Subscribe Us

IDUL FITRI DITENGAH RERUNTUHAN : LUKA GAZA DAN PANGGILAN UKHUWAH UMAT



Oleh Devi Novianti


Vivisualiterasi.com - Idul Fitri sejatinya adalah momentum kemenangan, hari saat kaum Muslimin merayakan keberhasilan menahan hawa nafsu selama Ramadan. Namun bagi saudara kita di Gaza, hari raya justru hadir dalam balutan duka yang tak berkesudahan. Alih-alih gema takbir yang menggetarkan hati dalam suasana damai, yang terdengar adalah tangis kehilangan, deru kehancuran, dan rintihan di tengah puing-puing bangunan yang luluh lantak.

Berbagai laporan media, termasuk dari MINA News 26/03/2026, menggambarkan bagaimana warga Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan gedung dan tenda-tenda darurat. Anak-anak yang seharusnya mengenakan pakaian terbaik, justru harus puas dengan kondisi serba kekurangan. Banyak keluarga kehilangan orang-orang tercinta, rumah tinggal, bahkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Idul Fitri yang identik dengan kebahagiaan berubah menjadi simbol kesabaran dalam penderitaan.

Selain itu, krisis kemanusiaan yang berkepanjangan makin memperburuk keadaan. Keterbatasan akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan menjadi realitas sehari-hari. Bahkan, dalam beberapa laporan disebutkan adanya pembatasan aktivitas ibadah oleh otoritas Israel, termasuk pelaksanaan shalat Id di sejumlah lokasi. Hal ini makin menambah penderitaan warga yang sudah berada dalam tekanan berat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza bukanlah peristiwa sesaat, melainkan luka panjang yang terus menganga. Blokade berkepanjangan, serangan militer, serta pembatasan akses kebutuhan dasar telah menjadikan Gaza sebagai salah satu wilayah dengan krisis kemanusiaan terparah di dunia. Bahkan dalam momen sakral seperti Idul Fitri, penjajah Israel dilaporkan melarang pelaksanaan shalat Id di beberapa tempat, termasuk di Masjid Ibrahimi (MINA News 26/03/2026). Ini bukan sekadar pelanggaran hak beribadah, tetapi juga bentuk nyata penindasan terhadap identitas dan keyakinan umat Islam.

Di tengah penderitaan tersebut, perhatian dunia justru tampak teralihkan. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kerap mendominasi pemberitaan global, sehingga tragedi Gaza makin terpinggirkan. Hal ini menegaskan bahwa bagi kekuatan besar dunia, isu kemanusiaan sering kali kalah oleh kepentingan politik dan hegemoni kekuasaan.

Ironisnya, sebagian negara Muslim khususnya di kawasan Teluk, justru menjalin hubungan strategis dengan pihak-pihak yang selama ini terlibat dalam konflik tersebut. Alih-alih menjadi pelindung bagi rakyat Palestina, mereka terkesan mengambil posisi pragmatis yang tidak berpihak pada penderitaan saudara seiman. Realitas ini memperlihatkan adanya krisis kepemimpinan dan solidaritas di dunia Islam.

Padahal dalam Islam, ukhuwah bukanlah sekadar slogan, melainkan ikatan akidah yang kuat. Rasulullah ï·º bersabda bahwa kaum Muslimin itu bagaikan satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit tersebut.

Maka, penderitaan Gaza seharusnya menjadi penderitaan bersama seluruh umat Islam di dunia.
Al-Qur’an pun memberikan arahan yang jelas dalam membangun sikap terhadap sesama Muslim dan pihak yang memusuhi. Dalam Surah Al-Fath ayat 29, Allah SWT menggambarkan kaum mukmin sebagai orang-orang yang “bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.” Ayat ini menegaskan pentingnya solidaritas internal umat Islam serta ketegasan dalam menghadapi kezaliman.

Selain itu, dalam Surah At-Taubah ayat 123, Allah SWT memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad menghadapi pihak yang memusuhi mereka. Jihad dalam konteks ini bukan semata-mata perang fisik, tetapi juga mencakup berbagai upaya untuk membela kaum tertindas, memperjuangkan keadilan, dan menegakkan kebenaran.

Dalam Islam, penyelesaian atas tragedi Gaza tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan atau diplomasi internasional yang sering kali mandek. Diperlukan adanya kekuatan politik umat yang bersatu dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan kaum Muslimin.
Sebagian kalangan meyakini bahwa persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang kuat—yang sering disebut sebagai Khilafah ala minhaj an-nubuwwah—dapat menjadi solusi strategis untuk mengakhiri penindasan yang dialami oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina.

Namun demikian, yang paling mendesak saat ini adalah menghidupkan kembali kesadaran kolektif umat tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah. Umat Islam tidak boleh terpecah oleh sekat nasionalisme, kepentingan politik sempit, atau pengaruh asing yang melemahkan persatuan. Gaza adalah cermin bagi kita semua apakah kita masih memiliki kepedulian terhadap saudara seiman, atau justru telah terjebak dalam individualisme global.

Idul Fitri di Gaza adalah pengingat yang sangat kuat bahwa kemenangan sejati belum sepenuhnya diraih oleh umat Islam. Selama masih ada saudara kita yang tertindas, selama itu pula perjuangan belum selesai. Hari raya bukan hanya tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga tentang empati, solidaritas, dan komitmen untuk memperjuangkan keadilan.

Akhirnya, penderitaan Gaza seharusnya menggugah hati nurani umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan kesadaran politik, persatuan, dan aksi nyata sesuai kemampuan masing-masing. Sebab, sebagaimana diajarkan dalam Islam, umat ini adalah satu tubuh, dan hari ini Gaza sedang terluka.[] ZDS

Posting Komentar

0 Komentar