Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)
Vivisualiterasi.com - Setelah berpuasa selama satu bulan lamanya, kaum muslim merayakan hari kemenangan. Hari itu adalah Idul fitri, sukacita dan gembira terpancar dari seluruh pelosok negeri. Namun sayang, kegembiraan itu rasanya tidak penuh energi. Mengapa? Karena kaum muslim nun jauh di belahan bumi lainnya masih merasakan penyiksaan serta penjajahan fisik yang begitu menyakitkan. Tak usah jauh, di negeri kita sendiri masih banyak saudara di wilayah Aceh serta Sumatra yang merayakan hari kemenangan di tenda pengungsian. Sehingga kemenangan itu belum terasa oleh semua pihak. Kesedihan tentunya masih terus mengiringi kaum muslim.
Belum lagi pasca mudik ke kampung halaman, ternyata orang berbondong-bondong pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan yang layak. Pasalnya, di desa mereka pekerjaan begitu sedikit. Ketika ada pekerjaan, upah atau gaji tidak memadai. Alhasil, banyak orang yang berpikir bahwa dengan pergi ke kota maka tentunya akan mendapatkan pekerjaan serta upah yang layak. Urbanisasi, itulah nama keren dari berbondong-bondongnya orang desa pergi ke kota demi pekerjaan yang lebih layak.
Dikutip dari metrotv.com (27/03/2026) Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Bonivasius Prasetya Ichtiarto) mengatakan fenomena arus balik yang makin ramai dari tahun ke tahun menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk di negeri ini. Fenomena tersebut tak hanya berbicara tradisi mudik ketika lebaran, arus balik kini mengambil bentuk yang lebih luas. Saat arus balik, masyarakat kembali ke kota dengan membawa saudara atau teman. Tujuannya adalah mencari kehidupan yang lebih baik dengan mendapat pekerjaan layak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 54,8% penduduk tinggal di perkotaan, dan sisanya tinggal di pedesaan. Dari aktivitas urbanisasi mencerminkan ketimpangan struktural nyata antara desa dan kota. Akibat nyata yang dirasakan adalah di desa kekurangan SDM (generasi muda) yang nantinya menjadi pemegang tongkat estafet selanjutnya. Dan di kota sendiri tentu beban demografi makin tinggi. Alhasil, tentu akan memantik persoalan baru.
Urbanisasi ini sebenarnya bukan kasus tahun ini saja, melainkan sudah sedari dahulu terjadi. Entah pastinya dari tahun berapa, namun sejak kurangnya lapangan pekerjaan serta gaji sesuai menjadi pemicu aktivitas tersebut. Dapat kita pahami secara mendalam bahwa fenomena urbanisasi ini muncul akibat sistem yang diterapkan saat ini. Kapitalis telah memandang segalanya sesuai dengan muatan yang dibawanya yaitu keuntungan serta mendapatkan materi yang banyak. Dengan begitu, wilayah kota menjadi satu tempat yang dianggap cocok untuk melakukan seluruh aktivitas perekonomian. Termasuk pula dengan segala infrastruktur dipenuhi agar kegiatan ekonomi bisa berjalan dengan baik. Gedung pemerintahan, pasar, jalan raya, akses komunikasi, dan lainnya pasti akan dipenuhi. Sehingga yang terjadi tentu modal akhirnya bergerak deras ke wilayah kota. mengalir ke kota. Sementara di desa hanya sisanya saja dan pembangunan pun seadanya. Wajar saja jika akhirnya masyarakat terus mencari keberuntungan itu ke wilayah kota. Di sinilah akhirnya orang menjadi sadar bahwa ketimpangan begitu nyata adanya karena memang tercipta dari sistem kapitalis sekuler yang ditetapkan saat ini. Maka wajar pula jika terlihat akan sulit untuk mengurangi atau menekan angka urbanisasi.
Pandangan terkait dengan keuntungan dan materi seperti pada kapitalisme tidak dijumpai dalam sistem Islam. Dalam pandangan Islam, pemerintah justru harus menjalankan amanahnya dengan baik sampai tercipta kemaslahatan umat. Artinya seluruh masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik, haknya terpenuhi dengan sempurna. Termasuk pula pada kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan yang harus dipastikan per individu apakah sudah didapatkan dengan baik. Kemudian skala umum seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan harus dipastikan semua mendapatkannya. Dengan begitu, masyarakat akhirnya sejahtera dan hidup dengan baik (aman, nyaman). Mereka tidak akan memikirkan lagi biaya ini itu karena semua bisa dipenuhi. Dan fasilitas lengkap pun ada di wilayah desa. Artinya tidak ada perbedaan atau kesenjangan antara desa dan kota. Pasar, jalan raya, angkutan, dan yang lainnya semua sama. Sehingga akan terwujud dimanapun tinggal, maka akan mendapatkan fasilitas sama. Tak ada lagi yang gencar memilih kota sebagai tempat untuk mencari nafkah karena di desa pun bisa didapatkan.
Ditambah lagi, negara benar-benar adil dalam membagi pengelolaan untuk di desa dan kota. Tentu hal ini dilakukan agar pemerataan pembangunan terjadi dan akses masyarakat tidak perlu ke kota untuk mendapatkan sesuatu. Karena di desa pun bisa didapatkan. Tak lupa juga negara berhasil menata wilayah untuk mengembangkan berbagai sektor seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, laut, dan lainnya. Desa tentunya tempat yang bagus untuk mengembangkan sektor pertanian, maka akan diberikan modal yang cukup untuk para petani menggarap lahannya agar hasilnya melimpah. Ketika petani tidak mempunyai lahan, maka negara akan memberikannya secara percuma asal mau menggarap dengan baik. Prinsip dalam Islam, tidak membiarkan lahan menganggur selama tiga tahun berturut-turut. Jika terjadi maka negara akan mengambil tanah tersebut dengan mekanisme yang sudah menjadi aturan baku nantinya. Alhasil, tidak ada orang yang mempunyai lahan untuk membiarkannya tanpa ditanami apapun. Prinsip inilah yang akhirnya memacu semua orang untuk aktif melakukan sesuatu untuk mendapatkan hasil. Tak dibiarkan orang berleha-leha tanpa melakukan sesuatu. Sehingga yang terjadi adalah desa yang subur akan menghasilkan begitu banyak hasil pangan yang nantinya bisa dijual ke wilayah lain. Ini salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat desa. Dengan fasilitas jalan yang memadai, maka tak menjadi halangan besar untuk distribusi ke wilayah lain termasuk ke kota.
Tentu hal tersebut akan bisa berjalan dengan baik jika sistem Islam diterapkan secara sempurna dalam kehidupan ini. Yang terwujud dalam sebuah institusi Daulah Islam. Dengan begitu, ketimpangan tak akan pernah terjadi dan kehidupan nyaman akan dirasakan oleh semua pihak baik di desa atau kota. Wallahu a’lam bissawab.


0 Komentar