Zionis Israel beserta pasukannya kembali melakukan serangan terhadap warga Palestina di tengah suasana peperangan Iran versus Israel-Amerika yang masih berlangsung. Lagi-lagi, hal ini terjadi pada masa gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya (cnnindonesia.com, 03-08-2026). Dengan senjata andalan, mereka menyerang warga sipil, paramedis, jurnalis, fasilitas publik, dan lingkungan sekitar, yang menunjukkan betapa memahaminya pemikiran mereka dalam menghapus segala hal yang dianggap sebagai penghalang. Tidak cukup sampai di situ, pasukan Zionis Israel juga menggempur Lebanon, tepatnya di Kota Beirut, dengan serangan udara hingga menyerang tujuh orang (kumparan.com, 03-12-2026). Hal ini mencuri perhatian dunia karena Israel, di bawah pengaruh Amerika, seolah tak henti-hentinya menunjukkan kekuatan mereka, yang menimbulkan krisis kemanusiaan di berbagai tempat.
Serangan Zionis Israel bukan hanya sebatas serangan fisik. Mereka juga sengaja memblokade tempat ibadah umat Muslim yang telah lama dijadikan tujuan ziarah utama setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pembatasan ini tentu saja melanggar hak warga Palestina dan umat Muslim lainnya yang ingin beribadah di sana. Selain itu, dalam sejarah peradaban, inilah pertama kalinya Masjidil Aqsa sunyi sepi pada malam-malam Ramadhan. Pada titik ini, kita dapat melihat bagaimana Zionis menggunakan kekuatan ilegal mereka untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam, terutama dari akar keimanannya.
Paparan beberapa kejadian mengerikan di atas menunjukkan bahwa koloni kafir tidak lagi sembunyi-sembunyi. Mereka semakin berani dan terus membangun citra dengan menggunakan senjata-senjata yang telah dipersiapkan untuk menyerang wilayah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Celah yang mereka gunakan masih dengan pola yang sama sejak dahulu kala, yaitu minyak dan ideologi.
Kekuasaan yang menindas (diktator), sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad No. 17680, benar-benar dirasakan umat saat ini. Dalam kondisi seperti ini, bukankah umat harus membuka mata dan mulai berpikir tentang perubahan yang seharusnya direalisasikan? Apakah tetap mengandalkan solusi ala sistem berideologi sekuler kapitalis buatan penjajah, atau kembali pada kebenaran hakiki milik ideologi Islam?
Rasulullah saw., sejak memimpin negara Islam di Madinah, sangat berhati-hati terhadap kaum Yahudi yang saat itu hidup berdampingan sebagai bagian dari masyarakat Daulah Islam. Meskipun telah ada perjanjian antara mereka dengan umat Islam, Rasulullah saw. selalu memberikan peringatan melalui perjanjian serta menetapkan hukuman tegas bagi pihak yang diam-diam maupun terang-terangan memusuhi Islam. Maka dari itu, bagaimana lagi jika permusuhan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti yang dilakukan oleh Zionis Yahudi?
Jejak kepemimpinan Rasulullah saw. dapat dijadikan suri teladan bagi umat dalam menyikapi persoalan dunia saat ini. Ideologi Islam yang menempatkan syariat sebagai dasar penerapan hukum jelas lebih teruji dibandingkan solusi-solusi baru yang tidak jelas diterima dalam cakupan sistem sekularisme yang menjunjung kebebasan dalam hukum. Dengan demikian, patut dipertanyakan apakah program BoP, yang pencetus sekaligus pendirinya berada di barisan penjajah, mampu menjamin kemerdekaan hakiki bagi warga Palestina dan umat Muslim lainnya.
Zionis Israel telah terlalu lama menjajah Palestina dan menimbulkan konflik global. Salah satu dampaknya adalah ancaman krisis energi di sejumlah wilayah akibat penutupan Selat Hormuz sebagai jalur penting perekonomian global, khususnya bagi Eropa dan sekitarnya. Selain ribuan nyawa tak berdosa yang menjadi korban peperangan antara dua kubu, umat juga diarahkan untuk menjauhi ajaran Islam yang mengajarkan jihad dalam membela Palestina.
Islam menjawab kenyataan ini dengan memberikan penjelasan yang jelas terkait kepemimpinan. Terlihat bagaimana umat terpecah-belah akibat sekat-sekat wilayah, dipisahkan oleh batas negara, bendera, dan visa, yang menunjukkan betapa ideologi sekuler bertentangan dengan persatuan umat.
Dengan kepemimpinan yang bersatu di bawah satu komando, umat Islam berpeluang merebut kembali tanah Palestina yang telah dirampas oleh penjajah. Kepemimpinan tersebut akan mengerahkan kekuatan militer untuk berjihad membela setiap jengkal wilayah yang di dalamnya manusia tertindas. Selain itu, kepemimpinan semacam ini juga mampu menghadirkan hakiki perdamaian bagi seluruh umat, tanpa memandang status maupun keyakinan. Setiap warga yang berada dalam naungan Daulah Islam akan merasakan keadilan di bawah aturan Sang Pencipta. Jika sistem kapitalisme sekuler terbukti gagal mewujudkan kedamaian, mengapa tidak kembali kepada Islam?
Wallahu a'lam bishshawab.(Dft)


0 Komentar