adab Dan Keberkahan

Penghinaan terhadap guru adalah potret kecil dari kegagalan sistemik yang perlu segera dibenahi. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan besar jika fondasi pendidikannya masih sekuler dan kapitalistik. Sudah saatnya kita kembali kepada konsep pendidikan Islam yang memadukan kecerdasan akal dengan kemuliaan akhlak.

Hanya dengan menempatkan agama sebagai pengatur seluruh sendi kehidupan, termasuk pendidikan, kita dapat melahirkan generasi cemerlang yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga takzim kepada guru dan taat kepada Penciptanya. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari akan mendatangkan berkah bagi diri, keluarga, dan bangsa. Wallahu a'lam bishowab.[]

Posting Komentar

0 Komentar