Subscribe Us

HARI TAHANAN PALESTINA : LUKA PANJANG YANG MENUNTUT KESADARAN UMAT


Oleh Novita L, S.Pd


Vivisualiterasi.com - Setiap tanggal 17 April, dunia memperingati Hari Tahanan Palestina. Namun bagi rakyat Palestina sendiri, ini bukan sekadar momentum simbolik, melainkan pengingat akan penderitaan panjang yang terus berlangsung tanpa jeda. Ribuan pria, perempuan, bahkan anak-anak, mendekam di penjara Zionis dalam kondisi yang jauh dari kata manusiawi. Di balik jeruji itu, mereka bukan hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga martabat, kesehatan, bahkan nyawa.

Data menunjukkan bahwa sejak tahun 1967, sekitar satu juta warga Palestina (hampir 20% dari total populasi) pernah merasakan dinginnya sel penjara Zionis. Saat ini pun, sekitar 9.600 warga Palestina masih ditahan. Angka ini bukan sekadar statistik, ia adalah representasi dari sistem penindasan yang terstruktur dan berkelanjutan. Lebih memilukan lagi, berbagai laporan mengungkapkan bahwa para tahanan mengalami penyiksaan fisik, pelecehan seksual, kelaparan, hingga kematian. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi bentuk nyata dehumanisasi.

Di tengah tragedi ini, masyarakat dunia memang menunjukkan solidaritas. Demonstrasi digelar di berbagai negara, menuntut pembebasan para tahanan, terlebih setelah disahkannya undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina oleh rezim Zionis. Namun pertanyaannya, mengapa semua ini terus terjadi? Mengapa penderitaan Palestina seolah tidak pernah menemukan ujungnya?
Jika ditelusuri lebih dalam, penjajahan atas Palestina bukanlah konflik biasa. Ia adalah bagian dari proyek imperialisme global yang mendapat dukungan penuh dari negara-negara besar, khususnya Barat yang berhaluan kapitalisme. Dukungan ini tidak selalu dalam bentuk militer, tetapi juga politik, ekonomi, dan diplomasi. Dengan kata lain, kezaliman yang terjadi bukan berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh sistem global yang menguntungkan pihak penjajah.

Di sisi lain, lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kerap dipandang sebagai harapan untuk menegakkan keadilan. Namun realitas berbicara lain. Resolusi demi resolusi yang dikeluarkan sering kali tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan agresi. Bahkan, banyak keputusan yang justru mandek karena kepentingan politik negara-negara besar. Ini menunjukkan bahwa sistem hukum internasional tidak benar-benar netral. Ia sarat kepentingan dan sering kali berpihak.

Narasi Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini digaungkan Barat pun tampak kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan kasus Palestina. Standar ganda begitu jelas terlihat. Ketika pelanggaran terjadi di wilayah lain, kecaman dan sanksi datang bertubi-tubi. Namun ketika Palestina yang menjadi korban, respons yang muncul cenderung lemah, bahkan terkesan abai.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini tidak bisa hanya dilihat sebagai isu kemanusiaan semata. Palestina adalah bagian dari tanah kaum Muslim, dan penderitaan yang dialami rakyatnya merupakan bagian dari persoalan umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, ini adalah qodhiyyah islamiyyah atau persoalan yang menyangkut akidah dan tanggung jawab kolektif umat.

Allah SWT berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya…’” (QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini menegaskan bahwa membela kaum tertindas bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban. Ketika ada saudara seiman yang dizalimi, maka umat Islam tidak boleh tinggal diam. Apalagi jika kezaliman itu terjadi secara sistematis dan terus-menerus seperti di Palestina.

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa eratnya ikatan antar sesama Muslim. Penderitaan di Palestina seharusnya dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun realitasnya, kepedulian sering kali bersifat sesaat, muncul ketika ada peristiwa besar, lalu meredup kembali.

Di sinilah pentingnya membangun kesadaran ideologis. Umat Islam perlu memahami bahwa persoalan Palestina bukan sekadar konflik politik atau isu kemanusiaan, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan. Kepedulian terhadapnya harus dilandasi oleh akidah, bukan sekadar empati emosional yang mudah hilang.
Lebih dari itu, solusi yang ditawarkan tidak bisa berhenti pada diplomasi atau tekanan internasional. Pengalaman panjang menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak mampu menghentikan penjajahan. Dalam Islam, ada konsep junnah—pelindung umat—yang berfungsi menjaga kehormatan dan keamanan kaum Muslim. Dalam sejarah, peran ini dijalankan oleh institusi kepemimpinan Islam yang memiliki kekuatan politik dan militer.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai (junnah), yang di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan kepemimpinan yang kuat sangat penting dalam melindungi umat. Tanpa itu, umat Islam akan tercerai-berai dan mudah menjadi sasaran kezaliman.
Oleh karena itu, banyak kalangan memandang bahwa solusi tuntas bagi Palestina tidak cukup dengan pendekatan parsial. Diperlukan perubahan mendasar yang mampu menghadirkan kekuatan nyata untuk menghentikan penjajahan. Ini bukan sekadar wacana politik, tetapi bagian dari upaya mencari solusi yang benar-benar efektif.

Namun yang paling penting saat ini adalah membangkitkan kesadaran umat. Bahwa Palestina bukan isu jauh yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita. Ia adalah bagian dari tubuh umat yang sedang terluka. Setiap bentuk kepedulian, baik doa, edukasi, maupun advokasi, harus dilandasi pemahaman yang benar dan komitmen yang kuat.
Hari Tahanan Palestina seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: sejauh mana kita benar-benar peduli, dan apa yang telah kita lakukan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menindas, tetapi juga siapa yang memilih untuk diam.
Wallahu a’lam bissawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar