Subscribe Us

LEBARAN TERLILIT UTANG, SISTEM ISLAM SOLUSINYA

Oleh Anita Arwanda
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Vivisualiterasi.com-OJK memproyeksikan pinjol, multifinance, gadai, naik selama bulan puasa dan Idul Fitri. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, merinci penyaluran pembiayaan naik 8,9% pada Maret 2024 secara mtm. Kemudian pada tahun 2024, penyaluran pembiayaan pindar tercatat sebesar 3,8%.

"Ini menunjukkan periode bulan puasa hingga menjelang Lebaran menjadi momentum peningkatan penyaluran pembiayaan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat serta tambahan modal kerja UMKM secara musiman," ungkap Agusman dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3). (detik.com)

Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, mengatakan permintaan pembiayaan berpotensi meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan normal. “Karena permintaan pasti bisa double dibanding bulan-bulan biasa,” kata Entjik di Jakarta, Rabu (4/3). Lonjakan terjadi karena kebutuhan konsumsi meningkat tajam. (Warta ekonomi.com)

Pakar ekonomi syariah IPB University, Dr Ranti Wiliasih, mengatakan fenomena maraknya pinjol saat Ramadhan cenderung dipengaruhi oleh rasa FOMO (fear of missing out), keinginan mengikuti tren, serta kecenderungan meniru gaya hidup orang lain. Menurutnya, bulan Ramadhan budaya peningkatan konsumsi, sering kali mendorong masyarakat meningkatkan pengeluaran. Sayangnya, tidak semua peningkatan tersebut diimbangi dengan kemampuan finansial yang memadai. (Republika.co.id)

Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH) menyebut adanya 'ritual' menjelang Lebaran, rakyat justru ditekan permasalahan hidup. Yakni harga barang makin mahal. Padahal pemerintah berkali-kali menerapkan program diskon, bansos (bantuan sosial) dan pasar murah? Yang anggarannya cukup besar alias jumbo.
"Fenomena tahunan itu menunjukkan rentannya kondisi ekonomi rumah tangga Indonesia ketika menghadapi kenaikan harga, biaya mobilitas, tekanan nilai tukar, serta jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran."

Di atas kertas, kebijakan ini tampak progresif. Namun bagi rakyat, manfaatnya terasa terbatas. Diskon hadir, tetapi jendelanya sempit. Ia hanya menolong mereka yang memiliki fleksibilitas waktu, saldo cukup, informasi memadai, dan kesempatan membeli pada hari yang tepat. (Inilah.com)

Kapitalisasi momen bulan Ramadan dan lebaran melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan solusi mudah untuk utang yang makin membahayakan ekonomi keluarga. Perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah menurunnya pertumbuhan upah. Kondisi ini akan makin menjadikan keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan pokok dan semi pokok

Keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya pemilik kapital. Butuh sistem ekonomi stabil baik dari nilai mata uang maupun harga barang. Butuh sistem ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bukan memfasilitasi utang. 
Maka itu hanya akan didapatkan dari sistem ekonomi Islam. Di mana sistem ekonomi Islam harus sepakat dengan sistem politik Islam.

Ekonomi harus menyejahterakan dan merata (bukan hanya pemilik kapital), Allah Swt berfirman:

Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa perputaran kekayaan dalam Islam tidak boleh timpang (berat sebelah). Sistem ekonomi Islam hadir untuk memastikan kesejahteraan dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga kecil, bukan hanya segelintir pemilik modal.

Lapangan kerja layak, bukan jebakan utang, Rasulullah saw bersabda:

Seseorang yang membawa tali lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya (untuk dijual), itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain. (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mendorong produktivitas dan kemandirian ekonomi, bukan ketergantungan pada utang. 

Bahkan Nabi saw juga sering berdoa:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa sistem yang sehat adalah yang membuka peluang kerja, bukan yang menjadikan utang sebagai solusi utama.

Maka butuh kekuatan sistem (politik + ekonomi Islam), Allah Swt berfirman:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah…” (QS. Al-Ma’idah: 49)

Ayat ini menegaskan bahwa aturan Islam, termasuk dalam ekonomi, membutuhkan penerapan secara sistemik (negara), bukan hanya individu. Karena itu, ekonomi Islam tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem politik yang menerapkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh.

Tujuan Ramadan & Idulfitri adalah ketakwaan individu yang bisa dilaksanakan dengan sistem Islam, Allah Swt berfirman: 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ketakwaan dalam Islam tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sistem yang bertakwa adalah sistem yang tunduk pada aturan Allah, termasuk dalam pengelolaan ekonomi. Wallahua'lam bishawab.[AR]




Posting Komentar

0 Komentar